Kriteria Calon Wakil Presiden

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Indonesia
26/3/2018 05:30
Kriteria Calon Wakil Presiden
(ANTARA FOTO/Biropers-Muchlis)

SAMBIL berolahraga pagi di Kebun Raya Bogor, Sabtu (24/3) pagi, Presiden Jokowi diberitakan membahas kriteria calon wakil presiden dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto yang juga Menteri Perindustrian dalam pemerintahan Jokowi.

Sekali lagi yang dibicarakan kriteria calon wakil presiden, bukan sosoknya, bukan siapa orangnya.

Namun, karena perbincangannya empat mata, sebetulnya bukan pula soal bila perbincangan antara capres dan ketua umum partai pengusung capres langsung membahas siapakah saja orang yang pas untuk menjadi cawapres.

Tentu saja sambil berolahraga biar sehat, kiranya lebih rileks dan cepat mendapatkan kesepahaman hati dan pikiran bila keduanya berbincang perihal kriteria ketimbang sosok.

Membahas kriteria membuat orang cenderung objektif, sebaliknya membahas sosok membuat orang dapat terbawa ke dalam suasana kebatinan suka atau tidak suka.

Perbincangan perihal kriteria tentu saja perbincangan pada level pemanasan.

Sejauh menyangkut perkara-perkara besar dan mendasar, seperti NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, tentulah sudah final.

Bagaimana dengan urusan besar yang harus dicapai di 2019-2024?

Pertanyaan itu menyangkut visi-misi capres Jokowi dalam pilpres nanti, yang di sana-sini tidak lagi sama dengan Nawa Cita yang telah dikerjakan Presiden Jokowi selama 2014-2019.

Menemukan pokok jawaban atas pertanyaan itu kiranya merupakan salah satu jalan untuk sampai pada kriteria cawapres yang bakal mendampingi Jokowi.

Akan tetapi, itu jalan yang tergolong absurd untuk dibahas dengan ketua umum partai yang paling teknokratis sekalipun.

Pilpres ialah menang atau kalah, yang tidak ditentukan canggih atau kampungannya visi dan misi.

Karena itu, faktor pembawa benefit elektabilitas masuk kriteria.

Siapa yang menentukan?

Siapa pun yang waras kiranya bersepakat bahwa pada waktunya diserahkan kepada lembaga survei yang tepercaya untuk mengukurnya.

Titiplah beberapa nama dan biarkan lembaga itu juga memenuhi sekeranjang nama cawapres untuk disurvei.

Sebuah jalan metodologis yang sedikit atau banyak membantu pengambilan keputusan kelak, pada waktunya.

Apakah seorang wapres perlu dibayangkan menjadi suksesor?

Bukankah Jokowi selesai paripurna 2024? Siapakah sang penerus?

Tidakkah perlu sekalian dipersiapkan presiden pasca-Jokowi?

Hemat saya, semua pertanyaan itu sangat bijak untuk disimpan saja di lubuk hati terdalam ketua umum partai pengusung Jokowi.

Kenapa? Itulah kriteria yang bikin semua pikiran sehat dan hati bersih bisa teracuni oleh obsesi dan kekeliruan membaca aspirasi publik di masa depan.

Bila para pemimpin tidak mampu menyimpannya dalam-dalam, lupakan saja kriteria yang satu ini. Kenapa?

Terus terang jangan cari cawapres yang berambisi menjadi presiden. Berbahaya.

Ini malah salah satu kriteria penting.

Apalagi seperti dipersiapkan menjadi putra mahkota kayak Republik ini kerajaan milik nenek moyangnya.

Cawapres yang demikian bakal lebih banyak mematut-matut diri seraya berlagak dialah presidennya, Jokowi wakilnya.

Sebuah tes psikologi yang sahih kiranya perlu dilakukan untuk menemukan siapakah cawapres yang demikian itu dan hasilnya perlu dibawa ke ruang publik. Orang macam itu diperam saja dulu atau biarkan matang di pohon.

Akhirnya, kriteria terpokok ialah capres Jokowi merasa paling cocok, merasa paling pas dengan sosok itu.

Siapa orangnya, serahkan pada capres.

Kiranya itulah yang sedang berproses, mengkristal di dalam hati dan pikiran Jokowi, sang petahana, dan kiranya itulah kriteria yang bikin olahraga Sabtu pagi itu bertambah sehat.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima