Populisme Agama Memicu Covid-19

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
04/5/2021 05:00
Populisme Agama Memicu Covid-19
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

POPULISME apa pun dan di mana pun kiranya gagal menanggulangi pandemi covid-19. Populisme malah memantik pandemi covid-19.

Salah satu ciri populisme ialah tak percaya pada sains. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Brasil Bolsonaro, dua pemimpin populis, menganggap covid-19 flu biasa. Trump bisa dikategorikan pemimpin populis sayap kanan, lebih spesifiknya pemimpin populis Kristen Evangelical.

Ketidakpercayaan populisme kepada sains itu memengaruhi kebijakan dalam menangani covid-19. Karena menganggapnya flu biasa, Trump dan Bolsonaro menangani pandemi covid-19 secara biasa-biasa pula. Amerika dan Brasil menjadi dua negara juara dalam jumlah warga negara yang terkena covid-19. Kedua kepala negara itu bahkan terkena covid-19.

Selain antisains, populisme bercirikan rasial. Thierry Baudet, pendiri Forum for Democracy (FFD), partai populis sayap kanan Belanda, menggaungkan dalam pidatonya 20 November 2020, covid-19 rekayasa George Soros. Pernyataan Baudet selain ungkapan ketidakpercayaan pada sains, bersifat rasial, anti-Semit atau anti-Yahudi. George Soros seorang Yahudi. Sikap pemimpin populis seperti ditunjukkan Baudet mengantarkan ke kebijakan yang berfokus pada politik, bukan pada kesehatan.

Malapetaka covid-19 sedang melanda India. Perdana Menteri India Narendra Modi dengan Bharatiya Janata Party (BJP) dikenal sebagai pemimpin yang memainkan populisme Hindu (Hinduism populism). BJP merupakan sayap politik Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), kelompok sayap kanan radikal partai nasionalis Hindu, yang opresif terhadap non-Hindu.

Bapak bangsa India, yakni Gandhi dan Nehru, menggaungkan identitas nasional inklusif. Namun, Modi dan BJP mencoba mengubah identitas nasional India dari yang bersifat inklusif itu menjadi identitas Hindu eksklusif. BJP mengeksploitasi sentimen keagamaan Hindu dengan menciptakan narasi besar sejarah India bahwa ide negara India ialah negara Hindu. Bersamaan dengan itu, BJP membangun narasi non-Hindu sebagai 'yang lain' (the others).

Bila Modi 'menindas' non-Hindu, sebagai pemimpin populis Hindu dia tentu saja memuliakan umat Hindu. Populisme Hindu sudah barang tentu memuliakan umat Hindu. Itu artinya populisme Hindu mengandung ciri rasial pula. Baru-baru ini Modi memuliakan kaum Hindu India secara politik dan religius.

Dalam hal agama, Modi mengizinkan ritual Kumbh Mela. Dalam ritual itu penganut Hindu beramai-ramai mandi di Sungai Gangga. Sebelumnya, pemimpin BJP memasang iklan di surat kabar yang mengampanyekan umat Hindu 'bersih' dan 'aman' menghadiri ritual tersebut. Ketidakpercayaan kepada sains yang menjadi salah satu ciri populisme muncul melalui iklan tersebut. Faktanya, ritual Kumbh Mela menjadi klaster penularan covid-19.

Dalam hal politik, Modi dan Menteri Dalam Negeri Amit Shah berkampanye untuk memenangkan BJP pada pilkada di lima negara bagian. Amit Shah semestinya berada di ibu kota negara untuk berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan dalam penanggulangan pandemi covid-19. Kampanye itu memunculkan kerumunan ribuan orang dan menjadi klaster penularan covid-19. Bandingkan dengan pilkada di Indonesia pada Desember 2020 yang tidak memunculkan klaster pilkada.

Dua peristiwa itu cukup untuk menyumbang gelombang kedua covid-19 di India. Sistem kesehatan di India ambruk, tak mampu mengendalikan laju pertambahan penderita covid-19. Banyak orang tewas karena tak tertangani oleh sistem kesehatan. Padahal, sejak Oktober 2020 hingga Maret 2021 angka covid-19 di India melandai setelah negara itu melakukan vaksinasi masif. Malapetaka covid-19 di India menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk tidak melonggarkan berbagai kegiatan meski sudah melakukan vaksinasi.

Di Indonesia di awal berjangkitnya covid-19 berlangsung pula populisme agama, terutama populisme Islam. Sejumlah pemuka agama mengatakan covid-19 bisa diatasi dengan doa. Banyak pemuka agama menolak kebijakan pemerintah untuk beribadah di rumah saja. Ciri populisme yang tidak percaya pada sains muncul di awal pandemi menjangkiti Indonesia.

Beruntung, pemerintah Indonesia terjaga dari tidur populismenya. Pemerintah serius menangani covid-19 dengan berbasiskan sains. Pemerintah melarang berbagai ritual atau tradisi keagamaan. Data menunjukkan sehabis libur perayaan hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri 1441 Hijriah (2020), Tahun Baru Islam, serta Natal dan Tahun Baru 2021, angka penderita covid-19 meningkat.

Pemerintah, misalnya, melarang ritual mudik Lebaran 2021. Itu menunjukkan pemerintahan Presiden Jokowi bukan pemerintahan yang memainkan populisme, apalagi populisme agama.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.