Lalat juga Punya Limpa

Saur Hutabarat
05/3/2015 00:00
Lalat juga Punya Limpa
(Dok.MI)
BILA kemenangan tertunda terlalu lama, semangat dan moral pasukan akan menurun. Itulah salah satu nasihat Jenderal Sun Tzu, ahli strategi perang di zaman Tiongkok klasik.

Kemenangan tertunda terlalu lama itu menimpa elite Golkar dan PPP. Tertunda, kubu siapakah menang perang internal menjadi ketua umum definitif-de jure? Padahal, perang eksternal, pilkada serentak, menanti di depan hidung.

Jika mengikuti nasihat Sun Tzu, masuk akal bila semangat dan moral pasukan kedua partai itu, baik pasukan kepala daerah petahana maupun pasukan bakal calon baru, bisa menurun. Mereka siap bertempur, tapi pucuk pimpinan di markas besar justru tengah bersengketa.

Ujung perang memang cuma menang atau kalah. Bila kalah, semangat dan moral pasukan roboh. Akan tetapi, kemenangan tertunda terlalu lama bikin galau, bahkan bisa lebih menyakitkan.

Kemenangan membutuhkan kepastian. Biasanya langsung disertai pesta kemenangan. Kemenangan tertunda terlalu lama menggerogoti suasana kebatinan, antara lain karena euforia tak tersalurkan. Semacam libido terputuskan. Akhirnya, menggerus semangat dan moral pasukan.

Karena itu, tak aneh bila muncul seruan agar yang kalah legawa. Contohnya, Wakil Ketua Umum Partai Golkar kubu Agung Laksono, Priyo Budi Santoso, meminta Aburizal Bakrie dan pendukungnya legawa menerima putusan Mahkamah Partai Golkar yang memenangkan mereka. Katanya, keputusan mahkamah itu harus dihormati semua pihak.

Contoh lain, setelah menang di PTUN, mantan Ketua Umum PPP Suryadharma Ali mengharapkan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly agar tak banding. Menteri yang memenangkan kubu Romahurmuziy agar berlapang dada menerima keputusan PTUN.

Suryadharma Ali sebagaimana dikutip dari media massa mengatakan, ''Saya mengetuk kemuliaan hati seorang Laoly....''

Politik ialah seni membujuk. Adapun hukum ialah seni beperkara atas nama keadilan para pihak. Kata Laoly, ''Prinsipnya, kita harus membela keputusan kita.''

Itu artinya, Menteri Hukum dan HAM memilih lapang dada, legawa bila telah sampai pada keputusan berkekuatan hukum tetap.

Legawa, lapang dada, jiwa besar, merupakan kualitas langka. Kualitas hebat itu tak bisa tegak sendirian tanpa pihak lain. Tak ada legawa kalau yang menang jemawa. Dalam istilah Jawa, 'menang tanpa ngasorake', menang tanpa merendahkan.

Mengimbau-imbau yang kalah agar legawa bisa dirasakan bentuk lain jemawa, merendahkan. Sikap itu berbahaya, dapat memacu perang berkepanjangan. Kata pepatah Latin, lalat juga punya limpa. <>Habet et musca splenem. Orang yang paling hina pun mempunyai perasaan. Apalagi elite partai, pernah menteri pula, sekalipun kalah jadi ketua umum.

Pahit mengatakan legawa tak berkaitan dengan jam terbang. Tidak dengan sendirinya pemimpin di level nasional, telah makan asam garam, memiliki beautiful mind. Tak jarang pemimpin berdada sempit, berhati keruh, sesempit dan sekeruh kepentingan.

Lalat juga punya limpa. Jangan-jangan lalat juga punya legawa.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima