Gerakan Cerdas Digital

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Indonesia
12/3/2018 05:31
Gerakan Cerdas Digital
(ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra)

KITA hidup di era digital, agility era (istilah ekonomi baru untuk kecepatan).

Gagasan-gagasan menjadi realitas dalam kecepatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Inilah era pembunuhan kearifan alon-alon asal kelakon. Lambat tidak selamat, cepat pun belum tentu selamat, tetapi cepat diyakini lebih baik.

Ini juga era pembunuhan kearifan lama lainnya, bahwa yang baru tidak selalu lebih baik, yang lama tidak selalu yang paling baik.

Kenapa? Perubahan ialah perkara setiap hari sehingga orang tidak lagi sempat berurusan dengan hal ihwal yang lama.

Dalilnya kejam, yaitu barang siapa tidak membangun kultur digital bakal mampus.

Barang siapa itu bisa kaum profesional, perusahaan, atau negara.

Kaum profesional yang tidak berkultur digital kiranya tersingkir dari himpunannya.

Harapan hidup perusahaan anjlok dari sekitar 67 tahun pada 1920-an menjadi sekitar 10 tahun sekarang.

Bagaimana negara membangun ekonomi digital, itulah yang mesti dijawab pemerintah bersama DPR yang tajam pikirannya (bukan mulutnya).

Lihatlah Tiongkok yang telah sepenuhnya mengintegrasikan ekonomi informal ke dalam ekonomi formal melalui telepon pintar dan pembayaran elektronik.

Tiongkok dalam perjalanan menjadi masyarakat tanpa uang tunai (cashless society).

Kapital di dunia mengalir melalui e-keuangan (e-finance) dan Jack Ma bersama Alibabanya terus bergerak dari negara komunis menjadi kapitalis dunia melalui e-commerce.

Apa rahasia Tiongkok?

Negara itu berkultur digital yang dengan sadar dibangun antara lain melalui sumber daya manusia yang bernama engineer.

Sebanyak 30% mahasiswa S-1 mengambil engineering sebagai mayor.

Bandingkanlah dengan AS yang hanya 8%. (David P Goldman, 2017).

Jalan Tiongkok itu jalan fundamental.

Akan tetapi, negara yang baru sekarang menirunya sebagai satu-satunya jalan dipastikan makin ketinggalan. Tirulah Singapura.

Untuk menjadi pemain dalam ekonomi digital global, Singapura mengambil langkah progresif.

Sejak 11 April 2016, di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika, pemerintah Singapura mencanangkan program Tech Skills Accelerator (Tesa), yaitu program percepatan keahlian ICT (information and communication technology) yang meliputi analisis data, artificial intelligence, the internet of things, dan cyber security.

Pada 2016 disediakan anggaran S$120 juta.

Tahun ini dana ditambah jadi S$145 juta.

Pelatihan ICT telah dilakukan di 27 ribu tempat pelatihan.

Pada 2020 jumlahnya akan ditambah 20 ribu lagi tempat pelatihan antara lain untuk sektor manufaktur dan jasa pelayanan profesional.

Tesa telah melatih 16 ribu profesional ICT.

Menurut perhitungan pemerintah Singapura, pada 2017-2019 dibutuhkan 42 ribu profesional ICT.

Tahun lalu sektor ICT menyumbang 8% GDP Singapura.

Begitulah pemerintah Singapura membuat sebuah jalan baru untuk memampukan warga untuk berkeahlian dan berketerampilan ICT.

Jalan progresif itu total menelan S$265 juta atau setara Rp1,650 triliun, masih jauh kalah besar jika dibandingkan dengan anggaran KTP-E Rp5,9 triliun, yang perkara megakorupsinya tengah diadili.

Disrupsi digital bukan neraka jahanam. Di dalamnya terkandung oportunitas.

Singapura contoh terbaik dan terdekat bagaimana negara itu dengan cerdas menggerakkan kemampuan belajar anak bangsa.

Suatu hari Presiden Jokowi menyentil dunia perguruan tinggi yang lamban merespons ekonomi digital.

Katanya, kenapa tidak dibuat fakultas ekonomi digital?

Bapak Presiden, jawabannya barangkali bukan di kampus, bukan di dunia akademi, melainkan melalui gerakan masyarakat cerdas digital (bukan cuma melek digital) yang merupakan sinergi hebat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Caranya? Ikuti saja model Singapura.

Hemat saya, tidak perlu malu mengkloning kecerdasan tetangga.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima