Semalam di Bagansiapiapi

27/8/2015 00:00
Semalam di Bagansiapiapi
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

BERADA semalam saja di Bagansiapiapi, di lingkungan penghasil sawit di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, membuat keprihatinan ekonomi terasa lebih dalam. Petani sawit mengeluh berat. Harga sawit anjlok sangat parah, dari Rp1.800 per kg tahun lalu, tinggal Rp400 per kg Selasa (25/8) lalu. Itu berarti anjlok lebih empat kali lipat, terburuk dalam sejarah.

Menurut catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), tahun lalu harga crude palm oil global di US$800-US$900 per ton. Di dua pekan pertama Agustus, harga melorot sampai US$600 per ton. Padahal, menurut perspektif semalam di Bagansiapiapi, harga pupuk tetap mahal dan harga minyak goreng asal sawit tidak turun, sekalipun harga sawit remuk.

Pada akhirnya petani jualah pemikul beban terberat dalam struktur ekonomi sawit. Konglomerat tetaplah penikmat rente. Sebagai gambaran, 40%-45% lahan sawit merupakan perkebunan milik rakyat.

Semalam di Bagansiapiapi, saya pun dihadapkan pada dua pertanyaan 'serem'.

Pertama, apa yang dapat dilakukan negara?

Dalam nada lebih tajam, bisa apa negara?

Kedua, kenapa kalau harga cabai naik 'masuk TV', harga sawit turun 'tidak masuk TV'?

Sebagai pelaku bidang media dan penggemar santapan pedas, pertanyaan itu menggigit saya. Saya tersenyum terima kasih. Kendati hanya semalam, news room perlu banyak belajar dari ibu kota Rokan Hilir itu.

Sebuah studi menunjukkan kontribusi ekspor CPO terhadap ekspor nonmigas 16%. Saat harga CPO dunia meningkat, nilai tukar riil rupiah juga akan terapresiasi. Ditambah meningkatnya perolehan devisa.

Yang terjadi sekarang ialah memburuknya ringgit Malaysia serta merosotnya permintaan pasar, antara lain dari Tiongkok yang turun 5% dari Juni 429,18 ribu ton menjadi Juli 407,33 ribu ton.

Kita nyaris tidak bisa berbuat apa pun terhadap naik turunnya permintaan Tiongkok akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi dan melemahnya nilai tukar. Namun, sampai kapan sawit kita didikte ringgit? Pada Senin (24/8), harga CPO di Malaysia merosot ke level 1.924 ringgit per ton.

Dalam sepekan harga CPO anjlok 5,87%, terburuk sejak 2013. Dalam perekonomian global tak terhindarkan pengaruh eksternal. Akan tetapi, mengapa negara pasrah pada bursa Malaysia?

Salah satu tugas pokok pemerintah bersama Gapki dan DPR ialah bekerja keras memindahkan transaksi bursa berjangka dari Malaysia ke Indonesia. Selain itu, sebagai bangsa, kita pun harus berhenti terlena penghasil komoditas minyak sawit mentah tanpa nilai tambah.

Upaya besar-besaran harus dilakukan untuk menghasilkan produk turunan CPO sehingga kita menjadi pengekspor turunan CPO bernilai tambah lebih tinggi. Pemerintah hendaknya segera bertindak untuk juga memperkuat pasar dalam negeri.

Gapki, misalnya, meminta Pertamina mulai melaksanakan Mandatori B15 (mengurangi ketergantungan pada BBM dengan mewajibkan bahan bakar nabati 15% berbasis CPO) dengan menyerap biodiesel dalam jumlah besar, yang mestinya efektif 1 April 2015. Akan tetapi, Pertamina belum melakukannya karena skema subsidi melalui CPO Supporting Fund belum jalan.

Karena menyangkut skema subsidi, diperlukan keputusan politik 'tingkat tinggi' dan payung hukum permanen agar Pertamina tak 'terjerumus' lubang finansial dan 'terperangkap' lubang hukum.

Semalam di Bagansiapiapi, saya juga diingatkan, bila harga sawit tetap buruk hingga 9 Desember, di hari pencoblosan pilkada serentak, politik uang bakal jadi favorit di kawasan perkebunan sawit.

Petani sawit bakal menyantap uang kecil, apalagi uang besar.

Siapa yang dipilih? Mudah-mudahan akal sehat dan hati bekerja.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima