Impor Ilegal

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
15/10/2015 00:00
Impor Ilegal
(Grafis Seno)
PRESIDEN Jokowi cepat tanggap atas keluhan kalangan industri pertekstilan perihal impor ilegal. Ketika Senin (12/10) lalu membuka rapat terbatas mengenai perdagangan dan impor ilegal di Kantor Presiden, Jakarta, Jokowi rinci membeberkan kongkalikong yang dilakukan aparatur negara untuk meloloskan impor. "Untuk memudahkan transaksi yang ada, aparat meminta harga borongan per kontainer. Satu kontainer benang impor dikenai pungutan tidak resmi sekitar Rp120 juta, produk kain bisa sampai Rp150 juta, dan pakaian jadi sekitar Rp200 juta per kontainer. Elektronik tentu saja lebih mahal," kata Jokowi seperti diberitakan Media Indonesia (13/10).

Sepekan sebelumnya (Rabu, 7/10), seusai bertemu Presiden, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengatakan akibat impor ilegal, dalam lima tahun, pangsa pasar industri tekstil di dalam negeri tinggal 30,9% dari 60% pada 2010. Bila dibiarkan, industri tekstil dalam negeri bisa gulung tikar. Demikianlah, negara harus berupaya agar pangsa pasar tekstil dalam negeri kembali dikuasai. Tekstil lokal menjadi tuan di rumah sendiri. Untuk itu, tidak bisa lain negara harus menghabisi impor ilegal. Bukan pernyataan baru, bukan pula tekad baru.

Akan tetapi, kenapa impor ilegal langgeng lestari? Harus diakui, tidak mudah menghabisi oknum Bea Cukai, penyalah guna wewenang, sekalipun mereka aparatur sipil. Sama sulitnya menghabisi oknum bersenjata, pelindung penyelundupan. Terlebih, kalau oknum sipil dan militer itu bekerja sama meloloskan impor ilegal, siapa bisa menghabisinya? Bukan hanya oknum penyalah guna wewenang menjadi persoalan besar bangsa ini.

Juga masalah besar, di negeri ini terlalu banyak pelabuhan, pintu masuk impor ilegal/penyelundupan. Diperkirakan, seluruhnya ada 141 pelabuhan. Contohnya, di Batam ada 46 pelabuhan, padahal hanya butuh dua pelabuhan ekspor-impor. Pernah terjadi di Batam, dalam setahun Bea Cukai menahan 170 kontainer yang gagal diselundupkan. Tujuh tahun silam, Menteri Keuangan Sri Mulyani mencanangkan penutupan pelabuhan ilegal, membatasi jumlah pelabuhan internasional, serta berencana membangun pelabuhan khusus untuk komoditas andalan seperti elektronik dan tekstil.

"Untuk mengamankan impor, saya minta komoditas tertentu disentralisasikan ke beberapa pelabuhan saja. Umpamanya, tekstil hanya bisa masuk ke beberapa port. Di luar itu kita tidak layani," kata Sri Mulyani. Jika ada tekstil masuk ke pelabuhan lain, petugas Bea Cukai akan mengasumsikan kemungkinan ilegal. "Itu untuk menyederhanakan pengawasan kita." Semua itu disampaikan Sri Mulyani seusai Rakornas Ditjen Bea Cukai bertema Antisipasi dampak krisis ekonomi global melalui peningkatan pelayanan dan pengawasan DJBC di Jakarta, Rabu, 22 Oktober 2008. Sejujurnya, saya tidak tahu, apakah semua gagasan itu telah diwujudkan. Namun, kiranya tidak mengada-ada menengarai, seperti gagasan bagus lain, biasanya menguap begitu saja seiring dengan bergantinya kekuasaan.

Hemat saya, ada baiknya Presiden Jokowi menimbang ulang gagasan itu dan mewujudkannya bila masih urgen dan relevan. Yang juga perlu ditilik ulang urgensi dan relevansi permintaan Asosiasi Perusahaan Jalur Prioritas (APJP) beberapa tahun lalu agar pemerintah memberi eksportir jalur prioritas di pelabuhan. Negara ini cenderung memberi kemudahan bagi importir seakan melupakan eksportir penghasil devisa. Bila importir diberi jalur prioritas, mengapa eksportir tidak? Daripada sibuk 'mengepret' Wakil Presiden Jusuf Kalla dan membongkar beton di Tanjung Priok, lebih baik Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli fokus membantu Presiden Jokowi menjawab dan menyelesaikan semua perkara tersebut.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima