Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RASANYA tak ada ekonom asing seyakin ekonom Inggris Jim 0'Neill tentang kehebatan masa depan ekonomi Indonesia. Saking yakinnya, mantan kepala ekonomi Goldman Sachs itu tak perlu lagi berseru wow seperti ketika ia diyakinkan ihwal ekonomi Meksiko, Turki, dan Nigeria.
O'Neill tersohor berkat penemuannya atas BRIC (Brasil, Rusia, Indonesia, China) pada 2001 dan kemudian pada 2010 menambahkan satu negara lagi Afrika Selatan (South Africa) sehingga menjadi BRICS sebagai kelompok emerging market yang memengaruhi ekonomi dunia.
Akan tetapi, pada 6 Januari 2014, melalui radio BBC, ia melansir MINT (Meksiko, Indonesia, Nigeria, Turki) sebagai kelompok ekonomi baru, yang kembali diwacanakan dalam satu talk show di televisi BBC awal bulan ini (3/7). MINT perubahan yang terdengar jauh lebih memikat dengan menyisihkan kelompok BRICS.
Dalam perubahan itu O'Neill, yang tahun lalu diangkat menjadi profesor ekonomi honoris causa di University of Manchester, tetap mempertahankan dan memperhitungkan Indonesia sebagai satu-satunya negara masuk ke kelompok baru bakal menjadi raksasa ekonomi di dunia.
Dari perspektif benua, bahkan Indonesia tinggal satu-satunya dari Asia. Tentu dengan tetap mengindahkan India dan Tiongkok kendati pertumbuhan ekonomi keduanya menurun. Yang jelas Tiongkok kini diwanti-wanti bakal mengalami krisis.
Ketidakefisienan ekonomi negara raksasa itu sesungguhnya ditengarai telah berlangsung lama. Pada 2006, contohnya, ada yang menghitung Tiongkok memerlukan ekstra investasi US$5,4 untuk memproduksi ekstra output US$1. Padahal, 20 tahun sebelumnya hanya diperlukan US$4 untuk memperoleh hasil sama.
Ekspor Tiongkok dinilai murah artifisial karena besarnya negara menyangga merosotnya nilai renmimbi terhadap dolar. Meksiko menggiurkan karena pesatnya kemajuan infrastruktur dan terutama meningkatnya kelas menengah. Bahkan jumlah kelas menengah mencapai lebih separuh penduduk (60,1%). Itulah lapisan masyarakat yang tumbuh dalam 15 tahun terakhir, 17% dari jumlah itu menjadi kelas menengah pada 2000-2010.
Dalam satu dekade jurang kaya-miskin berkurang, sekitar 7 poin pada Indeks Gini, di atas Argentina dan Brasil. Wajarlah jika posisi Brasil digantikan Meksiko.
Afrika Selatan digeser oleh Nigeria yang dinilai berada di jalur ekonomi yang benar menjadi ekonomi terbesar di Afrika dan bakal menjadi negara dengan nominal GDP peringkat ke-20 di dunia pada 2050.
Perubahan terjadi di bawah Menteri Keuangan Ngozi Okonjo-Iweala, yang belajar ekonomi di Harvard dan MIT, serta dua dasawarsa bekerja di Bank Dunia, bahkan menjadi wakil presiden. Pada 2003, ia kembali ke Nigeria. Dalam 10 tahun (2004-2014) GDP Nigeria naik tiga kali lipat disertai perubahan mutu pertumbuhan antara lain kemiskinan menurun.
Nigeria salah satu negara dengan tingkat kematian ibu tertinggi di dunia dapat berhasil dipangkas dari 545 per 100.000 perempuan menjadi 350. Yang menarik di tengah gonjang-ganjing Uni Eropa akibat kebangkrutan Yunani, dari benua itu justru tampil Turki sebagai emerging market.
Salah satu petunjuk pesatnya pertumbuhan Turkish Airlines mengunjungi 261 destinasi di Eropa, Asia, Afrika, Amerika, menjadikannya maskapai penerbangan terbesar keempat berdasarkan jumlah tujuan (Februari 2015).
Turki seperti menyuarakan ironi. Negara itu berupaya keras agar diterima bergabung bermatauangkan euro, tetapi ditolak.
Melihat ke belakang, bila ekonomi Yunani dibandingkan dengan Turki ketika keduanya melamar bermata uang tunggal euro, Jerman sebagai tulang punggung euro sekarang kiranya menyesal meloloskan Yunani, sebaliknya tetap tidak menyesal menolak Turki sekalipun ekonominya lebih kinclong.
Mengapa? Setidaknya karena tekanan imigran Turki sangat berat bagi Jerman dibanding anggota Uni Eropa lain. Di Jerman hidup sekitar 3 juta orang Turki, etnik minoritas terbesar di Jerman. Lebih separuh tetap berwarga negara Turki, tetapi anak-anaknya lahir di Jerman.
Kembali ke negeri sendiri, Jim 0'Neill menilai potensi ekonomi Indonesia lebih kuat tarikannya ketimbang Rusia. Besarnya penduduk usia muda merupakan aset hebat. Dia percaya pertumbuhan ekonomi mencapai 7% dan pada 2050 Indonesia menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia.
Tentu orang tidak hidup semata untuk masa depan, terlebih masa depan yang amat jauh. Karena itu, pemerintah hendaknya tiap saat melakukan autokritik apakah kemampuan menciptakan lapangan kerja meningkat atau tetap mandek. Sudah tentu, terus mengembangkan kapasitas dan kapabilitas sistem sosial merawat dan membela kerukunan suku, agama, dan ras (SARA).
Tanpa itu Indonesia bukan BRICS atau MINT, tapi bisa tinggal puing.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved