Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMBACA berita kontroversi vaksin Nusantara yang dikembangkan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto membuat saya harus membolak-balik ulang buku Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan yang ditulis sosiolog Ignas Kleden.
Di pengantarnya, Ignas menulis setiap pemikiran yang mencoba bergulat dengan persoalan sosial akan menghadapi suatu kesulitan tetap. Kesulitan tetap itu ialah pilihan untuk menjadi pemikiran yang secara intelektual cukup berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan dengan risiko terlambat memenuhi kebutuhan sosial, atau pilihan untuk menjadi relevan secara sosial pada waktu yang tepat dengan risiko pemikiran tersebut compang-camping secara intelektual.
Sebelum vaksin, terapi brain wash Terawan untuk melancarkan peredaran darah di kepala dengan alat digital subtraction angiography (DSA) telah mengundang kontroversi. Dalam istilah Ignas Kleden terjadi pertarungan antara relevansi intelektual dan relevansi sosialnya.
Secara intelektual, Ikatan Dokter Indonesia menyatakan terapi cuci otak Terawan belum teruji. DSA, menurut IDI, hanyalah alat diagnosis. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran pada April 2018 menetapkan Terawan melanggar kode etik dan mendapat sanksi pemecatan sementara.
Secara sosial, pasien merasakan manfaat dicuci otaknya oleh Terawan. Sejumlah nama besar, seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Prabowo Subianto, Abu Rizal Bakrie, Sudi Silalahi, Dahlan Iskan, merasakan manfaat terapi cuci otak Terawan.
Kini, giliran vaksin Nusantara Terawan yang mengundang dan mengandung kontroversi. Dalam bahasa Ignas Kleden, vaksin Terawan menghadapi pertarungan antara relevansi intelektual dan relevansi sosial.
Secara intelektual, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menyatakan 20 dari 28 relawan yang menjalani uji klinis fase 1 vaksin Terawan mengalami kejadian tidak diinginkan. Relawan mengalami antara lain nyeri lokal, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri kepala, penebalan, kemerahan, gatal, lemas, demam, batuk, dan pilek. Bahkan sejumlah relawan mengalami hipernatremi, peningkatan blood urea nitrogen, dan peningkatan kolesterol.
Secara sosial, mereka yang merasakan manfaat terapi cuci otak Terawan berpikiran vaksin Terawan punya relevansi sosial. Abu Rizal Bakrie, Dahlan Iskan, dan sejumlah banyak anggota DPR diambil sampel darah mereka untuk uji klinis fase kedua. Sampel darah itu diolah selama tujuh hari menjadi vaksin lalu disuntikkan ke tubuh tujuh hari kemudian. Terawan mengklaim vaksinnya relevan alias mujarab mencegah virus seumur hidup.
Di tengah ancaman embargo vaksin oleh negara-negara pembuat vaksin, keberadaan vaksin Nusantara, juga vaksin Merah Putih, kiranya menjadi lebih relevan secara sosial bila kedua vaksin bisa segera diadakan. Akan tetapi, Badan POM menyebutkan komponen utama, seperti antigen, hingga alat-alat untuk membuat vaksin Terawan harus diimpor dari Amerika. Ini menyebabkan pengembangannya membutuhkan waktu dua sampai lima tahun. Kita kiranya tidak punya waktu sebegitu lama karena kebutuhan vaksin untuk membentuk imunitas masyarakat kita sangat mendesak.
Pada titik ini, meminjam istilah Ignas Kleden, kita dihadapkan pada kesulitan tetap, yakni memilih relevansi intelektual atau relevansi sosial. Kita dihadapkan pada pilihan menunggu vaksin Terawan lolos uji klinis yang secara ilmiah berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan dengan risiko terlambat memenuhi kebutuhan sosial atau segera menggunakannya untuk kebutuhan sosial mendesak, tetapi compang-camping secara ilmiah alias mengakibatkan kejadian tak diinginkan?
Kita idealnya mendamaikan relevansi intelektual dan relevansi sosial. Negara semestinya memfasilitasi pengujian vaksin Terawan secara intelektual supaya ia bisa segera digunakan untuk mendatangkan relevansi atau manfaat sosial. Ini kiranya tugas Badan POM.
Akan tetapi, Badan POM harus patuh pada prosedur ilmiah uji klinis vaksin. Badan POM, misalnya, tempo hari tidak bisa memenuhi permintaan presiden untuk mempercepat uji klinis vaksin Sinovac supaya bisa segera digunakan. RSPAD Gatot Soebroto kiranya yang memfasilitasi uji klinis vaksin Terawan.
Pada akhirnya gagasan intelektual yang diterima secara luas ialah yang paling siap memenuhi kebutuhan sosial. Mereka yang menerima gagasan vaksin Terawan yang akan menggunakannya untuk mendatangkan manfaat sosial bagi mereka dengan segala risiko medisnya. Sebagian besar masyarakat kiranya menerima gagasan vaksin yang telah melewati uji klinis dan menggunakannya untuk mendatangkan manfaat sosial bagi mereka meski mereka harus bersabar menunggu giliran.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved