Sinyal Usil dan Iseng Cawapres

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
26/7/2018 05:30
Sinyal Usil dan Iseng Cawapres
()

DUA hari berturut-turut publik mendapat sajian penting perihal Pilpres 2019. Pada Senin (23/7) koalisi enam partai bertemu Jokowi di Istana Bogor. Besoknya, Selasa (24/7), SBY dan Prabowo beserta petinggi partai masing-masing bertemu di kediaman SBY di bilangan Kuningan, Jakarta.

Pertemuan SBY dan Prabowo menunjukkan pertanda kuat bahwa Partai Demokrat meninggalkan peranannya sebagai partai penyeimbang. SBY menyetir partainya berpihak kepada Prabowo.

Pertemuan pimpinan Partai Demokrat dengan pimpinan Partai Gerindra itu pertemuan bilateral. PKS yang selama ini erat berkoalisi dengan Partai Gerindra tidak ikut serta. Apa maknanya?

Pembicaraan bilateral itu layak ditengarai membicarakan cawapres. Dikatakan atau tidak dikatakan kepada publik, penentuan cawapreslah urusan yang belum tuntas. Benarkah? Ada sinyal iseng orang usil, jangan-jangan bukan Prabowo yang bertanding dengan Jokowi. Pilpres 2014 tidak bakal terulang kembali.

PKS jelas dan tegas menginginkan kadernya yang menjadi cawapres untuk mendampingi capres Prabowo. Keinginan PKS itu disuarakan dengan tanda seru, berupa ancaman untuk berpisah. Namun, sejauh ini tiada kata putus dari Prabowo dan juga faktanya Prabowo baru semata menjadi capres Gerindra, bukan atau belum capres koalisi.

Dari segi jumlah kursi, logis bila Partai Demokrat yang kursinya di DPR lebih banyak daripada PKS berpandangan kadernyalah yang lebih patut menjadi cawapres. Publik pun tahu betapa SBY menginginkan anaknya, AHY, yang menjadi cawapres. Akan tetapi, pikiran iseng dan usil bisa membalikkannya.

Tidak berlebihan untuk berspekulasi menyimpulkan di dalam dinamika penentuan cawapres itu SBY yang menang. Apakah PKS bakal mutung?

Apa pun alasannya, partai yang punya kursi di DPR tidak bijak secara politik 'mutungan', yaitu tidak mengambil peran dalam mengusung capres/cawapres. Bila tidak berkoalisi dengan Prabowo, ke manakah PKS bergabung? Jika hanya ada dua poros, mungkinkah terjadi PKS bergabung dengan poros Jokowi? Ini juga pikiran iseng dan usil.

Iseng dan usil itu membuka kemungkinan koalisi yang lebih besar di kubu Jokowi untuk masa pemerintahan kedua. Koalisi yang sebaiknya telah terbentuk sebelum pilpres, yaitu koalisi sesama pengusung capres.

Pertemuan koalisi enam partai dengan Jokowi menghasilkan kesimpulan terpokok menyerahkan cawapres kepada Jokowi untuk menentukan wakilnya. Kesimpulan yang bijak yang kiranya mengatasi potensi gesekan sesama partai pengusung Jokowi.

Urusan politik nasional saat ini sepertinya bukan mencari orang nomor 1, melainkan mencari orang nomor 2 di Republik ini untuk masa pemerintahan 2019-2024. Namun, itu sejauh ini hanya benar untuk capres Jokowi, dan karena itu publik penasaran nama siapa yang akan keluar dari kantong Jokowi.

Sebaliknya, dari kantong siapakah nama pendamping Prabowo bakal keluar? Belum tentu dari kantong Prabowo, karena sejauh ini koalisi belum terbentuk dengan bulat berkeputusan menjadikan Prabowo sebagai capres.

Kemarin pagi, saya melintas di depan Kantor DPP Partai Demokrat di Jalan Proklamasi, Jakarta. Terbacalah di situ sebuah spanduk bertuliskan 'pemimpin milenial', dengan gambar AHY di kiri dan Sandiaga Uno di kanan. Apakah itu sinyal capres dan cawapres dari koalisi Demokrat dan Gerindra? Terus terang, saya terdorong untuk serius membaca spanduk iseng dan usil itu.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima