Bagaimana Singapura Menghadapi 2.500 Wartawan?

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
11/6/2018 05:30
Bagaimana Singapura Menghadapi 2.500 Wartawan?
(MI/Tiyokl)

SELURUH dunia tidak perlu menyangsikan bahwa Singapura punya semua fasilitas bintang lima untuk menjadi tuan rumah pertemuan bersejarah Presiden AS Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pada 12 Juni 2018. Dunia pun tidak perlu meragukan kecanggihan manajemen Singapura yang terkenal sangat efisien.

Namun, dunia perlu meragukan apakah Singapura mampu menjadi tuan rumah yang ramah terhadap jurnalis yang menyandang kebebasan pers yang datang dari berbagai negara untuk meliput peristiwa bersejarah itu. Kenapa? Singapura menempati rangking 151 dari 180 negara di dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2018. Pemerintah Singapura dinilai sebagai pemerintah yang intoleran dan self-censorship.

Pemerintah Singapura pernah menuntut dua media terkemuka di dunia, The Economist dan International Herald Tribune, dan Singapura menang.

Contoh lain, pada 1971 bapak bangsa Singapura Lee Kuan Yew menutup dua surat kabar dan menangkap eksekutif sebuah koran. Katanya, kebebasan media harus disubordinasikan kepada tujuan utama dipilihnya sebuah pemerintahan. Kala itu PM Lee memimpin Singapura hasil pemilihan umum 1968, pemilu pertama di negara itu. Kiranya prinsip menyubordinasikan kebebasan pers itu dipegang teguh generasi penerus pemimpin Singapura hingga sekarang.

Untuk meliput pertemuan Trump-Kim yang bersejarah itu, Singapura menyediakan media center yang menyenangkan. Luasnya 23.000 m2 di F1 Pit Building di kawasan Marina Bay. Media center itu mulai dibuka 10 Juni 2018, pukul 10.00, ditutup 13 Juni 2018, pukul 22.00.

Media center itu dilayani 300 orang petugas, dipimpin seorang senior manajer yang juga fasih berbahasa mandarin. Media center itu bukan hanya tempat wartawan bekerja, melainkan juga bersantap. Tersedia 45 macam makanan dari 15 jenis masakan berbagai negara (Singapura, Malaysia, Thailand, Korea, Jepang, Tiongkok, India, Prancis, Amerika, Italia, Inggris, Australia, Brasil, dan masakan Timur Tengah) untuk makan siang dan makan malam. Di antaranya santapan yang populer di Singapura, yaitu laksa yang dihidangkan panas-panas.

Makan itu perlu, tapi 2.500 wartawan terdaftar dari berbagai penjuru dunia itu--terbanyak dari Jepang, Korea, dan AS--ke sana bukan untuk makan, melainkan meliput. Dalam urusan profesional inilah, dalam perspektif kebebasan pers, muncul persoalan besar.

Kamis (7/6) lalu, dua wartawan televisi terbesar Korean Broadcasting System (KBS) ditangkap karena masuk tanpa izin ke kediaman Duta Besar Korea Utara di bilangan Joo Chiat Lane. Seorang lagi awak KBS dan seorang penerjemah diinterogasi. Ketiga awak KBS itu tidak terdaftar untuk meliput. Apa kata Menteri Komunikasi dan Informasi Singapura S Iswaran?

Katanya, kewajiban utama Singapura menjamin agar pertemuan bersejarah Trump dan Kim berlangsung lancar dan aman. Mereka yang terlibat dalam pertemuan itu dapat bekerja dengan fokus, tanpa terganggu apa pun.

"Kami ingin wartawan asing dapat bekerja dengan lancar dan efektif. Kepada mereka yang datang dari luar, tentu saja kami berharap mereka menghormati hukum kami, dan saya pikir itu harapan yang masuk akal. Mereka yang tidak menghormati hukum kami, biarlah hukum ditegakkan."

Politico, situs jurnalisme politik berbasis di Virginia, AS, edisi Rabu lalu (6/6) menceritakan apa yang dialami John Hudson, reporter Washington Post. Dia diusir keluar Hotel Capella Singapura ketika berupaya mengambil foto dan mewawancarai petinggi AS dan Korea Utara yang keluar dari rapat resmi di hotel itu.

Singapura belum pernah menghadapi 2.500 wartawan. Perlakuan kasar terhadap wartawan, termasuk menangkap rekan sejawat itu, besar kemungkinan terjadi di puncak acara. Namun, siapa peduli? Korut jelas negara otoriter, Singapura negara represif terhadap pers. AS negara demokratis, tapi Trump bukan presiden yang menghormati pers.

Singapura telah dipilih sebagai tuan rumah. Padahal tersedia pilihan lain, antara lain di zona netral perbatasan Korut dan Korsel, tempat Kim Jong-un bertemu Presiden Korsel Moon Jae-in, April lalu. Atau Swiss, negara tempat Kim empat tahun bersekolah di masa kecil. Akan tetapi, kenapa Singapura? Kata Time, Singapura kaya, bakal mampu menunjang biaya yang dipikul Korut, yang menurut Menhan Singapura Ng Eng Hen, sebagai sedikit sumbangan Singapura bagi terwujudnya pertemuan bersejarah.

Masih ada alasan lain. Tidak banyak negara yang berani menolak, tidak berlutut kepada AS. Singapura negara yang tegar kepada negara mana pun, termasuk AS. Juga kepada pers.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.