Keputusan Cepat yang Mencelakakan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
01/11/2018 00:15
Keputusan Cepat yang Mencelakakan
()

PESAWAT terbang terbaru jatuh karena masalah teknis tentu menimbulkan pertanyaan yang sangat mengherankan. Itulah yang terjadi dengan Lion Air JT610, pesawat terbaru yang membunuh 189 orang.

Boeing 737 Max 8 itu diserahkan kepada Lion Air pada 13 Agustus lalu. Dua hari kemudian, 15 Agustus 2018, pesawat itu mulai terbang komersial. Itu berarti pesawat itu baru berumur kurang lebih 2,5 bulan. Umur operasional ia baru terbang 800 jam dan jatuh ke laut.

Boeing 737 Max 8 itu bukan hanya pesawat terbaru, melainkan juga pesawat jet yang paling maju. Karena itu, dari segi teknis tidak saja membuat orang awam terheran-heran, tetapi juga para ahli pesawat terbang pun mempertanyakan kenapa pesawat brand terbaru itu jatuh ke laut hanya setelah 13 menit lepas landas.

Data yang dipublikasikan Flightradar24 menunjukkan pesawat itu berangkat ke Pangkalpinang pada 29 Oktober 2018, pukul 06.20. Pesawat itu berkelakuan tidak menentu setelah lepas landas.

Kementerian Perhubungan telah mengambil langkah penting, yaitu memerintahkan agar semua pesawat Boeing 737 Max 8 milik maskapai penerbangan Indonesia diperiksa ulang. Lion Air punya 11 pesawat, belum ada keterangan apakah semua telah diperiksa. Garuda punya hanya satu dan telah selesai diperiksa.

Boeing 737 Max merupakan generasi keempat Boeing 737. Program pembuatan pesawat terbaru itu dilansir 30 Agustus 2011. Pesawat generasi terbaru itu uji terbang pertama kali pada 29 Januari 2016. Ia mendapat sertifikasi FAA (Federal Aviation Administration) pada 8 Maret 2017.

Malindo Air, maskapai penerbangan Malaysia, merupakan maskapai penerbangan pertama yang mengoperasikan komersial Boeing 747 Max 8. Pada 22 Mei 2017, dengan nomor penerbangan OD803 ia terbang dari Kuala Lumpur ke Singapura. Demikianlah maskapai penerbangan Indonesia bukan yang pertama, tetapi Lion Air termasuk yang banyak membeli pesawat brand terbaru itu.

Saya awam dan berpandangan jangan tutup kemungkinan bahwa Lion Air JT610 merupakan produk Boeing 747 Max 8 yang cacat. Karena itu, bukalah kemungkinan untuk menggugat Boeing Company. Sebagai gambaran ekonomi pada 2018, menurut Newsinflight.com, harga pesawat itu US$117,1 juta.

'Pelajaran' yang pertama ialah buatan manusia yang paling canggih, paling maju, dan paling mahal sekalipun belum tentu semuanya sempurna. Betapa sial dan celaka bila satu yang cacat itu ialah Lion Air JT610 yang membunuh 189 orang.

'Pelajaran' yang kedua ialah pesawat itu sesungguhnya dan senyatanya telah diketahui bermasalah secara teknis. Kemudian diperbaiki sesuai dengan petunjuk pabrik. Yang bekerja ialah kemampuan berpikir cepat teknisi dalam derajat teknis yang tinggi dan dalam waktu yang terbatas.

Yang kiranya terlupakan atau tidak masuk pertimbangan teknis ialah bahwa Manusia (dengan 'm' besar) merupakan makhluk rasional yang irasional, yang memerlukan bantuan berupa judgment yang akurat serta keputusan yang lebih baik.

Pernyataan itu bukan pendapat saya, melainkan pikiran Prof Daniel Kahneman, pemenang Hadiah Nobel 2002. Ia bahkan menyimpulkan dari penelitiannya bahwa dalam sejumlah kasus, manusia yang rasional sekaligus irasional dan keras kepala itu perlu bantuan kebijakan dan institusi untuk menolongnya.

Bahkan, sang manusia memerlukan perlindungan dari orang lain yang dengan sengaja mengeksploitasi kelemahannya. Diterjemahkan ke dalam dunia penerbangan, kira-kira berbunyi, di sinilah kearifan manajemen puncak maskapai penerbangan menetapkan kebijakan untuk melindungi keputusan teknis yang diambil para mekanik, yang sepertinya merugikan perusahaan, yaitu pesawat tidak layak terbang, tetapi keputusan itu mencegah kecelakaan yang menelan nyawa manusia dan juga kerugian yang lebih besar, yaitu aset perusahaan tenggelam di laut.

Lion Air tergolong penerbangan yang kerap terdengar meminta maaf terlambat terbang dengan 'alasan operasional'. Alasan yang merugikan penumpang dari segi waktu, bukan dari sisi nyawa.

Akan tetapi, 'alasan teknis' kiranya dapat membawa hilangnya nyawa, pemberian Tuhan yang tiada serepnya, cadangannya, yang tiada tergantikan. 'Alasan teknis' tidak ada urusan dengan pesawat lama, ataupun pesawat terbaru, tercanggih, termahal sekalipun.

Penumpang bukan angka ekonomi semata. Tempatkanlah manusia dengan nilai keadaban yang tertinggi. Kiranya itu juga 'pelajaran' pokok bukan hanya untuk Lion Air, melainkan juga untuk korporasi/institusi mana pun.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.