Pandangan Naif tentang Gempa

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
01/10/2018 05:30
Pandangan Naif tentang Gempa
(MI/Tiyok)

DUKACITA mendalam kembali kita alami akibat gempa bumi dan tsunami yang menelan nyawa dan harta anak bangsa.

Menangani akibat gempa dan tsunami ialah urusan kita 'hari-hari ini'. Namun, kiranya perlu diingat gempa dan tsunami juga punya 'hari-hari yang lalu'. Di hari-hari yang lalu itu ada dua pokok pikiran yang perlu disebut kembali.

Pertama, tidak ada tsunami tanpa didahului gempa. Tidak semua gempa menimbulkan tsunami. Karena itu muncul pengumuman standar, berisi imbauan untuk masyarakat agar tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari BMKG.

Pandangan naif ialah tidakkah segala sesuatu menjadi terlambat karena menunggu informasi dari BMKG untuk tahu adanya potensi tsunami?

Kedua, gempa susulan yang pada umumnya kekuatannya semakin kecil. Yang perlu digarisbawahi frasa 'pada umumnya'. Alam yang 'marah' itu berkemungkinan berkelakuan 'pada khususnya', yaitu gempa susulan yang kekuatannya semakin besar. Karena itu, masyarakat diimbau agar tetap waspada terhadap gempa susulan.

Pandangan naif ialah bagaimana publik tahu yang bakal terjadi gempa bumi susulan yang lebih besar yang tidak umumnya terjadi?

Perihal gempa di Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, yang terjadi, Jumat (28/9) sore, kiranya publik perlu melihat kembali apa yang terjadi enam hari sebelumnya.

Menurut siaran pers BMKG, Sabtu, 22 September 2018, pukul 19.08.20 WIB, telah terjadi gempa bumi tektonik dengan kekuatan M 4,7 dan kedalaman 10 km yang berpusat di 4 km arah barat daya Palu. "Karena gempa bumi ini relatif kecil dan tergolong gempa bumi dangkal sehingga tidak cukup kuat untuk membangkitkan perubahan di dasar laut yang dapat memicu terjadinya tsunami', demikian bunyi siaran pers BMKG. Disebutkan pula, guncangan gempa bumi ini dirasakan di Palu, Parigi, dan Donggala.

Pandangan naif ialah apakah gempa dan tsunami yang dahsyat yang terjadi pada 28 September 2018 itu bukan gempa susulan yang kecil dan dangkal yang terjadi sebelumnya pada 22 September 2018?

Ada pepatah latin yang berbunyi post hoc ergo propter hoc. Terjemahan bebas: Sekali ada kesimpulan yang salah, maka akibat berikutnya juga salah. Sebaliknya, sekali ada kesimpulan benar, maka akibat berikutnya juga benar.

Ada juga yang membahasakan pepatah itu sebagai pertimbangan kita yang paling lumrah bersifat intuitif. Apa itu? Pandangan naif bahwa yang terjadi sebelum suatu petistiwa pastilah menjadi penyebabnya.

BMKG sebagai lembaga yang otoritatif tentu tidak boleh intuitif atau berpandangan naif. Akan tetapi, saya yang awam ini mau nekat intuitif dan naif dengan pertanyaan, tidakkah gempa yang kecil dan dangkal pada Sabtu, 22 September 2018, berhubungan erat dengan gempa dan tsunami yang dahsyat pada Jumat, 28 September 2018? Tidakkah kita naif dengan imbauan masyarakat agar tetap tenang sampai kemudian terjadi malapetaka yang dahsyat?

Gempa bumi bukan hanya punya 'hari-hari ini', atau 'hari-hari yang lalu', melainkan juga punya 'hari-hari yang akan datang'. Kita tidak mengharapkan terjadi bencana. Akan tetapi, bukankah pandangan yang saintifik, bahwa kita sudah tahu di mana bakal terjadi gempa, tetapi kita tidak tahu kapan itu terjadi? Kita sudah tahu, karena kecuali Kalimantan, inilah negeri yang berkalung patahan gempa, yang dengan puitis dibahasakan sebagai negeri dilingkari cincin api.

Pandangan naif bilang betapa kita tidak berdaya perihal dimensi waktu di 'hari-hari yang akan datang' setelah Palu dan Donggala. Persis seperti setelah gempa beruntun di Lombok, kita tidak berdaya bahwa akan terjadi di Kota Palu dan Donggala. Pandangan naif bilang, bukankah lebih bijak kita bersama-sama secara bertahap mengajak warga bermigrasi lokal dan menjadikannya program nasional?

Terus terang, dengan penuh hormat kepada nenek moyang penemu pepatah, saya tidak bisa menerima 'Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak'.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.