Don't Judge a Book by Its Cover

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
08/11/2018 05:30
Don't Judge a Book by Its Cover
(Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group)

TERUS terang saya gagal objektif menilai tampang saya. Apakah tampang udik atau tampang kota. Atau malah tampang perbatasan udik dan kota, tampang tidak jelas.

Saya lahir di Jambi, tapi asal leluhur saya bernama Pahae yang memang udik, udik banget. Saya beberapa kali ke Boyolali, sejujurnya Boyolali jauh lebih maju jika dibandingkan dengan asal moyang saya Pahae, Tapanuli Utara. Jika Boyolali dinilai udik, apa penilaian yang pas untuk kampung moyang saya?

Apa pun jawabannya saya cinta kampung leluhur saya yang udik banget itu, seperti saya mencintai Jambi (tanah kelahiranku), Yogyakarta (tanah aku kuliah), Bekasi (tanah kediamanku), Jakarta (tanahku 'bercocok tanam'), dan Indonesia (tanah airku, tumpah darahku). Tentu saja saya pun cinta kita sesama anak bangsa, apa pun tampangmu.

Tampang anak bangsa menjadi kehebohan gara-gara seorang calon presiden menyebut tampang orang Boyolali sebagai tampang yang belum pernah masuk ke hotel mewah. Rasanya ini pertama kali dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara tampang warga sebuah kabupaten menjadi candaan serius seorang calon presiden.

Penilaian tampang Boyolali ialah penilaian yang merendahkan. Hal yang tidak elok, luas dikritik, kemudian diluruskan bahwa pernyataan itu diungkapkan dalam rangka dekat dengan rakyat agar suasana pertemuan cair, tidak kaku.

Dalam pandangan saya, yang merupakan persoalan besar bukan predikat 'tampang Boyolali' (perbandingannya 'saya bertampang Batak'), melainkan kesejahteraan rakyat yang diukur dengan belum pernah masuk ke hotel mewah. Ini ukuran yang amat ngawur.

Sejahtera ialah tujuh cukup, yaitu cukup pangan, cukup sandang, cukup papan, cukup terdidik, cukup sehat, cukup jaminan hari tua, dan cukup tersedia kuburan kalau mati. Bukan banyaknya rakyat Indonesia yang tampangnya mampu tidur di hotel mewah.

Tampang bukan kata yang aneh. Tampang muncul dalam percakapan warga sehari-hari. Misalnya, tampang preman, tapi hatinya baik. Sebaliknya ada yang tampangnya baik, ternyata jahat.

Kiranya perlu merujuk sebuah metafora intelektual untuk tidak tertipu oleh tampang. Bunyinya, don't judge a book by its cover. Jangan timbang sebuah buku dari sampulnya, tapi timbanglah dari isinya, bobotnya.

Sebuah buku dibaca dan dicerna barulah bisa berkesimpulan perihal bobotnya. Bahkan pikiran besar penulis buku mungkin baru jernih tertangkap setelah berulang membacanya.

Sampul buku yang memukau merupakan perabot yang perlu. Sebuah buku perlu untuk pajangan, untuk etalase, enak dipandang, tapi dengan penuh hormat kepada perancang wajah buku yang menghasilkan karya artistik, sebuah buku tidak ditimbang mutunya dari sampulnya, tampangnya, tetapi dari isinya.

Intinya, itu nasihat untuk tidak menilai orang dari fisiknya, kulit luarnya. Nilailah orang dari 'dalamnya', seperti kecerdasannya, terutama dari perbuatannya, amalnya, yang merupakan ekspresi dari 'dalamnya' karakter.

Saya kira itulah urusan besar dalam pemilihan umum, khususnya pemilihan presiden. Jangan pilih presiden dari kulit luarnya. Pilihlah presiden dari perbuatannya, amalnya, bukan dari tampangnya.

Untuk tidak tertipu tampang, orang perlu membaca rekam jejak calon presiden dan wakil presiden. Don't judge a book by its cover. Bacalah dalamnya, isinya, karakternya.

Kiranya isi dalam seorang pemimpin yang tulen berkarakter tidak memerlukan bermacam-macam sampul, berupa suara-suara berisik, suara-suara gaduh, suara-suara kebencian dari pendukungnya untuk menjatuhkan lawan agar dirinya terpilih menjadi presiden.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.