Klona Penuh Pesona

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
21/8/2018 05:30
Klona Penuh Pesona
()

INDONESIA ialah pekik hidup bersama yang menggelora di hari-hari revolusi 1945 yang hingga kini terus terpelihara, meski kadang melindap karena beberapa perkara. Indonesia ialah geografi serupa zamrud khatulistiwa (the emerald of equator), seperti kata Eduard Douwes Dekker (Multatuli), meski ada kalanya kurang kita syukuri. Indonesia ialah nyanyi, tari, tradisi lisan, pantun, gurindam, berbagai ekspresi seni dan budaya yang terus hidup dan menjadi ruh bangsa ini, meski kerap kita sepelekan.

Benar kata mendiang Mochtar Lubis, salah satu ciri manusia Indonesia ialah sifatnya yang artistik. Kedekatannya dengan alam menjadikan mereka mempunyai daya imaginasi yang tumbuh subur. Seni ialah 'ruh' bangsa ini. Budaya kita yang teramat kaya menjadi sumber kreativitas yang tak pernah habis. Tak salah jika UNESCO memuji Indonesia sebagai superpower di bidang kebudayaan.

Upacara pembukaan (opening ceremony) Asian Games Ke-18 Jakarta-Palembang, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Sabtu lalu, ialah salah satu pembuktian bangsa artistik itu. Di atas panggung sepanjang 135 meter, lebar 30 meter, dan tinggi 26 meter, keragaman negeri multikultur yang dikelilingi laut, hutan, dan gunung-gunung itu, hadir dengan penggah (megah) dalam sebuah replika Indonesia yang indah. Sajian khas negeri kepulauan untuk persatuan.

Panggung dari rangka baja dengan bobot 600 ton itu dilengkapi air terjun. Di panggung ini klona (imitasi) Indonesia dengan hutan menghijau, lautan yang bergelora, dan gunung api, yang hadir dalam pentas kolosal dengan ribuan penari, seperti tanpa cela. Berbagai tarian dengan aneka kostum dan gerak, aneka nyanyian dengan berbagai filofosi hidup, hadir ganti-berganti, dan sambung menyambung. Namun, satu sama lain tak terpisahkan.

Semua direkatkan oleh senyawa alam yang amat kuat untuk menjadi satu bangsa. Inilah identitas negeri yang tak tunggal. Indonesia bukan hanya Jawa, Sunda, Bali, tetapi Melayu, Aceh, Papua, Maluku, Bugis, dan semua etnis yang berjumlah 714 buah. Bangsa yang disatukan oleh bahasa Indonesia ini, juga dikuatkan dengan 1.100 bahasa daerah.

Sajian itu dikemas dalam sentuhan modernitas pentas yang penuh gairah namun tetap dalam harmoni. Efek pencahayaan yang apik dan sentuhan tiga dimensi, menjadikan pertunjukkan kolosal itu memukau sekitar 21.000 undangan, termasuk 17.000 atlet dan ofisial yang hadir di GBK. Dunia pun takjub. Kita pun bangga. Bangga karena kekayaan budaya itu bisa dipanggungkan dengan indah dan megah.

Salah satu magnet ketakjuban itu ialah tari Ratoh Jaroe dari Aceh dengan 1.600 penari dari berbagai SMA di Jakarta. Dengan kostum ganti-berganti warna mereka membentuk aneka formasi yang indah. Betapa berkelas tarian ini. Adegan letusan gunung dibawakan 3.600 penari juga tak kalah memesona.

Kedatangan Jokowi di arena di awal acara pembukaan dengan drama 'tipuan video', yakni menaiki motor gede dengan akrobatik -tentu menggunakan peran pengganti atau stuntman-- juga menjadi kejutan yang menghibur. Ada kritik memang. Tapi inilah panggung hiburan untuk mengawali pesta olahraga terbesar di Asia yang menghadirkan 45 negara (18 Agustus-2 September), mestinya menjadi pembuka pesta yang penuh suka cita meski penuh persaingan dalam setiap pertandingan.

"Melalui Asian Games Ke-18 bangsa Asia ingin menunjukkan bahwa kita bersaudara, bersatu, dan kita ingin meraih prestasi," kata Presiden Jokowi dalam sambutan pembukaannya. Sementara Ketua Panitia Pelaksana Asian Games Eric Thohir mengungkapkan, Indonesia ingin memberikan contoh bagaimana negeri dengan umat Islam terbesar di dunia tapi damai dalam harmonis. "Kami menyebutnya Bhineka Tunggal Ika atau Unity in Diversity. Welcome to Indonesia, the energy of Asia!," seru Erick.

Secara keseluruhan pentas yang dibagi empat segmen yang menyimbolkan air, bumi, angin, dan api itu menjadi panggung kolosal paling megah dan menawan sepanjang pembukaan Asian Games yang pernah dihelat di benua yang dihuni 4,3 milar penduduk itu. Kolaborasi penata panggung Wisnuthama, koreografer Denny Malik dan Eko Supriyanto, serta pengarah musik Addie MS, perlu kita puji karena hasilnya yang maksimal. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pun mengatakan, tak ada yang tak bergetar menyaksikan pertunjukan pembukaan Asian Games Ke-18.

Acara ini pun menjadi trending topic dunia di jejaring media sosial Twitter. Kita bangga. Bangsa besar mestinya juga penuh jiwa-jiwa besar, yang bisa memilah mana yang berbeda mana yang harus bersama. Perhelatan Asian Games Ke-18 di Indonesia untuk kali kedua setelah yang pertama pada 1962, layaklah menjadi kebanggaan bersama yang menyatukan. Dua Korea yang bermusuhan pun bisa hadir bersama dengan satu bendera. Alangkah memalukan jika kita sebagai penyelenggara justru terus berseteru.

Semoga kita bisa mewujudkan mewujudkan sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, dan sukses promosi tentang Indonesia, sebagai pusat energi Asia.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima