Siapa Sudi Menolong Negara.

Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group
02/5/2020 05:30
 Siapa Sudi Menolong Negara.
Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group(MI/EBET)

RICHARD Nixon keok di tangan John F Kennedy pada Pemilu Presiden 1960 di Amerika Serikat. Kepada ajudannya Pete Hannigan, Nixon berkata, “Pete, ada satu hal penting yang memuaskan kita. Kampanye pilpres mengubur selamanya isu agama kandidat. Buruk untukku, tetapi baik bagi Amerika.

” Masyarakat Amerika yang mayoritas Protestan sempat menggunakan isu agama untuk menyerang Kennedy yang minoritas Katolik. Akan tetapi, serupa perkataannya kepada sang ajudan, Nixon enggan menggunakan itu dalam kampanye. Nixon tidak menggunakan isu agama demi kebaikan negaranya.

Padahal, serupa satu kandidat di Pilkada DKI 2017, tidak ada halangan bagi Nixon untuk menyerang Kennedy dengan isu agama jika ia ingin memenangkan ego politiknya. Namun, penggunaan isu agama di masyarakat membuat Kennedy hanya menang tipis.

Selisih perolehan suara Kennedy dengan pesaingnya merupakan yang terkecil dalam sejarah pilpres Amerika. Akan tetapi, margin perolehan suara terkecil itu melahirkan salah satu pidato terhebat sepanjang sejarah dunia. Dalam pidato pelantikannya, Kennedy berucap, “And so, my fellow Americans: ask not what your country can do for you ask what you can do for your country.

” Nixon dan Kennedy rupanya tak hanya berkompetisi memperoleh suara terbanyak dalam pilpres, tetapi juga berlomba berbuat baik kepada negaranya. Mereka berlomba-lomba di jalan kebaikan buat negara. Semangat berbuat baik kepada negara ada dalam lagu Padamu Negeri. ‘Padamu Negeri kami berjanji…Padamu Negeri  kami berbakti….Padamu Negeri kami mengabdi… Bagimu Negeri jiwa raga kami…’

Di masa pandemi covid-19 ini, kita menuntut negara melakukan banyak hal buat kita. Tuntutan itu biasanya kemudian beranak pinak. Ketika satu tuntutan dipenuhi, lahir tuntutan berikutnya. Seorang teman tetap menuntut pemerintah melakukan lockdown kendati pemerintah sudah memutuskan pembatasan sosial berskala besar.

Saya sampaikan pemerintah telah memutuskan PSBB. “Anda mulai saja dari diri sendiri mematuhi PSBB,” kata saya. Dengan mematuhi PSBB dia sebetulnya sudah berbuat baik buat negara. Namun, dia langsung menutup percakapan.

Ketika untuk memenuhi tuntutan masyarakat, pemerintah memutuskan PSBB, bukan lockdown, dan itu menyebabkan industri mandek, lahir tuntutan kepada pemerintah untuk memberikan insentif kepada perusahaan dan bantuan sosial kepada pekerja yang terkena PHK.

Namun, APBN 2020 tidak menyediakan anggaran untuk penanggulangan pandemi covid-19. Maka, negara melakukan realokasi dan refocusing anggaran. Untuk itu, pemerintah memerlukan payung hukum berupa peraturan pemerintah pengganti undang-undang.

Celakanya, sejumlah kalangan ‘menuntut’ melalui Mahkamah Konstitusi supaya perppu itu dibatalkan. Rakyat tentu berhak bahkan berkewajiban menuntut negara melakukan berbagai hal untuk menanggulangi pandemi covid-19 dan dampaknya. Pemerintah dengan berbagai pertimbangan berkewajiban sedapat mungkin memenuhi tuntutan tersebut di tengah keterbatasan.

Akan tetapi, kita berharap tuntutan yang beranak pinak itu tak memantik kegaduhan karena kegaduhan itu bisa membuat imunitas kita berkurang, yang menyebabkan tubuh rentan terjangkit covid-19. Oleh karena itu, kita mestinya mengakhiri tuntutan yang memantik kegaduhan. Pun, bikin gaduh tak menolong negara mengatasi pandemi covid- 19 dan dampaknya.

Bencana seperti covid-19 ini sudah selayaknya mempersatukan kita, bukan ‘menggaduhkan’ kita. Bencana tsunami Aceh pada 2004 mempersatukan masyarakat Aceh, mempersatukan Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Bersatu berarti berbuat sesuatu untuk negara.

Alangkah adilnya bila kita juga berbuat sesuatu buat negara, menolong negara. Mematuhi PSBB, beribadah di rumah, bekerja dari rumah, dan belajar dari rumah, tidak mudik, cuci tangan pakai sabun, dan menjaga daya tahan tubuh merupakan langkah-langkah menolong negara memutus rantai covid-19.

Mereka yang bergotong royong menyumbangkan perlengkapan dan akomodasi buat tenaga medis atau bantuan sosial telah menolong negara mengurangi dampak sosial ekonomi pandemi covid-19. Mereka tidak bertanya apa yang negara berikan untuk mereka, tetapi bertanya apa yang mereka berikan untuk negara.

Mereka bermental ‘padamu negeri’. Tukang cukur asal Garut, Jawa Barat, yang berkreasi dengan melayani pangkas ke rumah-rumah, telah berbuat kebaikan buat negara, tidak melulu menuntut negara berbuat untuk mereka. Tukang cukur kreatif ini juga bermental ‘padamu negeri’. Orang Indonesia, katanya, kreatif kalau kepepet. Orang memang biasanya berubah dalam keadaan genting.

Gotong royong dan kreativitas seperti itu tidak dimiliki negara lain dalam upaya penanggulangan covid-19. Kita berharap jumlah mereka yang ikhlas bergotong royong serta kreatif semakin banyak jika dibandingkan dengan yang cuma doyan menuntut negara berbuat untuk mereka. Kita boleh optimistis Indonesia lekas keluar dari cengkeraman pandemi covid-19.

 

 

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.