Pungutan Ibu Susi

29/10/2015 00:00
Pungutan Ibu Susi
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SATU-SATUNYA menteri paling menawan publik ialah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Ia bergerak lincah, berbicara ceplas-ceplos, spontan meminta maaf bila ada yang tak patut menurut penilaian publik. Contoh, kebiasaannya merokok.

Sejak kementerian kelautan dan perikanan didirikan di zaman pemerintahan Gus Dur, baru Menteri Susi di zaman Presiden Jokowi bertindak radikal terhadap kapal pencuri ikan di perairan Indonesia. Tak banyak cingcong dan argumentasi, tanpa proses pengadilan, ia menenggelamkannya. Habis perkara. Dalam bahasanya sendiri, "Saya berharap eksekusi jangan berbulan-bulan. Datang, tangkap, periksa di lapangan tanpa proses pengadilan, amankan ABK, laksanakan penenggelaman," ujar Ibu Susi di Kantor Satker Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Batam, Selasa (20/10).

Tindakan itu dinilai banyak kalangan heroik. Tindakan itu menyelamatkan pendapatan negara yang lenyap akibat illegal fishing. Menteri Susi tidak saja menjadi media darling, tapi kekasih publik. Bahkan, Kepala BNN yang baru, Komjen Budi Waseso ingin menirunya, menenggelamkan kapal pembawa narkoba.

Dengan menilik kelincahan dan keberaniannya, saya tak percaya bahwa ia enggan berdialog dengan pelaku usaha perikanan nasional, khususnya perikanan tangkap, perihal kebijakan pemerintah menaikkan tarif pungutan hasil perikanan (PHP) yang merupakan bagian dari penerimaan bukan pajak. Mengapa harus berdialog? Karena pemerintah tak kira-kira menaikkan PHP terhadap kapal penangkap ikan dan/atau kapal pendukung operasi penangkapan ikan yang baru atau perpanjangan izin kapal.

Bayangkanlah, PHP usaha perikanan tangkap ikan skala kecil naik lebih tiga kali lipat dari 1,5% menjadi 5%. Yang paling mengejutkan pemerintah menaikkan PHP untuk usaha skala besar 10 kali lipat, dari 2,5% menjadi 25%. Sebuah lonjakan tarif tergolong 'gila-gilaan'.

Penaikan tarif itu berdasarkan PP Nomor 75 Tahun 2015, yang diterbitkan 7 Oktober 2015, berlaku efektif 7 Desember. Di situ diatur PHP dihitung berdasarkan produktivitas kapal, harga patokan ikan, dan ukuran kapal. PHP tidak pernah naik sejak kementerian kelautan dan perikanan berdiri. Karena peraturan itu diproduksi di zaman menteri Ibu Susi, maaf, agar seksi, saya sebut saja 'pungutan Ibu Susi'.

Penaikan tarif itu dikritik dapat melumpuhkan pengusaha nasional. Penilaian itu sangat kontradiktif. Bukankah penenggelaman kapal asing ilegal menunjukkan heroisme Ibu Susi, sebagai nasionalis sejati? Tapi faktanya kini muncul 'gugatan' pengusaha nasional, yaitu di atas seluruh heroisme itu, siapakah sesungguhnya yang hendak diselamatkan Ibu Menteri dengan PP Nomor 75 Tahun 2015, yang mencekik pengusaha anak bangsa sendiri?

Pengusaha nasional menjerit karena mereka diberondong tiga pungutan bukan pajak, yaitu PHP yang naik, retribusi daerah untuk ikan yang didaratkan sebesar 5% dari hasil lelang, serta pajak bumi dan bangunan perikanan tangkap. Tak hanya rumah terkena PBB, kapal tangkap ikan pun bayar PBB.

Sekali lagi, saya tak percaya Ibu Susi enggan berdialog dengan pengusaha nasional yang tergabung dalam berbagai asosiasi. Sejauh muncul ke permukaan, yang dipersoalkan bukan pembayaran PHP di muka atau di belakang, melainkan penaikan tarif yang tak kira-kira. Sepatutnya Ibu Susi mendengarkan mereka, bahkan menjadikannya masukan untuk menyempurnakan keputusan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.