Pilpres sebagai Ekspresi Dignity

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
24/9/2018 05:30
Pilpres sebagai Ekspresi Dignity
(MI/Tiyok)

Dalam pilpres satu kata yang seperti daya magis ialah kata 'damai'. Sabtu (22/9) lalu, sehari setelah penentuan nomor urut pasangan calon presiden-wakil presiden, headline sejumlah surat kabar menjadikannya substansi terpokok.

Harian ini misalnya menurunkan kepala berita berjudul 'Jokowi dan Prabowo Serukan Pemilu Damai.' Lalu disertai dengan semacam editorializing, 'Ajakan kedua calon pemimpin yang menginginkan ajang Pilpres 2019 tidak memecah belah bangsa harus tercermin hingga ke akar rumput'.

Harian Kompas pun menurunkan kepala berita yang senada. Judulnya 'Kampanye Damai Jadi Komitmen'. Harian itu juga memberi semacam tajuk, 'Kini yang dibutuhkan adalah upaya untuk menjaga agar komitmen itu tidak diingkari'.

Ada dua anak-pikiran yang dikedepankan dua surat kabar itu. Pertama, 'damai hingga ke akar rumput' dan kedua, 'komitmen damai itu tidak diingkari'.

Apa artinya? Damai itu bisa semata di bibir elite. Merekalah memang yang gemar berkomitmen, tetapi komitmen itu tidak diteruskan dan dipelihara hingga ke para pengikut di tingkat warga.

Yang lebih parah tentu komitmen damai itu boro-boro sampai ke akar rumput, wong elite sendiri mengingkarinya. Elite yang berkomitmen, elite pula yang lidahnya tidak bertulang. Nyatanya dalam kampanye malah elite yang menebar kebencian, permusuhan.

Dalam kampanye di lapangan terbuka yang mengerahkan ribuan warga (jumlah persisnya bergantung pada klaim), mudah-mudahan komitmen damai itu masih terpelihara dengan konsisten. Di arena terbuka itu yang waras boleh berharap elite mampu mengekspresikan dignity/martabat/kehormatan sebagai demokrat sejati yang mengajak pengikutnya untuk memilih capres idaman mereka dengan mengedepankan program yang menyenangkan warga, yang menjanjikan masa depan Indonesia yang lebih baik. Dalam kampanye massa mana ada argumentasi.

Dalam kampanye macam itu janji yang muluk-muluk, yang setinggi selangit ketujuh pun, halal hukumnya.

Cerita menjadi lain dalam hal kampanye melalui media sosial. Yang waras pun berpotensi berkurang kemampuan kritisnya, bahkan sepenuhnya irasional.

Apakah para pemimpin berkemampuan memelihara kampanye damai juga di media sosial? Atau malah yang terjadi sebaliknya, maaf, elite itulah yang mengompori untuk mengingkari komitmen damai?

Setiap orang yang bermedia sosial kiranya merasa superior dengan dirinya sendiri. Superioritas itu terutama bergantung pada kelincahan jari jemarinya memproduksi pesan dan meluncurkannya ke ruang publik setiap saat diinginkan. Perlu diberi aksentuasi perihal kelincahan jari jemari, bukan kelincahan berpikir dan kebeningan hati. Di media sosial yang akunnya personal itu tidak ada sidang redaksi yang punya kaidah-kaidah. Dirinya sendiri reporter, editor, sekaligus pemimpin redaksi. Demikian sempurnanya superioritas personal itu sehingga elite yang gemar kegaduhan bakal menjadikan media sosial sebagai platform kompor no 1 dalam mengingkari komitmen damai.

Pilpres tentu saja dengan sendirinya menaikkan suhu politik. Di situlah berlangsung puncak kontestasi dan kompetisi yang paling seru.

Karena itulah, capres-cawapres berseru dan berkomitmen berkampanye damai.

Akan tetapi, di media sosial tetaplah potensial terjadi pertarungan tajam untuk memenangkan kursi RI 1 dan RI 2. Sekali lagi perlu digarisbawahi, bertarung untuk memenangkan 'kursi', bukan bertarung untuk punya pemimpin bangsa dan negara yang terbukti dapat dipercaya membuat Indonesia lebih baik.

Kampanye damai dalam pilpres perlu komitmen untuk dilaksanakan. Apa yang menghidupi komitmen itu? Jawabnya di kotak suaralah warga mengekspresikan dignity/martabat/kehormatannya, apa pun identitasnya. Pilpres untuk memilih dan menyatukan, bukan untuk memilih dan membelah.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.