Pertumbuhan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
09/5/2018 05:30
Pertumbuhan
()

BADAN Pusat Statistik, Senin (7/5), mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi kuartal I. Seperti yang kita khawatirkan, momentum pertumbuhan kuartal IV 2017 tidak mampu dipertahankan. Pertumbuhan ekonomi kuartal I tercatat hanya 5,06%, melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal IV yang tercatat 5,19%.

Memang, jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal I 2017 yang tercatat 5,01%, pertumbuhan tahun ini sedikit lebih baik. Namun, untuk mencapai target pertumbuhan 5,4% tahun ini, dibutuhkan kerja yang lebih keras dan berkualitas.

Tingkat pertumbuhan yang berkutat pada kisaran 5% dalam tiga tahun terakhir mengonfirmasikan pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Anggaran pendapatan dan belanja negara tidak mungkin dipakai sebagai motor pertumbuhan. Dengan 81% dari APBN habis dipakai untuk anggaran rutin, tidak cukup ruang bagi pemerintah untuk melakukan pembangunan.

Kalau sekarang ramai dibicarakan soal utang, itu disebabkan pemerintah perlu membangun infrastruktur yang sudah sangat ketinggalan. Pemerintah tidak punya pilihan lain, kecuali mengambil utang, karena kalau infrastruktur tidak dibenahi, akan menjadi faktor penghambat pertumbuhan.

Agar pembangunan infrastruktur di satu sisi bisa dilakukan dan pertumbuhan yang lebih tinggi bisa dicapai, pemerintah perlu menggandeng pihak swasta. Kalangan dunia usaha harus dimanfaatkan untuk menjadi penghela pertumbuhan ekonomi. Kita harus mendorong swasta untuk lebih agresif menanamkan modal.

Tujuh bulan ini harus dimanfaatkan pemerintah untuk bisa menggerakkan swasta apalagi jika Joko Widodo ingin terpilih kembali sebagai presiden untuk periode 2019-2024. Hanya dengan bergeraknya roda ekonomi dan perbaikan kehidupan masyarakat, Jokowi akan mendapatkan kembali mandat memimpin Indonesia untuk kedua kalinya.

Kunci untuk menarik swasta agar mau menanamkan modal mereka ialah memberi kelonggaran kepada mereka untuk berbisnis. Sejak 2015 Indonesia menghadapi angin dari depan (headwind). Sayang, arah kebijakan yang diambil Presiden Jokowi tidak memberi ruang kepada swasta untuk mengembangkan bisnis mereka, tetapi justru sebaliknya. Kebijakan perpajakan membuat kalangan dunia usaha merasa dikejar-kejar sehingga lupa untuk mengembangkan bisnis.

Penurunan angka perdagangan di masyarakat harus dilihat sebagai sinyal bahwa dunia usaha butuh pelonggaran. Yang terjadi setiap tahun target pertumbuhan penerimaan pajak meningkat secara fantastis, tetapi realisasinya pertumbuhan penerimaan pajak justru terus menurun dalam tiga tahun terakhir.

Kalau pemerintah mau selamat, dalam waktu tersisa harus ada perubahan kebijakan yang mendasar. Pemerintah harus secara sungguh-sungguh memberikan ruang gerak bagi dunia usaha untuk bisa bernapas dan mengembangkan bisnis mereka. Setelah perekonomian kembali normal, baru pemerintah fokus untuk menarik pajak.

Kita harus belajar dari pengalaman negara-negara lain dalam menggairahkan dunia usaha di saat perekonomian sedang tertekan. Republik Irlandia, misalnya, menurunkan pajak penghasilan badan hingga 12,5% demi menarik investasi baru. Hasilnya ketika pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa hanya 1%-2%, Irlandia bisa tumbuh di atas 6%.

Hal yang sama dilakukan Presiden AS Donald Trump. Ia memilih jalan untuk menurunkan pajak perusahaan dan juga pajak pribadi agar pertumbuhan ekonomi AS bisa menggeliat kembali. American first dimaksudkan agar ekonomi AS bisa segera pulih dan dengan itu, rakyat Amerika mendapatkan pekerjaan serta memperoleh pendapatan.

Adam Smith sejak awal berpandangan, pajak harus diterapkan sesuai dengan kemampuan masyarakat. Besaran pajak ditetapkan berdasarkan aturan yang pasti, bukan atas kebijakan yang berubah-ubah. Intinya, pajak merupakan akibat kegiatan ekonomi, jangan diterapkan sebaliknya.

Kita mempunyai ruang untuk bisa tumbuh lebih tinggi. Yang kita butuhkan hanyalah pemerintah yang meramu kebijakan tepat dan memberikan ruang kepada swasta untuk menjalankan kebijakan tersebut. Pemerintah tidak perlu berpretensi menjadi motor pertumbuhan karena kemampuan yang sangat terbatas.

Hanya dengan pembagian tugas antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat yang jelas, kita akan bisa meraih masa depan yang lebih baik. Kita tidak hanya memiliki sumber daya melimpah, tetapi juga pasar yang besar. Daya tarik itu tidak dimiliki banyak negara.

Sekarang tinggal sejauh mana kita memiliki konduktor yang bisa mengharmonikan semua itu. Jangan seperti sekarang, setiap kementerian jalan sendiri-sendiri. Semua ingin menonjol bagi dirinya sendiri sampai lupa bahwa yang harus kita bangun ialah Republik Indonesia.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.