Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG tokoh, elite di negeri ini, duduk di business class di sebuah penerbangan komersial kiranya perkara yang wajar. Mestinya juga tidak terkecuali untuk seorang Amien Rais, pendiri PAN, mantan Ketua MPR.
Tentu duduk di kelas bisnis di penerbangan domestik membuka peluang penumpang kelas ekonomi melihat sang tokoh. Melihat ada Amien Rais, seorang penumpang yang duduk di kelas ekonomi kursi No 8A, terdorong rasa penasaran lalu menulis sepucuk surat yang dititipkan kepada pramugari untuk disampaikan kepada Amien Rais.
Isinya, "Mumpung ketemu di pesawat walaupun bapak duduk di Bisnis. Penasaran saya, kenapa bapak benci sekali dengan pak Jokowi? Salah apa Presiden saya ke Bapak? Kesal juga dengar bapak hina-hina presiden saya. Enjoy your business class sir!"
Setelah pesawat mendarat di bandara Adisutjipto, Yogya, penumpang kelas ekonomi itu mengejar Amien Rais. Terjadilah percakapan pendek, antara lain penumpang kelas ekonomi itu bilang. "Saya rakyat Indonesia, tidak terima bapak hina-hina Jokowi," yang dijawab, "Kamu antek Cina."
Di akhir percakapan, Amien Rais mengajak salaman dan berfoto, tetapi ditolak disertai pernyataan dalam bahasa Jawa, "Emoh, nek foto karo Jokowi aku gelem!."
Kisah itu beredar di media sosial dan menimbulkan pro dan kontra. Ada yang berpendapat itu hoax, ada yang percaya bahwa hal itu benar terjadi, bukan fantasi.
Fantasi sekalipun isi surat itu mengandung kebenaran, yaitu rasa penasaran pemilih Jokowi, kenapa Amien Rais benci sekali dengan Jokowi? "Salah apa Presiden saya?", merupakan pertanyaan yang mewakili banyak orang yang tidak disampaikan langsung kepada Amien Rais. Bilapun ada orang yang bakal memilih lagi Jokowi pada 2019 kebetulan melihat Amien Rais, seperti penumpang kelas ekonomi itu, orang itu memilih menyimpan rasa penasarannya di dalam hati.
Kenapa Amien Rais benci sekali Jokowi? Apa salah presiden saya? Pertanyaan pertama kiranya berkaitan dengan ekspresi di wilayah psikoanalisis. Salah satu penjelasan menggunakan konsep 'proyeksi' Sigmund Freud, yang mendeskripsikan kecenderungan kita untuk menolak apa yang kita tidak sukai tentang diri kita.
Ada yang mengembangkannya lebih jauh, proyeksi sebagai kebutuhan kita menjadi baik, yang menyebabkan kita memproyeksikan keburukan keluar diri dan menyerangnya.
Pendapat lain tentang kebencian berangkat dari kebalikannya, yaitu compassion terhadap orang lain seperti terhadap diri sendiri. Jika saya memelihara benci kepada orang lain, terkandung di dalamnya saya pun membenci diri saya. Siapakah saya ini gerangan?
Amien Rais ialah tokoh besar, Ketua MPR, bapak reformasi. Tapi tidak terpilih menjadi presiden. Siapakah Jokowi? Tokoh kecil, Wali Kota Surakarta, malah jadi presiden. Hemat saya, di sanalah urusan proyeksi atau compassion.
Pertanyaan kedua apa salah presiden Jokowi? Pertanyaan ini berkaitan dengan ekspresi di wilayah kebijakan publik yang memerlukan jawaban kepublikan yang jujur, berbasiskan fakta, dan argumentatif.
Kualitas macam itu kiranya hanya dapat diproduksi tokoh yang punya compassion terhadap orang lain seperti terhadap diri sendiri.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved