Inspirasi Naomi Osaka

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
14/9/2018 05:30
Inspirasi Naomi Osaka
()

ADA dua peristiwa olahraga yang sekaligus menjadi perihal budaya. Keduanya dari Jepang. Yang terbaru, kemenangan petenis muda Jepang, Naomi Osaka, di Amerika Terbuka, di Arthur Ashe Stadium, New York, Ahad pekan silam. Gadis berusia 20 tahun itu menghentikan mimpi Serena Williams, pemegang 23 kali gelar di turnamen grand slam, yang menjadi idolanya.

Sedikitnya ada dua kemenangan yang diukir gadis penyuka permainan Pokemon itu. Pertama, kemenangan melawan Williams dengan dua set langsung, yakni 6-2 dan 6-4. Ia menjadi petenis Jepang pertama yang mengukir gelar di turnamen grand slam di nomor tunggal. Dua tahun lalu Williams pernah memuji petenis Jepang itu bakal 'berbahaya', dan ia betul-betul merasakan 'bahaya' itu.

Kemenangan Osaka menjadi penghiburan besar bagi rakyat Jepang yang tengah berduka dihantam bencana berturut-turut selama sepekan, yakni gempa bermagnitudo 6,7 skala Richter di Hokkaido dan Topan Jebi di bagian barat dan tengah Jepang. Puluhan orang meninggal, satu juta warga mengungsi.

"Terima kasih sudah memberikan energi dan inspirasi kepada semua warga Jepang," puji Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe lewat akun Twitter-nya. Jepang, bangsa yang punya banyak prestasi di bidang industri, ternyata butuh kebanggaan dan penguat diri dari olahraga.

Kedua, kemenangan melawan publik Amerika yang tak mau petenis pujaannya kalah. Terlebih ada drama ketegangan antara Williams dan wasit, Carlos Ramos, yang memimpin pertandingan. Serena menuding Ramos berbuat culas. Ia membanting raketnya hingga reyot. Inilah malapetaka baginya. Wasit pun memberikan poin pada Osaka.  

Adegan itu saja sudah menguras emosi, tentu juga emosi penonton. Ada lontaran cemooh yang riuh kepada wasit. Namun, Osaka tetap tenang dan akhirnya menang. Namun, tak ada ekspresi kelewat riang sang pemenang yang kontras dengan kesedihan sang pecundang.

Selama upacara penyerahan piala, ia kerap menutup wajah dengan topi karena tangisnya yang tak berhenti. Ia terus menunduk. Sesekali menatap sejenak ke arah penonton yang riuh. Ia merasa telah menyakiti penonton dan sang idolanya.  

"Saya minta maaf. Saya tahu bahwa semua orang bersorak untuk Williams dan saya menyesal bahwa itu harus berakhir seperti ini. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih yang telah menonton pertandingan. Terima kasih," ujar Osaka terbata-bata. Ia juga canggung ketika menerima piala, seolah ia mengatakan piala itu lebih pantas untuk Williams. Ada banyak penonton yang berderai air mata.

Untunglah Williams yang impulsif di lapangan jadi rendah hati seusai permainan. Ia terus menguatkan juniornya yang sulit berkata-kata. Keduanya menangis dan saling menguatkan. Jadilah upacara penyerahan piala pemandangan penuh sedu sedan. Dalam konferensi pers, berkali-kali pula Naomi mengucapkan terima kasih kepada Serena, yang dicintainya.

Ketulusan Osaka itulah yang disebut warganet, "Dia orang Jepang dan membuat Jepang bangga." Itulah nilai-nilai Jepang yang gigih dan pandai dalam pengendalian diri. Padahal, sejak sebelum sekolah dasar Naomi telah pindah ke ‘Negeri Barack Obama’ itu memang untuk belajar tenis. Namun, nilai-nilai Jepang tetap melekat dan hidup kepada Naomi. Inilah identitas Jepang. Inilah kultur Jepang.

Peristiwa lainnya ialah Piala Dunia 2018 di Rusia, medio tahun ini.  Langkah Jepang memang terhenti di babak 16 besar, tetapi mereka menang di hati penonton. Setiap timnas Jepang seusai laga, para penonton Jepang  bergerak menjadi tim kebersihan. Dengan membawa kantong sampah berukuran besar, mereka bergerak serentak memunguti sampah-sampah yang berserak-serak. Tak segan pula mereka menepuk bahu penonton yang jorok membuang sampah untuk memungutnya kembali.

Mereka menunjukkan kebersihan ialah hal dasar yang melekat pada masyarakat Jepang. Di negeri itu, kebersihan menjadi satu paket dengan budaya jujur, budaya malu, kerja keras, budaya baca, dan budaya berdisiplin. Jiwa gotong royong mereka tak lekang oleh waktu. Mereka bangsa tak pernah lupa pada 'bumi' meski kemajuan teknologi telah 'menerbangkannya ke langit tinggi'.     

Seperti ditulis Francis Fukuyama, Jepang menjadi salah satu bangsa selain Jerman, yang tingkat kepercayaan antarmasyarakatnya amat tinggi (high trust society). Padahal, sejak kecil ia telah berpindah ke Amerika untuk belajar tenis, tetapi nilai-nilai pengendalian diri, kesantunan, dan penghargaan pada orang lain tak pudar. Itulah nilai-nilai Jepang. Tiongkok pun berterus terang, dalam menggapai kemajuan hari ini, banyak belajar pengendalian diri pada Jepang.

Lalu, ke mana Indonesia yang sejatinya menjadi sumber banyak kearifan dan keunggulan berbasis masyarakat? Sayang, hanya karena perbedaan pilihan politik, kita saling menyerang dengan brutal. Itulah wajah kita di media sosial. Demi kepentingan politik, fakta ditertawakan dan kebenaran diinjak-injak. Yang terpenting menyeranglah terlebih dahulu, secepat-cepatnya, sebanyak-banyaknya, dan senyaring-nyaringnya.

Wajah-wajah para pembuat keonaran itu kerap terbayang-bayang. Wajah-wajah yang sesungguhnya bukan kita. *

 

 

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima