Hak Warga

20/8/2015 00:00
Hak Warga
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

MENYAMBUT 17 Agustus, ada dua aksi penting menyangkut hak warga berhadapan dengan pengendara sepeda motor di ruang publik. Pertama, warga yang tergabung dalam Koalisi Pejalan Kaki menghalau pengendara sepeda motor di trotoar. "Hormatilah hak pejalan kaki." Itu terjadi di trotoar Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (14/8).

Kedua, protes terhadap konvoi motor gede alias moge di Yogyakarta, yang tiada mengindahkan tanda lalu lintas dengan pengawalan polisi.

Elanto Wijoyono menghadang konvoi moge yang melanggar lampu merah dengan memasang badan dan sepeda di zebra cross dan menyuruh pengendara di lampu hijau berjalan. Pesannya lugas, patuhilah rambu lalu lintas, lebih dari itu, hormatilah hak pengendara lainnya.

"Saya membayar pajak." Pesan mendalam!

Seperti tampak pada foto di media, aksi hormatilah hak pejalan kaki diiringi senyum. Pengendara sepeda motor dihalau santun. Sebuah pembelajaran dari warga untuk warga. Bila Satpol PP yang turun tangan, bisa-bisa warga tersakiti.

Pesepeda motor itu rakyat biasa. Motor mereka, untuk membedakannya dengan moge, sebut saja moke (motor kecil), kebanyakan diperoleh dengan kredit.

Pihak Koalisi Pejalan Kaki tengah melakukan civic education terhadap warga untuk menghormati hak sesama warga. Pengendara moke mematuhinya, tanpa banyak cincong keluar dari trotoar.

Seperti disiarkan Metro TV, Senin (17/8), jelas protes keras terhadap konvoi moge. Bahkan dipersoalkan apakah nasionalisme harus ditunjukkan dengan cara melanggar aturan lalu lintas, tidak memedulikan hak warga lainnya sesama pengguna jalan raya, bahkan sesama pembayar pajak.

Apa jawaban pihak moge?

Mereka harus tiba di tujuan pada waktu yang telah ditentukan.

Yang dilakukan bagus untuk pariwisata karena konvoi menuju Prambanan, tempat upacara dilaksanakan. Demi keamanan, konvoi dikawal.

Saya tidak tahu apakah di antara moge itu ada kreditan. Yang pasti moge simbol kelas tertentu dengan aksesori brand khas.

Ia tanda warga berpunya. Bahkan, konvoi moge sah dibaca sebagai show kepemilikan pribadi di ruang publik, dengan seluruh tafsirnya, antara lain arogansi.

Apa artinya dihadang dengan sepeda, kendaraan terjangkau rakyat kebanyakan?

Ada nuansa perlawanan kelas, juga terhadap negara (polisi) yang semestinya pengawal semua warga.

Kiranya perlu dicamkan telah terbit militansi pembela hak-hak warga di ruang publik.

Mestinya polisi mengawal kepatuhan berlalu lintas termasuk moge, menghormati hak warga lainnya, menjunjung tinggi keadaban publik. Bukan melindungi pelanggaran. Protes bernuansakan perbedaan kelas dan terhadap otoritas negara jangan diremehkan.

Aksi Elanto meraih dukungan ribuan penanda tangan petisi.

Masih ada fenomena lain. Go-Jek gagasan inovatif, profesional menyelesaikan dua persoalan sekaligus, yaitu kebutuhan transportasi warga dan menciptakan lapangan kerja.

Sebanyak 15 ribu warga telah menjadi pengemudi Go-Jek terlatih.

Trotoar jelas milik pejalan kaki. Moke harus menghormatinya.

Moke hendaknya juga belajar dari sesama moke, yaitu keadaban di jalan raya yang dipelopori Go-Jek.

Jalan raya jelas pula bukan wilayah kerajaan moge, konvoi atau sendiri. Polisi?

Diskresi hendaklah dipakai berhati-hati dengan menimbang perubahan sentimen dan aspirasi warga.

Bukankah polisi digaji negara menggunakan perolehan pajak yang dibayar warga?



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima