MK bukan Tempat Curhat

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
17/6/2019 05:30
MK bukan Tempat Curhat
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI)

SABAN kali pilpres selesai, kiranya yang diharapkan terjadi di tengah warga ialah pertumbuhan perspektif. Bukan pengerdilan cakrawala. Itulah sebabnya dalam pilpres diselenggarakan debat publik. Bukan debat perasaan.

Pilpres seyogianya membawa orang kepada dua kualitas yang berkaitan, yakni berpikir besar dan meluasnya horizon berbangsa dan bernegara. Di situlah perbedaan terpokok memilih presiden dengan memilih kepala desa.
Ketika hasil pilpres dibawa ke MK, sepatutnya pula orang menghubungkannya dengan kesadaran politik dan kematangan beperkara. MK bukan tempat curhat.

Bersengketa di MK perihal hasil pemilu, bukan mengenai syarat menjadi cawapres, apalagi keberpihakan media. Salah tempat dan salah alamat.

Bersengketa hasil pilpres di MK ialah bersengketa dengan bukti-bukti faktual. Seyogianya yang terjadi adu kecukupan dan kekuatan bukti-bukti faktual. Bukan pertunjukan mimbar bebas seperti zaman saya bersekolah di Kampus Bulaksumur dulu.

Selama ini, bahkan sebelum pilpres yang kencang dinarasikan ialah 'jujur' dan 'curang'. Bukan 'menang' dan 'kalah'. Ke mana saja saksi-saksi pihak yang 'merasa' dicurangi? Bukankah tangan Bawaslu sampai ke TPS?
Pertanyaan itu pun salah alamat dan berbau curhat karena di MK tidak berurusan dengan proses pemilu, tetapi berurusan dengan hasil pemilu berbasiskan bukti-bukti.

Rasanya perlu pula disebut yang dipertaruhkan di MK bukan reputasi capres, apalagi reputasi lawyer, kuasa hukum capres. Yang dipertaruhkan ialah kepercayaan warga yang punya hak konstitusional yang telah memilih capres yang diyakininya dapat membuat Indonesia lebih baik 5 tahun ke depan.

Singkatnya para lawyer terhormat itu tidak usah merasa bahwa reputasi mereka bakal meningkat atau merosot gara-gara menangani sengketa hasil pilpres. Pokok perkara ialah hati nurani rakyat yang diekspresikan dalam jumlah suara yang selisihnya 16 juta lebih dalam penghitungan KPU, bukan dalam kliping berita.

Abraham Lincoln bilang, "If you want to test a man's character, give him power." Jika Anda ingin menguji karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.

Para lawyer itu diberi kekuasaan. Melalui siaran langsung televisi dari ruang sidang MK yang terbuka untuk umum, warga yang memilih Jokowi atau Prabowo dapat melihat pertunjukan karakter para lawyer dalam agresivitas orang-orang ekstrovert yang sepertinya lebih mencintai dirinya daripada mengedepankan bukti-bukti faktual. Maaf bila penilaian ini terlalu keras.

Hemat saya, sekali lagi perlu penekanan bahwa melalui sengketa di MK kiranya warga mendapat pembelajaran mengenai hal-hal substansial kepublikan. Tidak hanya kematangan beperkara, tapi juga ketajaman melihat dunia politik nyata, terutama meningkatnya kematangan dalam berdemokrasi dan berkonstitusi.

Setelah MK memutus perkara, baiklah kita tunggu capres yang kalah mengucapkan selamat kepada capres yang menang. Pernyataan itu mungkin basa-basi, mungkin diperkuat sebuah nasihat hukum bahwa putusan MK final dan mengikat, tapi jauh lebih dalam maknanya bila berkat pikiran besar dan jiwa besar.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.