Haji Agus Salim Belajar Jarak Jauh

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
25/7/2020 05:00
Haji Agus Salim Belajar Jarak Jauh
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

HAJI Agus Salim semasa kecil bersekolah di Europeesche Lagere School. Pahlawan nasional itu bisa belajar di sekolah khusus anak-anak Eropa di Hindia Belanda tersebut lantaran ayahnya pegawai pemerintah. Agus Salim dikenal cerdas di sekolah. Ia doyan berdebat dan berpikir kritis. Bahasa Belandanya bagus. Pun ia cakap dalam pelajaran sejarah dan berhitung.

Orang menganggap Agus Salim anak istimewa karena pintar tanpa belajar. Dia sehari-hari sering terlihat bermain, menonton bioskop, atau piknik bersama teman-teman bulenya. Di rumah dia lebih sering terlihat mengerjakan tugas rumah.

Tidak banyak yang tahu setiap siang setelah makan Agus Salim mengendap naik ke loteng rumah. Di sana dia menekuni pelajaran yang baru diperoleh di sekolah sekaligus mempersiapkan pelajaran esok harinya. Karena di loteng gelap, dia harus membuka beberapa genting agar cahaya masuk.

Beberapa hari lalu media memuat foto mahasiswa, pelajar SMK, dan siswa SMP yang belajar di tepi jalan. Mereka berbuat begitu demi mendapatkan sinyal internet supaya bisa belajar daring. Di rumah mereka tidak ada sinyal internet.

Saya terharu melihat foto itu. Terharu karena mereka pantang menyerah mendapatkan sinyal internet demi belajar daring. Mereka serupa Agus Salim yang pantang menyerah mengendap-endap ke loteng supaya bisa tenang belajar. Bila mahasiswa, pelajar, siswa, atau murid dewasa ini pantang menyerah mencari sinyal internet, Agus Salim dulu pantang menyerah mencari cahaya di loteng rumahnya.

Namun, tak sedikit yang mengkritik proses belajar daring. Mereka mengatakan jaringan internet di Indonesia belum merata. Celakanya mereka yang kerap mengeluhkan ketiadaan internet atau kuota internet itu terlihat selalu eksis di media sosial.

Belajar daring sesungguhnya hanyalah salah satu metode pembelajaran jarak jauh. Metode lainnya ialah melalui televisi atau radio. Metode lainnya lagi guru mendatangi sekelompok siswa hari ini, lalu mendatangi kelompok lainnya di hari lain. Kita tentu bisa mengkreasikan metode-metode lain untuk pembelajaran jarak jauh.

Ketersediaan berbagai metode belajar jarak jauh semestinya tidak membuat kita bergantung pada satu metode. Bila jaringan internet tidak tersedia di satu tempat, kita bisa ke tempat lain di sekitar kita yang ada jaringan internetnya, seperti yang dilakukan mahasiswa, pelajar, dan siswa tadi. Namun, bila di tempat kita dan sekitarnya tak tersedia jaringan internet sama sekali, kita bisa menggunakan metode lain.

Tentu saja dalam waktu yang tidak terlalu lama pemerintah semestinya menyediakan jaringan internet secara merata. Apalagi, metode pembelajaran daring kiranya bakal berlangsung lama, bahkan mungkin bakal permanen, setidaknya menjadi tren. Sejumlah lembaga pendidikan ternama di dunia dan Indonesia menyelenggarakan massive open online course (MOOC).

Kembali ke Haji Agus Salim, dia punya delapan anak. Dia tidak mengirim anak-anaknya ke sekolah formal, kecuali si bungsu. Dia mengajar segala mata pelajaran kepada anak-anaknya di rumah. Tidak ada kelas, tidak ada jam pelajaran mengikat. Agus Salim beralasan pendidikan saat itu ialah sistem pendidikan kolonial. Anak bungsunya dimasukkan ke sekolah formal setelah Indonesia merdeka.

Apa pun alasannya, Agus Salim kiranya melakoni apa yang kini disebut home schooling. Dalam konteks pandemi covid-19 ini, dia melakoni belajar dari rumah yang menjadi salah satu metode pembelajaran jarak jauh. Bila Agus Salim melakoni pembelajaran di rumah karena pandemi kolonialisme, kita menjalaninya karena pandemi korona.

Namun, orangtua kerap mengeluhkan proses belajar dari rumah. Mereka kerepotan membantu anak-anaknya belajar di rumah. Mungkin karena selama ini orangtua memercayakan pendidikan anaknya kepada sekolah formal dan tahunya terima beres.

Kita mengeluhkan pembelajaran jarak jauh tidak efektif, tetapi pembelajaran jarak jauh justru membuat Agus Salim pintar. Kita mengenalnya sebagai diplomat ulung yang menguasai sejumlah bahasa. Ia belajar dan menguasai berbagai bahasa secara autodidak, bukan melalui pendidikan formal.

Efektif atau tidak, proses pembelajaran bergantung pada kerja keras dan kreativitas kita. Kerja keras dan kreativitas mensyaratkan ketidaktergantungan pada satu hal. Betul Kemendikbud semestinya memberi panduan, tetapi kita tidak boleh bergantung padanya. Panduan pembelajaran tetap membutuhkan kerja keras dan kreativitas supaya ia efektif. Kalaupun tak ada panduan dari Kemendikbud, kita tak boleh menyerah, tetap bekerja keras dan kreatif menciptakan metode belajar efektif.

Hanya dengan kreativitas, kerja keras, dan kemandirian dalam dunia pendidikan, kita bisa menghasilkan manusia Indonesia unggul. Haji Agus Salim telah membuktikan itu.

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.