Anies dan Banjir Lagi

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
24/2/2021 05:00
Anies dan Banjir Lagi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(Dok.MI/Ebet)

SAYA tidak meragukan pengetahuan Gubernur Jakarta Anies Baswedan atas kaidah fikih al-muhafadzah alal-qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah. Kaidah tersebut bermakna 'melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik'.

Saya juga berbaik sangka bahwa Gubernur Anies sudah berusaha sekuat tenaga menerapkan kaidah tersebut dalam mengatasi bencana banjir yang saban tahun menyambangi Ibu Kota. Perkara hasilnya masih jauh panggang dari api, kiranya butuh sesi khusus (bahkan mungkin webinar beberapa kali) untuk menelaah musabab kaidah tersebut susah diterapkan di Jakarta.

Boleh jadi Pak Gubernur belum menemukan 'nilai-nilai lama yang baik' sehingga tidak ada yang layak diambil atau diteruskan. Atau, jangan-jangan dia telanjur mendapati 'nilai-nilai baru yang jauh lebih baik' untuk digunakan. Namun, yang jelas, banjir masih terjadi. Hal-hal baru yang barangkali diyakini jauh lebih baik itu masih majal di lapangan bila hujan, khususnya di hulu, sangat deras dengan durasi berjam-jam.

Kapasitas saluran air sudah mentok: 100 milimeter per detik. Hujan yang datang di hulu dan hilir, kerap turun dengan intensitas tiga kali lipat kapasitas drainase Jakarta, yakni hingga lebih dari 300 milimeter per detik. Maka, air meluber menggenangi rumah-rumah, jalan raya, ataupun jalan masuk kompleks, kantor, toko, apatah lagi tempat parkir bawah tanah.

Ide Pak Gubernur Anies untuk 'menaturalisasi' sungai-sungai yang melintasi Ibu Kota belum terbukti lebih baik ketimbang pengerukan, penanggulan, dan pelebaran kali-kali yang masyhur disebut 'normalisasi'. Naturalisasi berarti membuat sungai-sungai menjadi alami dengan menanami pohon-pohon di kanan kirinya. Jika air dari hulu datang, tidak bakal menggenangi daratan, tetapi diserap ke bumi karena ada pohon-pohon tersebut.

Masalahnya, untuk sampai pada kemampuan bumi dan pohon Jakarta secara efektif menyerap air, butuh waktu yang amat panjang. Itu pun dengan syarat dan ketentuan berlaku: pembebasan lahan dan pengerjaan yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif plus ada 'kesabaran revolusioner' warga Jakarta untuk mengikhlaskan tempat tinggal mereka disambangi banjir saban tahun.

Apalagi, kemampuan bumi Jakarta untuk menyerap air kurang dari 18% (idealnya 70%) karena 'hutan beton' sudah telanjur lebat. Ruang terbuka hijau pun hanya tersedia 9,9%, alias cuma memenuhi sepertiga dari total kebutuhan ruang terbuka hijau minimal 30%.

Fakta-fakta tersebut kian memperkuat argumen bahwa tampaknya Jakarta harus total 'melestarikan nilai-nilai lama yang baik'. Itu artinya, program normalisasi kali yang oleh pendahulu Anies ditargetkan mencapai sepanjang 33,6 kilometer (saat ini baru tercapai sekitar 16 kilometer) harus segera dituntaskan. Pun pula, program pembuatan bendungan atau situ-situ yang dirintis oleh Gubernur Jokowi dan diteruskan Gubernur Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama, sangat layak dilanjutkan.

Alhamdulillah, walaupun masih agak 'malu-malu', jalan menuju penuntasan normalisasi sudah dimulai. Setidaknya sudah ada kesepakatan antara Pemprov DKI dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk berbagi pekerjaan normalisasi kali-kali yang melintasi Ibu Kota tersebut. Yang diperlukan kali ini ialah keberanian secara terbuka untuk 'melestarikan hal-hal lama yang baik' secara murni dan konsekuen.

Baik Jokowi maupun Ahok tentu sudah melakukan kajian mendalam dan mencontoh praktik terbaik penanganan banjir di negara lain sebelum memutuskan menjalankan normalisasi tersebut. Praktik serupa terbukti sukses membuat Belanda terbebas dari banjir kendati sebagian besar daratan ‘Negeri Kincir Angin’ tersebut berada di bawah permukaan laut.

Nama asli Belanda ialah Koninkrijk der Nederlande yang berarti ‘negeri berdaratan rendah’. Itu karena sekitar 60% dari negara Belanda terletak di bawah permukaan laut. Permukaan tertinggi terdapat di Vaalsberg dengan ketinggian 321 mdpl (meter di atas permukaan laut), sedangkan permukaan terendah ialah Nieuwerker aan den IJssel yang berada 6,76 meter di bawah permukaan laut. Selain itu, sebagian wilayah Belanda yang sangat datar akan memperlambat aliran air ke laut.

Toh, Belanda bisa bebas banjir. Kesadaran posisi tersebut membuat para ahli di Belanda memutar otak. Lahirlah temuan membangun sejumlah bendungan, termasuk Bendungan Oosterschelde yang merupakan bendungan canggih sepanjang 9 km dan memiliki pintu air yang bisa menutup jika air pasang dan banjir datang. Sistem polder juga digunakan pemerintah Belanda untuk menghadang banjir serta mengontrol ketinggian air.

Polder merupakan sebidang tanah yang rendah, dikelilingi oleh tanggul yang membentuk semacam kesatuan hidrologis buatan. Ini artinya tak ada kontak dengan air dari daerah luar, selain yang dialirkan melalui perangkat manual ke tempat tersebut. Air buangan seperti air hujan di kumpulkan ke area polder ini, dan dipompa ke sungai atau kanal yang langsung bermuara ke laut.

Ide tersebut dipraktikkan Belanda di Batavia (Jakarta tempo dulu) dengan membuat Kanal Banjir Barat (KBB). Warisan baik Belanda itu pula yang melahirkan ide pembuatan Kanal Banjir Timur (KBT) serta diteruskan di era Jokowi dan Ahok dengan pembuatan situ dan bendungan di Jakarta.

Tunggu apa lagi, masih banyak 'nilai lama yang baik' yang layak diteruskan sembari menggali 'hal-hal baru yang lebih baik' dengan cara lebih matang. Publik Jakarta butuh banjir segera diakhiri, bukan merawat gengsi dengan meyakini caranya sendiri, tapi akhirnya tak kunjung menghadirkan bukti.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.