Radikalisme di Kampus

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
31/5/2018 05:30
Radikalisme di Kampus
()

PERNYATAAN mengagetkan diluncurkan seorang petinggi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, bahwa hampir semua perguruan tinggi negeri telah terpapar radikalisme. Mengagetkan? Benar, karena mengandung kejujuran.

Pernyataan itu sebetulnya sedikit atau banyak dapat memercik diri sendiri, karena bukankah badan itu yang antara lain bertugas melakukan deradikalisasi? Radikalisme belum tentu berbuah terorisme, tapi bukankah itu ladang empuk? Hanya yang jujur mau berkaca tanpa membelah sang cermin.

Karena statement itu mengandung kejujuran, patutlah radikalisme di kampus itu dibedah dengan dingin. Salah satunya dari sudut hilangnya kedalaman berpikir di kampus.

Suatu hari saya bertanya kepada seorang profesor sosiologi, pengajar di universitas terkemuka, apakah bedanya S-1 sekarang dengan program sarjana dulu sebelum ada S-1? Jawabnya, dari kedalaman berpikir jauh sekali. Suatu hari yang lain, tepatnya Senin (21/5) pekan lalu, kepada seorang doktor ilmu politik yang juga mengajar di universitas terkemuka, aktif di lembaga survei tepercaya, saya pun bertanya perkara yang sama dan mendapat jawaban yang sama. Sang doktor menunjuk contoh sederhana. Skripsi ditulis dengan kalimat yang bahkan tidak jelas mana subjek, mana predikat.

Pikiran diekspresikan dalam kalimat. Kalimat yang berantakan kiranya tanda pikiran yang juga berantakan, dalam arti dangkal dan tidak beraturan. Tidakkah orang belia (mahasiswa program S-1) yang demikian itu ladang empuk untuk cuci otak, pencekokan paham radikal? Ladang empuk karena mereka tidak punya kemampuan berargumentasi untuk menantang (challenging) paham radikal, untuk mengatakan 'tidak'.

Pertanyaannya, siapa yang menyemai sang paham? Tidakkah para dosen, produk S-1 yang tetap berpikir dangkal sampai pun lulus S-2? Dosen-dosen dangkal berpahamkan radikalisme menjadi role model.

Hilangnya kedalaman berpikir kiranya dipercepat internet. Penulis skripsi tidak perlu bersusah payah mencari pikiran yang autentik untuk dikutip dan dianalisis. Mereka tidak bergaul dengan pikiran-pikiran besar yang asli, tetapi mengutip dari kutipan yang juga berasal dari kutipan, yang juga kutipan dari kutipan. Itulah isi kedangkalan yang diperlihatkan catatan kaki. Seberapa parah skripsi S-1 dan tesis S-2 yang demikian itu meluas dan sang sarjana kemudian menjadi tenaga pengajar di kampus?

Seorang yang sangat senior menduduki posisi eksekutif puncak korporasi besar dan tersohor, menyampaikan keheranannya kepada saya. Katanya, bagaimana mungkin sebuah fakultas ekonomi yang tersohor di negeri ini, yang telah menelurkan ekonom-ekonom andal pun terpapar paham radikalisme?

Terus terang, kiranya saya sulit untuk menghindari hipotesis kejam, bahwa kampus telah kehilangan kualitas 'metakognisi', yakni kemampuan menyetel kembali dan melihat proses kognitif diri dalam perspektif paham kebangsaan. Mahasiswa wajib mengambil mata kuliah Pancasila, bahkan Filsafat Pancasila, tetapi menjadi tempelan belaka alias asal lulus. Tidak ada urusan dengan internalisasi nilai-nilai, kesadaran ber-Indonesia yang plural dan toleran dalam kehidupan nyata berbangsa dan bernegara.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko bilang rektor perguruan tinggi negeri bakal dicopot bila tidak mampu menghentikan penyebaran radikalisme di kampus. Sebuah langkah tegas yang perlu, tetapi tidak cukup. Menyaring dosen-dosen berpaham radikal pun perlu, tetapi juga tidak cukup.

Tentu saja, kita mesti menganalisisnya secara keseluruhan. Kewarganegaraan itu tegak di atas basis saling menghormati dan saling memercayai. Di kampus, sebagai Indonesia miniatur, kewarganegaraan Indonesia yang Pancasilais itu disemai dan berinteraksi dalam pertukaran pikiran yang mendalam, di dalam maupun di luar kelas. Bahkan, melampaui dinding-dinding fakultas, sesama anak bangsa berdiskusi perihal isu-isu kepublikan.

Dalam perspektif itu sejujurnya saya berutang kepada Diskusi Sabtu, di Kampus Bulaksumur, Yogyakarta, pada 1970-an, yang bukan hanya terdiri dari mahasiswa lintas fakultas di UGM, melainkan juga lintas suku, agama, dan ras. Hemat saya, maaf, suasana kebatinan dan intelektualisme macam itulah yang mengering lalu menghilang di kampus sekarang.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.