Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA mengikuti bedah buku Doughnut Economy karangan Kate Raworth secara daring akhir pekan lalu. Dua pembicara, Poppy Ismalina dan Fachru Novrian, keduanya dosen ekonomi, tampil membedahnya. Moderator diskusi bertajuk Aksi Literasi itu, Swary Utami, mengirimi saya buku elektroniknya.
Kate Raworth, ekonom lulusan Universitas Oxford, menulis ekonomi donat pada 2012. Gagasannya segera dianggap sebagai model ekonomi baru. Dianggap baru karena ekonomi donat berbeda dengan ekonomi klasik. Bila ekonomi klasik mengutamakan pertumbuhan, ekonomi donat mengedepankan kondisi sosial dan kelentingan ekologis, bukan cuma pertumbuhan.
Mari kita bayangkan bentuk donat. Pada donat terdapat tiga bagian, yakni dua lingkaran dan satu ruang yang terdapat di antara kedua lingkaran.
Lingkaran pertama yang berada di bagian dalam menggambarkan sumber daya memadai bagi manusia untuk memiliki kehidupan baik. Elemen dalam lingkaran dalam itu terdiri dari makanan, air bersih, tempat tinggal, sanitasi, energi, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan demokrasi.
Lingkaran kedua berada di bagian terluar donat. Lingkaran tersebut menggambarkan berbagai keterbatasan alami yang dipunyai bumi semisal potensi krisis perubahan iklim, polusi air, penipisan ozon, punahnya spesies, dan serangan-serangan lingkungan atau kesehatan.
Ruang yang terdapat di antara lingkaran dalam dan luar, yakni daging donat, ialah ruang aman secara ekologis dan adil secara sosial. Di ruang inilah umat manusia harus berjuang hidup. Ekonomi semestinya bertujuan membantu manusia menikmati daging donat, memberdayakan manusia memasuki ruang tengah, dan menetap di dalamnya. Inilah premis sentral ekonomi donat, bahwa aktivitas ekonomi seharusnya bertujuan memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan mempertimbangkan kelentingan daya dukung bumi.
Model ekonomi donat memungkinkan kita melihat secara komprehensif dan memahami posisi kita berada saat ini. Umat manusia dewasa ini relatif telah melampaui kedua lingkaran, baik dalam maupun luar. Tentu masih banyak di antara kita hidup di lingkaran dalam, tetapi aktivitas ekonomi sehari-hari telah membawa kita melampaui lingkaran terluar dan itu membahayakan kelestarian bumi. Pandemi covid-19 dan dampak ekonominya kiranya menunjukkan aktivitas ekonomi kita di lingkaran dalam telah membawa kita melampaui lingkaran luar.
Amsterdam, Ibu Kota Belanda, berkomitmen menerapkan ekonomi donat untuk memulihkan ekonominya pascapandemi. "Saya pikir ia (ekonomi donat) bisa membantu kami mengatasi dampak krisis (akibat pandemi covid-19)," kata Deputi Wali Kota Amsterdam Marieke van Doorninck seperti dilaporkan The Guardian, 8 April 2020. "Ini mungkin terlihat aneh kita membicarakan (ekonomi donat) satu periode (setelah munculnya gagasan ekonomi donat) tetapi sebagai pemerintah kita harus (menerapkannya). Itu (ekonomi donat) membantu kita tidak kembali terpuruk dalam mekanisme yang mudah," katanya lagi.
The Amsterdam City Doughnut menempatkan ekonomi donat sebagai visi jangka panjang dan menjadi dasar atas setiap pengambilan keputusan. Visinya ialah serupa premis sentral ekonomi donat, menjadi kota berkembang, beregenerasi, dan inklusif bagi seluruh warganya, dengan tetap memperhatikan limitasi planet bumi.
Untuk mewujudkan visi itu, Amsterdam telah meluncurkan Circular 2020-2025 Strategy, yang menitikberatkan aksi nyata untuk mengurangi separuh dari penggunaan bahan baku baru pada 2030. Pemerintah kota Amsterdam mengimplementasikan circular economy secara menyeluruh pada 2050.
Amsterdam memberlakukan penggunaan kembali (reusing) bahan baku untuk menghindari timbulnya limbah dan mengurangi emisi CO2.
Amsterdam juga memotong limbah makanan hingga 50% pada 2030, dari 41 kilogram limbah makanan per orang saat ini, yang surplusnya kelak dialihkan ke penduduk paling membutuhkan.
Ibu Kota Jakarta boleh bereksperimen menerapkan ekonomi donat untuk memulihkan ekonomi pascapandemi. Namun, kiranya lebih bagus dan lebih mudah bila kelak ibu kota baru di Kalimantan Timur menerapkan ekonomi donat. Bukankah membangun dan memperbaiki dari nol lebih mudah jika dibandingkan dengan memulihkan berbagai ketelanjuran?
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved