Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG rekan pada Rabu (8/7) pukul 10.01 WIB mengirim multimedia messaging service (MMS) berisi pertanyaan mengejutkan. Apakah telah terjadi perubahan nomenklatur BIN dari Badan Intelijen Negara menjadi Badan Intelijen Nasional?
Bersama pertanyaan itu dikirim pula foto sepucuk undangan sebagai fakta pendukung. Undangan itu berasal dari Menteri Sekretaris Negara.
Isinya 'Mengharap dengan hormat kehadiran Bapak/Ibu/Saudara pada acara Pelantikan Kepala Badan Intelijen Nasional dan Panglima Tentara Nasional Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia hari Rabu, tanggal 8 Juli 2015, pukul 12.45 WIB bertempat di Istana Negara, Jakarta'.
Pada hari itu juga pukul 14.51, kembali melalui MMS, rekan tadi mengirim siaran pers yang dikeluarkan Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Djarot Sri Sulistyo.
Isinya (1) Kementerian Sekretariat Negara setelah menyadari adanya kesalahan teknis penulisan pada undangan pelantikan Kepala BIN dan Panglima TNI secepatnya telah menarik dan menggantinya dengan penulisan yang benar.
(2) Penulisan yang benar ialah Kepala Badan Intelijen Negara, sesuai dengan undangan yang telah kami kirimkan kembali pada tamu/pejabat yang diundang.
(3) Kementerian Sekretariat Negara memohon maaf atas hal tersebut.
Kementerian Sekretariat Negara akan berupaya meningkatkan kualitas layanan administrasi di Lembaga Kepresidenan.
Begitulah isinya antara lain memohon maaf. Besok Lebaran, mari bermaaf-maafan, lahir dan batin. Isi lainnya, janji meningkatkan kualitas layanan administrasi di lingkungan lembaga kepresidenan, tentu sangat membesarkan hati.
Akan tetapi, menyebut kesalahan penulisan Badan Intelijen Negara menjadi Badan Intelijen Nasional sebagai kesalahan teknis, kiranya layak dipersoalkan. Mengapa?
Kesalahan teknis sering dijadikan kambing hitam gampangan dan apologi ampuh. Lagi pula, apakah kesalahan teknis masih sahih dijadikan alasan di zaman kemajuan teknologi informasi?
Untuk menjawabnya saya iseng memasukkan 'bin' ke dalam mesin Google. Seketika di layar paling atas tampil Badan Intelijen Negara (BIN) dan persis di bawahnya www.bin.go.id. Karena itu, kesalahan teknis bukan pangkal persoalan. Lalu di mana duduk persoalan?
Maaf, saya khawatir terjadi kemalasan berpikir. Yang malas berpikir mengira 'Nasional' pada TNI lebih hebat daripada 'Negara'. Karena itu, penulisan 'Nasional' dalam Tentara Nasional Indonesia yang dijadikan patokan, sehingga terjadilah penulisan Badan Intelijen Nasional yang jelas salah. Kemalasan berpikir bisa juga menyangkut referensi sejarah.
TNI tidak dilahirkan oleh negara, tapi oleh pemuda-pemuda bersenjata yang memperjuangkan kemerdekaan secara militan. Karena itu, yang lahir bukan Tentara Negara Indonesia, melainkan Tentara Nasional Indonesia. Sebaliknya BIN, memang dibentuk negara. Karena itu, kepanjangannya Badan Intelijen Negara.
Bila penilaian kesalahan berpikir dianggap berlebihan, kiranya yang terjadi keteledoran dalam mikromanajemen. Bukan urusan presiden mikromanajemen. Namun bila kesalahan pidato menyebut kelahiran Bung Karno di Blitar, disusul kesalahan penulisan BIN, disusul entah kesalahan apa lagi diproduksi di lingkungan lembaga kepresidenan, semua itu bisa menggerus wibawa pemimpin nasional. Karena itu, janganlah menyepelekan mikromanajemen.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved