Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA dunia, yaitu 'yang ideal' dan 'yang aktual', tidak selalu cocok, bahkan tidak bertemu. Biarpun demikian, orang tidak boleh berhenti menggagas yang ideal sekalipun aktualisasinya jauh panggang dari api.
Yang ideal memang paling berat untuk dilakukan. Kenapa? Karena orang suka mendapat durian runtuh.
Etos yang dicanangkan ialah orang harus bekerja keras, bekerja cerdas, gigih, bersedia berkorban untuk mewujudkan yang ideal. Aktualnya, belum tentu yang ideal tercapai bila tanpa kemujuran.
Berapa besar faktor lucky, hoki? Kiranya hanya 1%. Tapi inilah 1% yang dapat menggugurkan yang 99% kalau orang tidak beruntung, tidak mujur, tidak bernasib baik. Maka mintalah, bahkan berdoalah, agar mendapat durian runtuh.
Dalam perspektif 'durian runtuh' itu, apakah orang percaya saban kali elite bicara 'yang ideal' di ruang publik? Tidakkah 'yang ideal' itu gagasan palsu, perkara manis di bibir, lain di pikiran, lain di hati?
Sejujurnya 'yang ideal' itu ialah perkara yang ditakuti terjadi. Terdengar aneh, tapi nyata. Sesungguhnya dan senyatanya itulah yang sekarang menggelisahkan kebanyakan elite partai politik pengusung Jokowi. Mereka berharap jangan sampai 'yang ideal' terjadi.
Jokowi pemimpin berani. Contohnya, menteri yang membantunya di bidang sosial dan politik menyarankan untuk mengalkulasi dampak dukungan politik membubarkan HTI. Jokowi perintahkan besok dibubarkan! Itu terjadi. Demi bangsa dan negara, tidak ada kalkulasi dukungan politik, tidak ada yang ditakuti Jokowi.
Mari kita pindahkan logika itu bahwa Jokowi berani menegakkan 'yang ideal' dalam menyusun dan membentuk kabinet. 'Yang ideal' itu ialah semua itu hak prerogatif presiden. Apa pun putusan presiden, siapa pun yang menjadi menteri, semua partai pengusung Jokowi menerimanya dengan seikhlas-ikhlasnya. Seikhlas-ikhasnya kendati tiada seorang pun menteri yang berasal dari partai pengusung. Anda percaya?
Saya percaya bahwa satu-satunya yang ikhlas seikhlas-ikhlasnya ialah Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Yang lain kecewa, bahkan marah kalau 'yang ideal' hak prerogatif presiden itu yang terjadi.
Kecewa atau marah karena tujuan berpartai politik tidak hanya berkuasa di DPR, tapi juga turut berkuasa di pemerintahan dan itu tidak terwujud. Tidak duduk di kabinet akibat kebajikan kontitusi (hak prerogatif presiden) berbalik menjadi nihilisme praktis.
Politik urusan 'yang aktual', 'yang praktis', bukan urusan 'yang ideal'. Hak prerogatif presiden justru ditakuti sepenuhnya terjadi. Ini hak yang tidak dikehendaki utuh dilaksanakan presiden.
Bahkan, percakapan di ruang publik kian menjauh dari 'yang ideal' dengan diwacanakannya pikiran populistis bahwa dalam pembentukan kabinet keterlibatan rakyat dibutuhkan. Bukankah rakyat telah memilih presiden secara langsung dan telah memberi mandat kepada presiden terpilih?
Kenapa pula masih dibutuhkan keterlibatan rakyat dalam urusan presiden hasil pilihan rakyat memakai hak prerogatifnya? Bagaimana pula bentuk keterlibatan rakyat yang ratusan juta itu? Sebagai gambaran, rakyat yang termaktub dalam daftar pemilih tetap saja jumlahnya 192,83 juta. Melalui perwakilannya di MPR? Maaf, ini pikiran 'lucu'.
Demikianlah dalam hal pembentukan kabinet terjadi pertarungan 'yang ideal' dan 'yang aktual'. Bila 'yang aktual' yang terjadi yakni kalkulasi dukungan politik di DPR, bukan 'yang ideal' yakni sepenuhnya hak prerogatif presiden, maka terbukalah ladang secara personal yang jumlahnya tidak sedikit, yaitu orang-orang yang menghendaki 'durian runtuh', yakni duduk di kabinet karena partai sayang kepadanya. Menteri macam ini kerjanya pun bak barang reruntuhan.
Begitulah di ruang publik 'yang ideal' tengah digerogoti berbagai pertimbangan, di antaranya rekonsiliasi yang juga masuk kalkulasi urusan dukungan politik dengan alasan demi stabilitas dan kuatnya pemerintahan. Alasan pemanis belaka. Yang aktual ialah hak prerogatif presiden diperlakukan sebagai gagasan palsu, nihilisme praktis.
Jika Gerindra dan PAN juga masuk kabinet, sempurnalah nihilisme praktis hak prerogatif presiden. Saya rasanya kehabisan kata-kata. Tolong Anda yang kasih penilaian, durian runtuh macam apa politik bagi-bagi kekuasaan, bagi-bagi kursi, seperti itu.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved