Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
WARTA duka itu menyeruak di tengah malam, Senin silam. Penyair dan aktivis kebudayaan Cirebon, Ahmad Syubanuddin Alwy, wafat.
Malam itu, sosok mungil, lincah, dan jenaka itu roboh. Stroke membuat raganya rapuh. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak.
Cita-citanya mendirikan perpustakaan untuk menyimpan sastra Indonesia belum terwujud.
Alwy memang bukan penyair yang namanya berkibar-kibar tinggi. Namun, saya tahu, sejak 1980-an dan 1990-an, sajak dan esainya tersebar di berbagai media lokal dan nasional, termasuk majalah sastra Horison dan Media Indonesia edisi Minggu.
Untuk rubrik sastra dan budaya harian ini, ia kerap memberi masukan. Kumpulan puisinya antara lain Bentangan Sunyi, diluncurkan pada 1996.
Selain itu, karya-karyanya termuat dalam beberapa antologi seperti Puisi Indonesia 1987, Titian Antar Bangsa (1988), Negeri Bayang-Bayang (1996) dan Cermin Alam (1997).
Pria kelahiran Cirebon, 26 Agustus 1962 itu sosok yang teguh menekuni sastra dan budaya, yang kering perhatian publik, dan kering pula materi.
Ia memilih kampung halamannya, Cirebon, sebagai tempatnya bermukim, berkarya, dan mendedikasikan seluruh 'miliknya'.
Masyarakat Cirebon menyebut Alwy 'kamus berjalan' atau 'kuncen' sastra dan budaya.
Latar belakangnya yang santri, kuliah di Fakultas Syariah IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pengetahuan sastranya yang memadai, daya kritis yang terus diasah, rasa humornya yang tak putus-putus, dan mudahnya ia menjalin komunikasi dengan pelbagai kalangan membuat Alwy jadi istimewa.
Tak banyak seniman yang dekat dengan politikus, birokrat, pesantren, dan aneka profesi.
Sastra bagi Alwy bukanlah ruang sempit hanya untuk golongan 'elite'. Ia harus didakwahkan kepada siapa saja, termasuk kalangan pesantren.
Dunia tempat Alwy asyik-masyuk di dalamnya, ia memahami kitab-kitab klasik, kitab kuning. Ia menggagas 'Koalisi Sastra Santri'.
Saya mengenal Alwy 1990-an, ketika saya menjadi redaktur sastra-budaya di harian ini. Mula-mula tentu lewat karyanya.
Saya pernah beberapa kali ke Cirebon dan waktu terasa menjadi sempit berbincang tentang sastra dengan Alwy, almarhum Tandy Skober, dan beberapa nama lain.
Ketika menginap di rumah saya, suatu pagi, 1990-an, dengan berkain sarung, ia naik tangga mengganti genting yang patah sambil membaca sajak.
Saya lupa, entah sajak siapa.
"Tenang aja, saya lagi menjalankan peran seorang tamu yang baik dan penyair yang tidak sombong," katanya seraya mengumbar tawanya yang sambung-menyambung ketika saya melongoknya.
Pada Pertemuan Sastrawan Nusantara 1997 di Kayu Tanam, Sumatra Barat, sewaktu rehat, saya menyaksikan Alwy hampir 'menghabisi' semua seniman, terutama yang senior.
Kritik-kritiknya tajam dibungkus dengan humor-humornya yang segar dan menggigit.
Tak ada 'perlawanan memadai'.
Ia mungkin 'ngetes' para seniornya, apakah masih tajam atau sudah majal.
Untuk mengenang sang penyair ini, saya ingin membacakan sepenggal sajaknya.
'Dalam matamu doa-doa kusembahyangkan. Ajal menderu, berkilatan menyileti jiwa.
O, dingin kehidupan memanggilku, jalan-jalan kematian bergerak sepanjang kota' (In the Transmission).
Kini 'ajal menderu' menjemputmu. Nanti, kepada siapa mereka harus bertanya....
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved