Pemimpin Jahat Buah Kekonyolan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
23/8/2018 05:30
Pemimpin Jahat Buah Kekonyolan
()

SIAPAKAH yang berhasrat memilih pemimpin jahat menjadi presiden dalam pilpres nanti? Maaf, ini pertanyaan konyol.

Lebih konyol lagi kalau ada anak bangsa ini yang mengidolakan pemimpin jahat karena itu kepingin presiden jahat yang terpilih pada Pilpres 2019.

Sebetulnya penulis pun termasuk anak bangsa yang konyol. Kenapa? Karena membahas perkara konyol ini.

Perihal pemimpin jahat itu muncul dalam pembicaraan publik dipicu pendapat yang intinya bilang dalam pilpres jangan golput agar tidak terpilih pemimpin yang jahat. Padahal, Pilpres 2019 menampilkan dua pasang capres-cawapres yang saya yakin semuanya bukan orang jahat.

Apa ukurannya? Izinkan saya pakai ukuran paling formal bahwa semua capres-cawapres memenuhi syarat pencalonan dan partai pengusung semuanya waras tidak mengusung orang jahat.

Maka dari itu, siapa pun yang terpilih tidak ada pemimpin jahat. Karena itu, kiranya yang menjadi pokok persoalan bukan pemimpin jahat yang akan dihasilkan, melainkan agar partisipasi pemilih dalam pilpres tinggi.

Bila melihat kecenderungan sejak 2004, sebetulnya wajar bila timbul kekhawatiran partisipasi pada Pilpres 2019 tidak lebih baik daripada pilpres-pilpres sebelumnya.

Pada Pilpres 2004 putaran pertama partisipasi mencapai 78,2%, berarti golput 21,8%. Pada Pilpres putaran kedua partisipasi malah turun mencapai 76,6%, berarti golput 23,4%.

Partisipasi dalam Pilpres 2014 sebesar 69,58%, turun jika dibandingkan dengan Pilpres 2009 yang mencapai 71,71%. Ini berarti golput naik dari 28,29% menjadi 30,42%.

Demikianlah partisipasi pada tiga kali pilpres yang mencapai sekitar 70% dan golput sekitar 30%. Apakah itu buruk?

Jelas tidak buruk. Jelas pula partisipasi sejumlah itu cukup bermakna bagi tegaknya legitimasi presiden-wakil presiden terpilih.

KPU pernah menargetkan partisipasi pilpres mencapai 75%. Target itu tidak pernah tercapai sehingga KPU pun sepertinya tidak lagi bernafsu memasang target partisipasi.

Mungkinkah target itu malah tercapai pada 2019? Bukankah Pilpres 2019 istimewa karena dilaksanakan serentak dengan pileg? Hal yang pertama kali terjadi. Karena itu, boleh diharapkan justru membawa gairah baru bagi rakyat untuk menggunakan hak pilihnya.

Rentang waktu antara pencalonan capres-cawapres dan hari pemilihan presiden tergolong amat panjang. Sebelum masa kampanye tiba, di ruang publik telah berhamburan dan berseliweran suara banyak elite yang gemar berbicara. Ini buah kebebasan berbicara, kebebasan berpendapat, berdemokrasi yang tergolong terbesar di dunia. Apa eksesnya?

Di dalam banyak bicara kiranya ada kekonyolan seperti perihal pemimpin jahat yang rasanya tidak perlu menimbulkan perbantahan di ruang publik yang juga konyol.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.