Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SULIT dimengerti bila ada anak bangsa yang suka dibohongi dalam pemilu presiden. Lebih sulit lagi untuk dipahami bila ada anak bangsa yang tidak tahu telah dibohongi. Semua itu kiranya hanya dalam prakonsepsi.
Penjajahan yang paling mengerikan ialah penjajahan kebohongan. Inilah penjajahan alam pikiran, bukan penjajahan alam fisik. Karena itu, harus dilawan sejak dalam pikiran.
Apakah indahnya berbohong? Jawabnya, bila tidak ketahuan. Untuk sampai ke tahap itu diperlukan seni berbohong.
Pembaca yang budiman, saya tidak bercanda, juga tidak sedang membohongi publik bahwa indahnya berbohong bila tidak ketahuan. Maaf, saya tidak bermaksud mengajari Anda seni berbohong.
Katanya tidak ada orang yang tidak berdosa. Di antaranya berdosa karena pernah berbohong dalam hidupnya. Yang perlu digarisbawahi ialah kata 'pernah', walau hanya sekali dalam hidup yang panjang katakanlah sampai umur 80 tahun. Pembohong demikian ini bukan pembohong sejati.
Ada sejumlah syarat untuk menjadi pembohong sejati. Pertama, dengan sadar berbohong. Bukan khilaf. Kedua, konsisten berbohong. Bahasa kerennya, taat asas dalam berbohong.
Ketiga, berbohong sebagai kebiasaan. Tiada hari tanpa kebohongan, di antaranya berupa hoaks via media sosial.
Keempat, berbohong menjadi karakter. Dirinya ialah kebohongan itu sendiri. Kebohongan itu berupa sosok yang punya KTP, paspor, hak berserikat, hak bersuara, juga hak pilih. Tidak mengherankan bila kebisingan yang mengandung kebohongan bersahut-sahutan di tahun politik.
Puncaknya, kelima, tidak sadar berbohong karena berbohong telah menjadi kebenaran. Karena itu, dibela mati-matian.
Kapankah kebohongan terbongkar? Sepandai-pandai tupai melompat, suatu kali jatuh juga. Apakah Ratna Sarumpaet tergolong jatuh yang macam itu? Tidak usah menghakiminya secara sosial. Cukuplah ia dihakimi menurut hukum. Bukankah kedudukannya di tahanan kepolisian sebagai tersangka?
Kebohongan Ratna Sarumpaet berkaitan dengan Pilpres 2019, yaitu patut ditengarai ia melakukannya untuk mencoreng pemerintahan Jokowi di satu pihak, menaikkan citra Prabowo di lain pihak. Cukuplah kebohongan politik sampai di situ.
Sedikitnya ada tiga orang besar di dunia yang pendapatnya tentang kebohongan kiranya perlu dikedepankan. Kata Abraham Lincoln, presiden ke-16 AS, "No man has a good enough memory to be a successful liar."
Tidak ada orang yang punya ingatan cukup baik untuk menjadi pembohong yang sukses. Siksaan buat pembohong ialah harus mengingat semua kebohongannya. Siapa bisa?
Tidak ada orang yang sempurna, termasuk sempurna sebagai pembohong. Suatu saat lupa akan kebohongannya, dan terkuaklah karakter sebagai pembohong. Kata Lao Tzu, filsuf Tiongkok, "Perhatikan karaktermu, karena dapat menentukan nasibmu."
Sebaliknya bagi orang benar. Kata Mark Twain, pengarang novel AS, "If you tell the truth, you don't have to remember anything." Jika Anda mengatakan yang benar, Anda tidak harus mengingat apa pun. Jalan orang benar ialah lurus tanpa beban.
Rakyat yang punya hak pilih kiranya sependapat dengan filsuf Jerman Friedrich Nietzsche. Katanya, "I'm not upset that you lied to me. I'm upset that from now on I can't believe you."
Saya tidak kecewa karena Anda membohongi saya. Saya kecewa karena sejak sekarang saya tidak memercayaimu. Sejak sekarang? Ya, sejak sekarang, tidak perlu menunggu sampai 17 April 2019, hari pencoblosan.
Maknanya gamblang, pembohong kiranya tidak akan dipercaya rakyat. Tanpa dipercaya, siapa yang bakal memilih Anda menjadi presiden dan wakil presiden?
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved