Data, oh, Data...

22/8/2015 00:00
Data, oh, Data...
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

KETIKA terjadi gejolak harga daging sapi, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengundang rapat koordinasi Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.

Salah satu cara cepat penyelesaian yang ditawarkan Rachmat Gobel ialah membuka keran impor sapi sesuai dengan kebutuhan konsumsi impor sebanyak 250 ribu ekor.

Menteri Pertanian berpendapat, jumlah impor itu terlalu banyak. Berdasarkan data jumlah sapi di Kementerian Pertanian, peternak dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, Amran meminta agar keran impor dibuka hanya untuk 50 ribu ekor sapi.

Saat sidang kabinet, perbedaan data kebutuhan pasokan dari Kementerian Perdagangan dan dari Kementerian Pertanian sempat dibahas.

Presiden yang berharap swasembada daging lebih percaya pada data Kementerian Pertanian. Kita lihat ketika impor dipatok hanya 50 ribu ekor, yang terjadi kelangkaan pasokan dan harga melambung tinggi. Rachmat Gobel harus menerima getah dilengserkan dari jabatan.

Buruknya ketersediaan data bukan hanya terjadi dalam kasus daging sapi. Gejolak harga terjadi pada komoditas pangan lainnya dan itu disebabkan kesalahan pada pengambilan kebijakan karena persoalan data.

Itulah yang membuat Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Kepala Bappenas Sofyan Djalil bersepakat memperbaiki basis data yang ada.

Bagi kita, pangan merupakan faktor penentu inflasi yang signifikan. Gejolak pada harga cabai merah atau bawang bisa mengerek inflasi. Padahal, pemerintah berkeinginan mengontrol inflasi pada tingkat yang rendah agar tidak mengganggu target pembangunan.

Penanganan pangan tidak akan berjalan baik kalau tidak didukung data akurat. Apalagi, banyak kegiatan pertanian berada di tangan masyarakat.

Mereka menjalankan kegiatan pertanian hanya sebagai penopang hidup, bukan kegiatan usaha. Demikian pula dengan peternak.

Mereka memelihara sapi bukan sebagai kegiatan usaha. Sapi bagi banyak keluarga peternak ialah tabungan. Mereka hanya akan menjual ternak apabila ada kebutuhan seperti Idul Adha, memperbaiki rumah, atau menyekolahkan anak.

Kebiasaan peternak itu tentu tidak sejalan dengan logika Kementerian Pertanian yang berorientasi produksi. Mereka mengonversikan jumlah sapi kepada produksi, padahal belum tentu sapi itu akan dijual atau dipotong peternak.

Saya pernah ikut terlibat sebagai anggota Forum Masyarakat Statistik. Anggota masyarakat dari berbagai latar belakang diminta Badan Pusat Statistik untuk memberi masukan membangun data yang lebih valid.

Persoalannya basis data yang didapatkan BPS dari kementerian teknis berasal dari data yang lemah akurasinya. Kalau tidak hasil perkiraan petugas lapangan, data berasal dari hasil ekstrapolasi.

Ketika data awalnya benar, ekstrapolasi bisa mendekati kenyataan. Namun, apabila data awalnya berdasarkan perkiraan dan ekstrapolasi dilakukan untuk periode yang panjang, penyimpangan data akan semakin melebar. Itu terjadi pada data produksi pertanian yang berbeda dengan kenyataan.

Apakah sulit membangun basis data baru? Tentu saja tidak apabila ada kemauan. Kita hanya perlu berani menerima kenyataan apabila data baru nanti berbeda jauh dengan data yang ada sekarang.

Demi sebuah perencanaan yang lebih baik dan pembangunan yang lebih berkualitas, kita harus mau melakukan perubahan besar.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima