Film G-30-S/PKI versus Drakor

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
29/9/2020 05:00
Film G-30-S/PKI versus Drakor
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA orang di setiap waktu dan setiap negeri, kata Robert Kennedy, yang ingin menghentikan sejarah di jalurnya. Mereka yang hendak menghentikannya kiranya hendak memaksa orang percaya pada satu versi sejarah. Mereka memanipulasi dan mengeksploitasi satu versi sejarah seolah ia kebenaran tunggal, kebenaran mutlak. Otoritarianisme kiranya yang hendak menghentikan sejarah di jalurnya itu.

Orde Baru selama berkuasa menghentikan jalur sejarah pada keterlibatan Partai Komunis Indonesia pada Gerakan 30 September 1965.Otoritarianisme Orde Baru memanipulasi dan mengeksploitasi keterlibatan PKI antara lain melalui film Pengkhianatan G-30-S/PKI.

Orde Baru mewajibkan film itu diputar setiap 30 September. Tujuannya apalagi kalau bukan supaya tertanam dalam benak rakyat bahwa PKI berkhianat dan melancarkan kudeta terhadap Presiden Soekarno. Pada saat bersamaan, film itu juga hendak menancapkan heroisme Jenderal Soeharto dalam kepala kita.

Ada unsur propaganda dalam film Pengkhianatan G-30-S/PKI itu. Propaganda heroisme Letkol Soeharto juga beroperasi dalam film Enam Djam di Jogja, Janur Kuning, dan Serangan Fajar. Ketiga film itu berkisah Serangan Umum 1 Maret 1949. Ketiga film itu mempropagandakan Letkol Soeharto-lah yang mencetuskan serangan itu. Enam Djam di Jogja, Janur Kuning, dan Serangan Fajar, juga Pengkhianatan G-30-S/PKI kiranya bukan cuma hendak mengukuhkan kekuasaan Presiden Soeharto, melainkan juga militer dan Orde Baru.

Film kiranya kenyataan yang di tangan sutradara menjadi rekaan. Kenyataan ditulis menjadi sejarah, dan sejarah, kata budayawan Goenawan Mohamad, terdiri dari penemuan-penemuan separuh benar atau separuh salah hingga kemajuan terjadi.

Upaya Orde Baru menghentikan sejarah di jalur sekehendak hatinya juga berhenti bersamaan dengan tumbangnya kekuasaannya di awal reformasi. Muncul banyak jalur sejarah Serangan Umum 1 Maret dan Gerakan 30 September.

Kolonel Abdul Latief, misalnya, dalam buku Kesaksian tentang G30S mengatakan bukan Letkol Soeharto yang menggagas dan memimpin Serangan Umum 1 Maret. Latief yang berpangkat kapten mengisahkan Letkol Soeharto makan soto babat ketika serangan umum berlangsung. Kata Kolonel Latif yang dipenjara atas tuduhan terlibat G-30-S/PKI, film Janur Kuning banyak bohongnya. Kita yang menontonnya dibohongi.

Kesaksian Kolonel Latief, meminjam Goenawan Mohamad, mungkin penemuan separuh benar atau separuh salah hingga tercapai kemajuan. Akan tetapi, cerita Latief kiranya menyediakan alternatif lain dalam sejarah serangan umum supaya tercapai kemajuan sejarah bangsa.

Muncul banyak versi tentang G-30-S/PKI. Versi-versi itu cenderung mengaburkan keterlibatan PKI sebagai organisasi atau partai politik. Keterlibatan PKI masih misteri. Haji Salim Said dalam buku Gestapu, misalnya, lebih menunjuk peran atau keterlibatan tokoh-tokoh individu PKI ketimbang PKI sebagai organisasi. 

Tesis Salim Said, masih meminjam Goenawan, juga penemuan yang mungkin separuh benar atau separuh salah, tetapi mendorong kemajuan sejarah bangsa. Kemajuan itu, misalnya, terciptanya rekonsiliasi di antara anak-anak para jenderal dan anak-anak tokoh PKI. Toh, bila orangtua komunis, anak tidak otomatis komunis.

Celakanya, masih ada saja orang yang hendak menghentikan sejarah G-30-S/PKI pada jalur Orde Baru. Dia bekas Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Jenderal Gatot sejak 2017 gemar mendorong pemutaran film Pengkhiatan G-30-S/PKI, supaya bangsa ini tetap waspada pada bahaya komunisme, katanya.

Jenderal Gatot kiranya menolak kemajuan sejarah dan peradaban bangsa. Alih-alih menghendaki kemajuan sejarah berupa rekonsiliasi, Jenderal Gatot seperti hendak membenturkan komunisme dan Islam. Dalam suratnya kepada Presiden Jokowi pada 24 September 2020, dia mengatakan pada pemberontakan 1948, PKI menjadikan ulama dan santri sebagai sasaran. Namun, Gatot tidak menyebut pasca-Gestapu, umat Islam dan tentara yang menjadikan orang-orang yang dituduh PKI sebagai sasaran kekerasan dan pembunuhan.

Itu semua terjadi karena ambisi politik Gatot menuju 2024, tahun pemilu. Kata sejumlah orang, Jenderal Gatot caper alias cari perhatian menuju 2024. Sejumlah lainnya menyebut Gatot halu alias berhalusinasi dengan bahaya ideologi komunis.

Serupa kita dibohongi film Janur Kuning, kita pun dibohongi film Pengkhianatan G-30-S/PKI. Film Pengkhianatan G-30-S/PKI membohongi kita antara lain dengan adegan sejumlah perempuan anggota Gerwani, organisasi perempuan yang katanya berafiliasi ke PKI, menyayat kelamin para jenderal. Tim autopsi tidak menemukan sama sekali luka bekas sayatan pada kelamin para jenderal.

Teman saya Syah Sabur di laman Facebook-nya iseng membuat semacam jajak pendapat. Pertanyaannya kira-kira, “Kepengin nonton film Pengkhianatan G-30-S/PKI atau drakor alias drama Korea?”. Banyak yang menjawab drama Korea. Mereka kiranya emoh dikhianati film Pengkhianatan G-30-S/PKI.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.