Data Ekonomi

28/9/2015 00:00
Data Ekonomi
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

MEMBURUKNYA perekonomian telah mendorong terbitnya keraguan pada kebenaran data ekonomi. Itulah yang terjadi atas data ekonomi Tiongkok. Seperti halnya banyak barang palsu diproduksi di Tiongkok, demikian pulalah data ekonominya dicurigai hasil pabrikasi.

Kepalsuan fundamen ekonomi itu antara lain ditengarai menyulitkan pengambilan keputusan, termasuk penaikan suku bunga The Fed, bank sentral AS.

Koran terkemuka Financial Times (17/9) menurunkan artikel bertajuk China's Economic Facts and Fakes Can be Hard to Tell Apart, gamblang menunjukkan ihwal fakta dan kepalsuan data ekonomi Tiongkok. Dikutip dalam tulisan itu kajian Harry Wu, ekonom dari The Conference Board, lembaga riset independen, selama 1978-2012 pertumbuhan ekonomi Tiongkok hanya 7,2% per tahun, 2,6% di bawah pertumbuhan resmi 9,8%. Bahkan pada 2008 pertumbuhan hanya 4,7%, sedangkan resmi 9,6%. Pada 2012 lebih parah lagi, cuma 4,1% berbanding pertumbuhan resmi 9,7%.

Tiongkok dinilai membengkakkan pertumbuhan produktivitas dan mengempiskan inflasi. Daripada memercayai angka GDP, lebih baik memercayai volume berbagai kegiatan ekonomi seperti pengapalan barang, kargo kereta api, pemakaian listrik, penjualan properti, dan jumlah warga bepergian ke luar negeri. Berdasarkan semua itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok cuma 4,3%, jauh di bawah estimasi resmi 7%.

Contoh lain, media Jepang Nikkei Asian Review (2/9) meragukan cadangan devisa Tiongkok, apakah benar segendut US$3,6 triliun. Selama dua pekan pada pertengahan Agustus lalu saja The People's Bank of China (PBOC), bank sentral Tiongkok, telah menjual US$106 miliar.

Pertama kali Tiongkok mendevaluasi renminbi 11 Agustus 2015 dan pertama kali pula dalam sejarah, November 2014 hingga Agustus 2015, bank sentral Tiongkok telah lima kali menurunkan suku bunga. Ada yang berpandangan, dengan asumsi 65% cadangan devisa dalam dolar AS dan utang mencapai US$1,5 triliun, cadangan devisa Tiongkok tidak cukup mampu mengatasi gejolak nilai tukar bila kian memburuk. Berapa sebenarnya, persisnya, cadangan devisa tersisa, jangan-jangan hanya Tuhan yang tahu.

Demikianlah, kejujuran penting, bahkan bertambah penting dalam ketidakpastian perekonomian. Dalam menghadapi realitas pahit orang harus membuka topeng. Fakta itu suci, harus dibersihkan dari yang palsu. Di meja operasi, pasien harus steril dari bedak dan lipstik. Di situ parfum ialah racun. Begitulah pula perlakuan terhadap perekonomian Tiongkok, yang tengah sakit.

Bagaimana dengan data ekonomi kita? Ambil contoh sapi. Layaklah ditengarai ada yang tidak beres menyangkut data kebutuhan dan suplai sapi sehingga terjadi krisis daging sapi, harganya sempat menggila. Kalau data sapi selama ini benar, tidak palsu, apa perlunya pemerintah sekarang berencana mengubah mekanisme impor sapi dari saat ini per kuartal menjadi tahunan? Dalam bahasa Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution seperti dikutip pers, penetapan volume impor sapi per tahun membuat pendataan kebutuhan daging sapi pemerintah lebih valid serta menjadikan perencanaan lebih terarah. Terbuka tafsir, lebih valid, karena sebelumnya kurang valid, bahkan bukan mustahil tidak valid sama sekali. Baguslah, pemerintah sekarang mengoreksinya.

Contoh lain soal beras. Pemerintah sekarang memutuskan mengimpor beras. Padahal, sebelumnya nyaring terdengar suara Bulog dan Kementerian Pertanian bahwa stok beras cukup. Yang muncul ke permukaan ialah terjadi penimbunan beras, bukan kelangkaan beras.

Contoh lain, belum terlalu lama kita impor bawang merah, kini diumumkan ekspor. Yang bilang Menteri Pertanian yang urus produksi, tanam-menanam, bukan Menteri Perdagangan yang urus ekspor.

Ketika perekonomian melemah, tak ada kebijakan bagus dapat diambil bila data ekonomi simpang siur, terlebih palsu. Diperlukan data yang benar, bukan hasil pertukangan yang terukir indah. Karena itu, Presiden Jokowi kiranya perlu menyuruh dilakukan audit data, setidaknya data yang dikeluarkan empat instansi--BPS, Bulog, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.