Visi sebelum Keringat Mengering

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
15/10/2018 05:30
Visi sebelum Keringat Mengering
()

SEORANG pemimpin harus punya visi. Tanpa visi bukan pemimpin, melainkan anak buah. Menurut definisi yang disebut, visi harus pula dinyatakan secara tertulis. Ia tidak disimpan di kepala atau di hati pemimpin atau di brankas. Visi harus terbaca dan dapat 'dibaca' siapa pun.

Visi tidak sendirian. Ia punya pendamping sejati yang bernama misi. Pemimpin haruslah visioner, tetapi bukan misionaris. Kenapa? Yang terakhir itu konotatif, penyebar agama. Presiden ialah pemimpin bangsa dan negara. Sebagai pemimpin harus punya visi dan misi yang bahkan harus disampaikan kepada penyelenggara pemilu ketika masih berstatus calon presiden.

Setelah pendaftaran capres-cawapres, sebelum masa debat, visi dan misi itu masih bisa diubah. Menurut KPU, visi dan misi itu penting karena itulah yang dibahas dalam debat. Apakah debat berpengaruh bagi kebanyakan pemilih dalam menentukan pilihan? Rasanya tidak.

Pertanyaan lebih ke belakang, apakah Anda lebih dulu membaca dan memahami visi dan misi capres sebelum mencoblos? Jika jawabannya 'ya', Anda sungguh warga negara yang langka. Apa ukuran langka? Jumlahnya 1% atau kurang dari populasi.

Data terakhir pada Pilpres 2019 bakal ada 187.109.973 pemilih. Katakanlah partisipasi kali ini tinggi mencapai 70%. Apakah ada sekitar 1,3 juta pemilih (1%) yang baca visi dan misi capres sebelum mencoblos? Ajaib benar jika ada sebanyak itu.

Kiranya visi dan misi capres lebih sering dibaca mereka yang menyusunnya daripada dibaca rakyat yang punya hak pilih. Pembuat visi dan misi itulah produsen dan juga konsumen yang narsistik. Jutaan rakyat pemilih menaruh kepercayaan kepada capres yang dipilihnya dengan pertimbangannya sendiri.

Saya kira pertimbangan yang terpokok terdapat pada perkara 'melihat' atau 'membawa'. Pemimpin diharapkan bukan hanya untuk 'melihat' ke depan (karena itu disebut visioner), melainkan 'membawa' ke masa depan. Membawa mengandung perbuatan nyata dan tahu arah ke mana dibawa.

Itulah masa depan yang dapat dirasakan bakal tercapai karena memang sebagian buktinya telah dirasakan kemarin dan hari ini. Sebaliknya, dalam perkara 'melihat' ke depan, pemimpin belum tentu 'membawa' ke masa depan yang terlihat itu. Kenapa? Visi dan misi itu masih berupa teks. Implikasinya bisa janji tinggal janji.

Yang ingin didengarkan rakyat bukan visi pemimpin yang disusun dan dirumuskan sebagai teks tanpa kehadiran mereka. Inilah visi yang cacat fungsional. Rakyat ingin melihat diri mereka sendiri dalam potret masa depan yang dipetakan pemimpin. Mereka ingin menjadi bagian dari proses, yaitu menciptakan sebuah visi bersama.

Proses menciptakan visi bersama itulah kiranya yang langka dilakukan para pemimpin. Kenapa? Karena memimpin dipandang sebagai urusan penetapan garis dari atas ke bawah. Tidak ada ruang bagi empati dari bawah, padahal inilah kualitas pokok kepemimpinan demokratis.

Hemat saya, pengecualian itulah yang terjadi ketika Presiden Jokowi memberikan bonus kepada atlet sebelum penutupan dua event besar berturut-turut, yaitu Asian Games dan Asian Para Games.

Sesungguhnya dan senyatanya rakyat perlu contoh berupa workable vision, yang nyata dirasakan. Menghargai prestasi atlet dengan bukti nyata tanpa penundaan ialah ekspresi empati, ekspresi nilai-nilai demokrasi. Grounded leader tidak menunggu sampai keringat para atlet mengering.

Hemat saya, pilpres nanti kiranya jelas merupakan kontestasi dan kompetisi memilih siapa yang dipercaya sebagai grounded leader, bukan flighty leader yang mungkin tidak punya jawaban-jawaban nyata atas pertanyaan-pertanyaan rakyat.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.