Demokrasi Nasi Goreng

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
29/7/2019 05:10
Demokrasi Nasi Goreng
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI)

SETELAH pemilu usai, terutama pilpres, elite politik dapat berubah dalam memandang pemilih. Terlalu kasar untuk mengatakan habis manis sepah dibuang. Terlalu samar untuk bilang pemilih bukan lagi subjek, melainkan objek.

Harian ini Sabtu (27/7) mengangkat pandangan pakar yang mengatakan bersatunya koalisi pengusung Jokowi dengan oposisi baik di kabinet maupun di parlemen dengan membagi kursi Ketua MPR dan kursi menteri merupakan khianat kepada para pemilihnya. Demokrasi bukan nasi goreng yang perlu dibagi-bagi. Apakah sisi sebaliknya juga sama?

Kiranya juga sama. Partai oposisi bergabung dengan kekuasaan pun khianat kepada para pemilihnya. Pemilih mereka juga tidak menginginkan partai oposisi dan capres yang mereka pilih setelah kalah minta dibagi-bagi 'nasi goreng' dari kubu capres yang menang.

Nasi goreng makanan rakyat, tapi suara rakyat bukan senilai nasi goreng. Betapa pun enaknya nasi goreng, jangan perlakukan demokrasi sebagai nasi goreng.

Jokowi menang pilpres dengan selisih suara sangat besar. Partai pengusungnya pun meraih kursi mayoritas di parlemen. Apa alasan untuk bagi-bagi kursi di MPR dan di kabinet dengan oposisi seperti membagi-bagi nasi goreng?

Jokowi telah menjawab pertanyaan itu. Katanya, koalisi cukup. Jawaban mantap yang tidak khianat. Jawaban yang menghormati pemilihnya.

Setelah jawaban Jokowi itu jangan ada lagi partai dalam koalisi yang mengajak partai oposisi bergabung dalam pemerintahan Jokowi. Berhentilah bermanuver. Berhentilah, karena Jokowi tidak akan memperlakukan kekuasaan membagi-bagi kursi menteri seperti membagi-bagi nasi goreng.

Kekuasaan yang terlalu besar berpotensi eksesif. Karena itu, baiklah patuh kepada presiden terpilih, pemegang hak prerogatif, bahwa koalisi cukup.

'Koalisi cukup' bermakna tidak bertambah dan tidak berkurang. Selebihnya, di luar koalisi Jokowi ialah koalisi oposisi yang juga 'cukup' untuk tidak menjadi oposisi eksesif.

Tentu saja, turut berkuasa lebih enak daripada turut mengontrol kekuasaan. Seenak-enak oposisi yang seenaknya sekalipun lebih enak duduk di kursi kekuasaan. Apakah itu bagus bagi demokrasi?

Demokrasi bilang berbahaya kekuasaan tanpa checks and balances. Karena itu, yang kalah pilpres terimalah kekalahan itu dengan lapang dada dan terimalah 'nasib' 5 tahun lagi menjadi oposisi yang berwibawa sampai bertemu di Pilpres 2024 dengan peta capres yang berbeda.

Untuk itu, perlu dan penting memupuk kepercayaan rakyat. Jangan khianat kepada pemilih. Jangan menyakiti hati pemilih.

Kiranya jawaban Jokowi 'koalisi cukup' memberi batas tegas kepada siapa pun agar tidak terjadi khianat kepada pemilih, baik pemilih Jokowi maupun pemilih Prabowo.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.