Ratna Sarumpaet

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
04/10/2018 05:30
Ratna Sarumpaet
()

BEREDAR kabar Ratna Sarumpaet dianiaya tiga orang tidak dikenal. Beredar pula kabar Ratna Sarumpaet tidak melapor ke polisi karena tidak percaya bakal diproses. Kabar, bukan berita. Ternyata bohong. Ratna Sarumpaet berada di kubu oposisi dan pendukung capres Prabowo. Pilihan yang sah dalam demokrasi dan patut dihormati.

Saya berbeda pilihan dengan Ratna Sarumpaet. Saya suka dan kagum Jokowi. Ini pun pilihan yang sah dalam demokrasi dan patut dihormati. Selebihnya kita percaya bahwa rakyatlah yang menentukan pada 17 April 2019. Penentuan siapa presiden terpilih yang kiranya final di tangan rakyat, tidak perlu sampai ke tangan Mahkamah Konstitusi.

Menang atau kalah di tangan rakyat ialah urusan kuantitas di akhir pertandingan. Akhirnya angkalah penentu final. Namun, demokrasi juga urusan kualitas, urusan mutu proses berdemokrasi. Hemat saya, yang terpokok di dalam proses itu ialah menempatkan manusia sebagai manusia dalam maknanya yang terdalam.

Saya berbeda pilihan dengan Ratna Sarumpaet, tetapi dengan ini saya bela haknya untuk berbeda. Kemampuan untuk berbeda dan menghormati perbedaan hakiki hanya milik manusia. Simpanse yang cerdas sekalipun tidak memilikinya. Karena itu, memprihatinkan bahwa menghormati perbedaan rupanya belum menjadi karakter.

Penganiayaan Ratna Sarumpaet ternyata pembohongan publik yang kemarin diakuinya sendiri. Ini contoh buruk. Tentu saja Ratna Sarumpaet tidak melaporkan penganiayaan dirinya ke polisi karena semua itu bohong. Menurut polisi, yang terjadi dia melakukan operasi plastik. Kendati demikian, satu perkara perlu ditegakkan, tidak elok tidak percaya kepada Polri.

Perbuatan pembohongan publik telah menjadi pengetahuan publik. Polri wajib mengusutnya, seperti juga Polri wajib mengusutnya bila yang terjadi Ratna Sarumpaet benar dianiaya. Saya berbeda pilihan dengan Ratna Sarumpaet dalam pilpres, tetapi saya protes bila benar terjadi pembiaran penganiaya Ratna Sarumpaet bebas berkeliaran. Ternyata bohong. Tentu juga tidak boleh terjadi pembiaran atas pembohongan publik yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Negara ini negara hukum.

Terus terang saya tidak suka dengan cara Ratna Sarumpaet mengekspresikan pendapatnya terhadap kekuasaan. Akan tetapi, haknya untuk berpendapat harus saya hormati. Saya berbeda pilihan dengan Ratna Sarumpaet, tetapi pilpres bukan pertandingan hidup atau mati, melainkan pertandingan menang atau kalah dengan riang gembira, dengan terhormat, dengan dignity. Bukan dengan penganiayaan atau pembohongan publik.

Kenapa? Karena siapa pun yang terpilih menjadi Presiden RI, dia presiden kita bersama. Meminjam bahasa kegembiraan dalam pertandingan bulu tangkis, bukankah dalam pilpres yang terjadi all Indonesian final? Demokrasi ialah keindahan berbangsa dan bernegara yang kiranya dapat kita jalani dengan lemah lembut dan kasih sayang (bukan dengan kekerasan atau pembohongan publik) dari dan untuk siapa pun sesama anak bangsa.

Saya berharap Ratna Sarumpaet cepat sembuh dari luka penganiayaan (ternyata tidak benar) atau operasi plastik (bila benar), atau sembuh dari pembohongan publik (benar, diakui sendiri) dan kita semua, siapa pun pilihannya dalam pilpres, sama-sama mengerahkan energi dan kasih sayang untuk saudara-saudara kita di Palu dan Donggala.

 

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima