Mendengarkan Kelas Menengah

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
14/11/2018 05:30
Mendengarkan Kelas Menengah
()

KUMPUL-KUMPUL di antara pengusaha kelas menengah bukanlah pertemuan formal. Akan tetapi, keluhan yang muncul dari bincang-bincang itu tidak bisa dianggap sebagai angin lalu. Mereka mengeluhkan kesulitan yang sedang dihadapi dan mencoba saling berbagi pengalaman bagaimana bisa tetap bertahan.

Hampir empat tahun ini boleh dikatakan tidak ada bisnis yang mereka dapatkan. Satu yang membuat mereka bertahan hanyalah harapan adanya perubahan, harapan adanya perbaikan. Semua tabungan terus berkurang untuk dipakai membayar gaji karyawan.

Wakil Ketua Umum Kadin Suryani Motik sudah lama menyuarakan masalah itu. Badan usaha milik negara dinilai tidak lagi mau hidup berdampingan dengan pengusaha kelas menengah. Bahkan, bisnis seragam pun sekarang dikerjakan anak perusahaan BUMN. Padahal, sebelumnya bisnis seperti itu diserahkan kepada pengusaha swasta.

Dalam pertemuan pengurus Kadin dengan Presiden Joko Widodo hal seperti itu sebenarnya sudah berulang kali juga disampaikan secara terbuka. Namun, responsnya hanya dilihat sebagai sikap cengeng dari para pengusaha. Di era kompetisi seperti sekarang semua diminta untuk lebih tahan menghadapi persaingan.

Kita hanya ingin mengingatkan, hampir 99% dari pengusaha Indonesia ialah kelompok mikro, kecil, dan menengah. Jumlah mereka sangatlah besar sehingga banyak angkatan kerja yang tergantung hidupnya kepada kelompok UMKM itu.

Oleh karena itu, sangatlah wajar apabila pemerintah memberikan perhatian kepada keberadaan mereka. Pemerintah harus menjaga agar mereka bisa bertahan karena kelompok inilah yang bisa diandalkan untuk menjadi jaring pengaman sosial. Pemerintah tidak mungkin bisa menyediakan lapangan kerja apabila kelompok usaha itu bertumbangan.

Hasil kajian Bank Mandiri menyebutkan, kelompok pengusaha menengah itu paling rentan terhadap perubahan sekarang ini. Dengan dana desa, dana kelurahan yang akan mulai cair tahun depan, dan program keluarga harapan, kelompok masyarakat bawah masih memiliki jaring pengaman sosial. Paling tidak dengan berbagai program itu perut mereka tidak harus sampai lapar.

Namun, untuk kelompok menengah, mereka tidak mempunyai cukup bantalan. Kalau terlalu lama dibiarkan tanpa harapan perbaikan, mereka akan menjadi kelompok yang frustasi. Di sinilah pemerintah perlu mencarikan jalan keluarnya.

Penciptaan bisnis yang inklusif harus menjadi fokus pemerintah. Kita harus mendorong pengusaha untuk bisa tumbuh dan berkembang. Hanya dengan hadirnya pengusaha yang bisnisnya sehat, kita bisa mendorong pertumbuhan dan membuka lapangan kerja yang mencukupi.

Di banyak negara pengusaha dilihat sebagai pilar kemajuan bangsa. Hal itu disebabkan hanya pengusahalah yang berani menanamkan modalnya untuk membuka bisnis. Ketika bisnisnya tumbuh dan berkembang, mereka akan bisa memperbesar usahanya dan dengan itulah mereka akan memberikan kontribusi lebih besar kepada penerimaan pajak melalui pembayaran pajak.

Semua negara yang maju tidak takut melihat pengusahanya semakin besar sebab dengan semakin besar bisnis, akan semakin besar kemampuan mengembangkan usaha dan akhirnya makin besar pula potensinya untuk membayar pajak.

Aneh kalau kita melihat pengusaha dianggap sebagai benalu. Semua yang jelek-jelek selalu ditempelkan kepada pengusaha. Sampai pengusaha dianggap sebagai pihak yang tidak patuh membayar pajak. Padahal, penerimaan pajak tidak sebesar pertumbuhan produk domestik bruto, bisa jadi karena sistem administrasi yang tidak baik untuk bisa menjangkau semua warga negara menjadi wajib pajak.

Kita tidak akan menjadi negara maju kalau hanya saling mencari kesalahan. Padahal, dalam era persaingan seperti sekarang yang kita butuhkan ialah sinergi di antara semua komponen bangsa. Kita membutuhkan hadirnya pengusaha yang kuat karena mereka akan menjadi pilar ketangguhan ekonomi negara ini.

Di tengah ketidakpastian seperti sekarang ini, pengusaha membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk bisa bertahan. Terutama pengusaha menengah sangat membutuhkan bisnis agar mereka bisa bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu.

Saatnya pemerintah mendengar jeritan para pengusaha yang ada dari Sabang sampai Merauke. Mereka bukan menjerit karena cengeng, melainkan mereka membutuhkan pijakan yang lebih kuat. Dengan jumlahnya yang besar mereka bisa menjadi kekuatan yang memperkukuh perekonomian Indonesia, tetapi sebaliknya bisa menjadi potensi yang menggoyahkan kondisi sosial kalau dibiarkan terpuruk.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.