Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA terjadi gejolak harga daging sapi, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengundang rapat koordinasi Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.
Salah satu cara cepat penyelesaian yang ditawarkan Rachmat Gobel ialah membuka keran impor sapi sesuai dengan kebutuhan konsumsi impor sebanyak 250 ribu ekor.
Menteri Pertanian berpendapat, jumlah impor itu terlalu banyak. Berdasarkan data jumlah sapi di Kementerian Pertanian, peternak dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, Amran meminta agar keran impor dibuka hanya untuk 50 ribu ekor sapi.
Saat sidang kabinet, perbedaan data kebutuhan pasokan dari Kementerian Perdagangan dan dari Kementerian Pertanian sempat dibahas.
Presiden yang berharap swasembada daging lebih percaya pada data Kementerian Pertanian. Kita lihat ketika impor dipatok hanya 50 ribu ekor, yang terjadi kelangkaan pasokan dan harga melambung tinggi. Rachmat Gobel harus menerima getah dilengserkan dari jabatan.
Buruknya ketersediaan data bukan hanya terjadi dalam kasus daging sapi. Gejolak harga terjadi pada komoditas pangan lainnya dan itu disebabkan kesalahan pada pengambilan kebijakan karena persoalan data.
Itulah yang membuat Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Kepala Bappenas Sofyan Djalil bersepakat memperbaiki basis data yang ada.
Bagi kita, pangan merupakan faktor penentu inflasi yang signifikan. Gejolak pada harga cabai merah atau bawang bisa mengerek inflasi. Padahal, pemerintah berkeinginan mengontrol inflasi pada tingkat yang rendah agar tidak mengganggu target pembangunan.
Penanganan pangan tidak akan berjalan baik kalau tidak didukung data akurat. Apalagi, banyak kegiatan pertanian berada di tangan masyarakat.
Mereka menjalankan kegiatan pertanian hanya sebagai penopang hidup, bukan kegiatan usaha. Demikian pula dengan peternak.
Mereka memelihara sapi bukan sebagai kegiatan usaha. Sapi bagi banyak keluarga peternak ialah tabungan. Mereka hanya akan menjual ternak apabila ada kebutuhan seperti Idul Adha, memperbaiki rumah, atau menyekolahkan anak.
Kebiasaan peternak itu tentu tidak sejalan dengan logika Kementerian Pertanian yang berorientasi produksi. Mereka mengonversikan jumlah sapi kepada produksi, padahal belum tentu sapi itu akan dijual atau dipotong peternak.
Saya pernah ikut terlibat sebagai anggota Forum Masyarakat Statistik. Anggota masyarakat dari berbagai latar belakang diminta Badan Pusat Statistik untuk memberi masukan membangun data yang lebih valid.
Persoalannya basis data yang didapatkan BPS dari kementerian teknis berasal dari data yang lemah akurasinya. Kalau tidak hasil perkiraan petugas lapangan, data berasal dari hasil ekstrapolasi.
Ketika data awalnya benar, ekstrapolasi bisa mendekati kenyataan. Namun, apabila data awalnya berdasarkan perkiraan dan ekstrapolasi dilakukan untuk periode yang panjang, penyimpangan data akan semakin melebar. Itu terjadi pada data produksi pertanian yang berbeda dengan kenyataan.
Apakah sulit membangun basis data baru? Tentu saja tidak apabila ada kemauan. Kita hanya perlu berani menerima kenyataan apabila data baru nanti berbeda jauh dengan data yang ada sekarang.
Demi sebuah perencanaan yang lebih baik dan pembangunan yang lebih berkualitas, kita harus mau melakukan perubahan besar.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved