Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG pemimpin harus punya visi. Tanpa visi bukan pemimpin, melainkan anak buah. Menurut definisi yang disebut, visi harus pula dinyatakan secara tertulis. Ia tidak disimpan di kepala atau di hati pemimpin atau di brankas. Visi harus terbaca dan dapat 'dibaca' siapa pun.
Visi tidak sendirian. Ia punya pendamping sejati yang bernama misi. Pemimpin haruslah visioner, tetapi bukan misionaris. Kenapa? Yang terakhir itu konotatif, penyebar agama. Presiden ialah pemimpin bangsa dan negara. Sebagai pemimpin harus punya visi dan misi yang bahkan harus disampaikan kepada penyelenggara pemilu ketika masih berstatus calon presiden.
Setelah pendaftaran capres-cawapres, sebelum masa debat, visi dan misi itu masih bisa diubah. Menurut KPU, visi dan misi itu penting karena itulah yang dibahas dalam debat. Apakah debat berpengaruh bagi kebanyakan pemilih dalam menentukan pilihan? Rasanya tidak.
Pertanyaan lebih ke belakang, apakah Anda lebih dulu membaca dan memahami visi dan misi capres sebelum mencoblos? Jika jawabannya 'ya', Anda sungguh warga negara yang langka. Apa ukuran langka? Jumlahnya 1% atau kurang dari populasi.
Data terakhir pada Pilpres 2019 bakal ada 187.109.973 pemilih. Katakanlah partisipasi kali ini tinggi mencapai 70%. Apakah ada sekitar 1,3 juta pemilih (1%) yang baca visi dan misi capres sebelum mencoblos? Ajaib benar jika ada sebanyak itu.
Kiranya visi dan misi capres lebih sering dibaca mereka yang menyusunnya daripada dibaca rakyat yang punya hak pilih. Pembuat visi dan misi itulah produsen dan juga konsumen yang narsistik. Jutaan rakyat pemilih menaruh kepercayaan kepada capres yang dipilihnya dengan pertimbangannya sendiri.
Saya kira pertimbangan yang terpokok terdapat pada perkara 'melihat' atau 'membawa'. Pemimpin diharapkan bukan hanya untuk 'melihat' ke depan (karena itu disebut visioner), melainkan 'membawa' ke masa depan. Membawa mengandung perbuatan nyata dan tahu arah ke mana dibawa.
Itulah masa depan yang dapat dirasakan bakal tercapai karena memang sebagian buktinya telah dirasakan kemarin dan hari ini. Sebaliknya, dalam perkara 'melihat' ke depan, pemimpin belum tentu 'membawa' ke masa depan yang terlihat itu. Kenapa? Visi dan misi itu masih berupa teks. Implikasinya bisa janji tinggal janji.
Yang ingin didengarkan rakyat bukan visi pemimpin yang disusun dan dirumuskan sebagai teks tanpa kehadiran mereka. Inilah visi yang cacat fungsional. Rakyat ingin melihat diri mereka sendiri dalam potret masa depan yang dipetakan pemimpin. Mereka ingin menjadi bagian dari proses, yaitu menciptakan sebuah visi bersama.
Proses menciptakan visi bersama itulah kiranya yang langka dilakukan para pemimpin. Kenapa? Karena memimpin dipandang sebagai urusan penetapan garis dari atas ke bawah. Tidak ada ruang bagi empati dari bawah, padahal inilah kualitas pokok kepemimpinan demokratis.
Hemat saya, pengecualian itulah yang terjadi ketika Presiden Jokowi memberikan bonus kepada atlet sebelum penutupan dua event besar berturut-turut, yaitu Asian Games dan Asian Para Games.
Sesungguhnya dan senyatanya rakyat perlu contoh berupa workable vision, yang nyata dirasakan. Menghargai prestasi atlet dengan bukti nyata tanpa penundaan ialah ekspresi empati, ekspresi nilai-nilai demokrasi. Grounded leader tidak menunggu sampai keringat para atlet mengering.
Hemat saya, pilpres nanti kiranya jelas merupakan kontestasi dan kompetisi memilih siapa yang dipercaya sebagai grounded leader, bukan flighty leader yang mungkin tidak punya jawaban-jawaban nyata atas pertanyaan-pertanyaan rakyat.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved