Tentang Israel

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
03/8/2018 05:30
Tentang Israel
()

AGAKNYA tak ada pemimpin dunia yang teramat total menolak Israel dan membela Palestina selain Bung Karno. Tak terkecuali di perhelatan olahraga Asian Games Ke-4 di Jakarta pada 1962. Ia tak sudi memberi visa kepada para atlet 'Negeri Yahudi' itu, juga Taiwan. Waktu itu bangsa-bangsa Arab masih berjuang melawan Israel dan negara-negara Barat mengucilkan Tiongkok dan hanya mengakui Taiwan. Melawan Israel dan Taiwan artinya melawan imperialisme dan Barat.

"Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel," Bung Karno menegaskan.

Si Bung tak peduli kecaman harus dihadapi sendirian, terutama dari Komite Olimpiade Internasional (OIC). Komite itu akhirnya menskors keanggotaan Indonesia tanpa batas waktu. Alih-alih tunduk, Bung Karno justru melawan. Ia perintahkan Komite Olimpiade Indonesia untuk keluar dari IOC. Sebagai tandingan, ia membentuk Ganefo atau pesta olahraga khusus negara-negara berkembang. Kemandirian itulah yang ia ajarkan. Tak tunduk pada Barat, itulah yang ingin ditunjukkan.

Indonesia, negeri muda itu, juga tak luluh hatinya ketika Israel mengucapkan selamat atas kemerdekaan setelah kedaulatan penuh pada 1949. Ada maksud negeri itu agar Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Wakil Presiden Mohammad Hatta hanya mengucapkan terima kasih. Tak lebih.

Bung Karno juga tak mengundang 'Negeri Yahudi' itu hadir pada Konferensi Asia Afrika 1955. Dua tahun kemudian, ia melarang tim nasional sepak bola Indonesia bertanding melawan Israel. Waktu itu timnas Indonesia lolos pertandingan tingkat Asia dan hanya perlu bertanding melawan Israel untuk bisa lolos ke Piala Dunia 1958 di Swedia.

Bagi Indonesia, membela Palestina secara konsisten jauh lebih penting daripada bertanding di Piala Dunia. Si Bung juga tak tergoda meski beberapa negara Arab membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Itulah konsistensi sebuah prinsip.

Kini, kita paham, Bung Karno memang punya cara pandang dunia yang jauh ke depan, utamanya Israel. 'Negeri Yahudi' itu, setelah Amerika Serikat memindahkan kantor kedutaan besarnya dari Tel Avif ke Jerusalem, kian tak terkendali dalam menjalankan ideologi zionismenya. Kamis pekan silam, Knesset (parlemen Israel) mengesahkan Rancangan Undang-Undang Negara Bangsa Yahudi menjadi undang-undang yang isinya amat diskriminatif. Intinya, menjadikan keturunan Yahudi menjadi bangsa kelas satu. Adapun warga keturunan Arab yang jumlahnya sekitar 1,8 juta jiwa (20% dari penduduk Israel yang 9 juta) menjadi warga kelas dua.

UU itu juga menyebut Israel sebagai tanah historis Yahudi. Jerusalem, yang merupakan kota internasional, diklaim sebagai ibu kota yang tak bisa dibagi. Hanya Yahudi yang mempunyai hak istimewa untuk menentukan nasib sendiri. Bahasa Ibrani menjadi satu-satunya bahasa resmi. Bahasa Arab yang semula menjadi bahasa resmi diturunkan kelasnya menjadi bahasa berstatus khusus.

Para politikus keturunan Arab mengecam UU itu. Mereka menyamakan undang-undang itu tak beda dengan politik apartheid yang dijalankan pemerintahan kulit putih di Afrika Selatan. Pada 1994 politik diskriminatif itu dihapus di masa Nelson Mandela.

Protes dari politisi keturunan berbagai kalangan seperti politisi dan anggota militer keturunan Arab tak digubris. Yang tak kalah gigih juga perlawanan dari 180 penulis dan pengarang Yahudi. Pena para pengarang di banyak negeri ialah suara terdalam manusia. Mereka menyurati Knesset sebelum UU itu disahkan.

'Kami menuntut penghapusan segera undang-undang negara-bangsa yang menciptakan keretakan antara masyarakat Israel dan Yahudi Amerika, mendiskriminasikan orang-orang Arab, Druze dan Badui, dan merongrong koeksistensi mayoritas Yahudi di Israel dengan minoritasnya', tulis surat tersebut. Tak dianggap.

Israel kian tak terbendung dalam upaya mendiskriminasi warganya. Di tengah arus besar dunia membangun kesetaraan warga negaranya, Israel justru membuat jurang kesetaraan. Inilah politik hukum apartheid di Israel. Bara konflik di Timur Tengah pun jadi muskil dipadamkan.

Kini, kita menjadi paham dan respek terhadap sikap keras Bung Karno pada Israel sebab betapa bahayanya negeri itu dalam meniadakan Palestina. Asian Games kali ini, selain kita harus mengukir prestasi (medali dan penyelenggaraan), juga ajang untuk menunjukkan karakter dan kehormatan diri.

Sikap Bung Karno dan Indonesia yang total mendukung Palestina dan keras pada Israel sejak awal kemerdekaan juga bisa menolak klaim pihak tertentu yang merasa paling dekat dengan Palestina dan paling keras mengutuk Israel. Terutama menghadapi tahun politik ini. Sejarah telah bercerita panjang soal itu.

:       



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.