Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERDAMAIAN di Afghanistan kini dalam penantian.
Tak hanya untuk negeri itu, tapi juga untuk dunia.
Memang, jalan damai negeri yang telah dikoyak kekerasan dan konflik selama 40 tahun pastilah dinujum akan menghadapi jalan terjal.
Bahkan, ada yang mengamsalkan perdamaian di negeri itu mesti melewati labirin.
Namun, bukan berarti dalam labirin tak ada noktah harapan.
Artinya, proposal damai yang ditawarkan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang mengajak Taliban ikut bersama membangun negeri, ialah sebuah tekad dan keyakinan bahwa di dalam gelap itu juga ada harapan.
Harapan yang dijemput, bukan ditunggu.
Ashraf meminta Taliban yang pernah berkuasa di Afghanistan 1996-2001 menjadi partai politik.
Dengan demikian, bersama dengan berbagai pihak yang berkonflik, mereka ikut membangun Afghanistan, negeri yang kini didera korupsi tinggi keterbelakangan ekonomi.
Persoalannya ialah Taliban tak mengakui pemerintahan Afghanistan.
Sejak menara kembar World Trade Center di New York, AS, diluluhlantakkan pada 11 September 2001, entah oleh siapa, sebulan kemudian Presiden George W Bush memerintahkan tentaranya menggempur Taliban.
Alasannya gerakan itu menolak menyerahkan Osama bin Laden, yang dituduh Amerika sebagai otak penyerangan menara kembar itu.
Osama memang bermukim di Afghanistan waktu itu yang berada di bawah kekuasaan Taliban.
Itu sebabnya Taliban merasa tak perlu bicara perdamaian dengan pemerintah Afghanistan, tetapi dengan Amerika Serikat yang membombardir mereka.
Bush mengerahkan tentaranya bersama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hingga 150 ribu serdadu.
Afghanistan pun jadi medan 'kurusetra' kekerasan yang tidak pernah reda.
Sudah begitu banyak korban jiwa dalam konflik panjang di 'Bumi Pasthun' itu.
Namun, Taliban tak sepenuhnya meluruh meski digempur besar-besaran.
Setelah Amerika menarik tentara mereka pada 2014, Taliban kembali menguat.
Namun, Indonesia, negeri yang tak terlibat konflik, justru jadi tumpuan harapan damai Afghanistan.
Indonesia yang teruji hidup bersama dengan keberagaman dipilih untuk mengupayakan perdamaian Afghanistan.
Jalan awal itu ialah Forum Tripartit antara ulama Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia yang akan dihelat medio Maret ini di Indonesia.
Jika sukses, itu akan menjadi modal penting pada forum selanjutnya dalam bina damai (peace building) dan proses damai di Afghanistan.
Forum ulama itu ialah yang pertama digelar untuk merajut perdamaian Afghanistan.
Pelaksana forum pertemuan ulama nanti ialah Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Pemerintah Indonesia hanya sebagai fasilitator.
Presiden Jusuf Kalla, pekan silam, telah pula kembali mengikuti Konferensi Proses Kabul II di Afghanistan.
Mereka yang hadir ialah pejabat dari 25 negara, para tokoh, dan ulama.
Indonesia memang tidak saja negara netral, tapi juga memiliki Jusuf Kalla, sosok yang punya banyak pengalaman menangani konflik.
Perdamaian Aceh salah satunya, yang dipuji dunia.
Kehadiran Jusuf Kalla di Kabul ialah kelanjutan dari kunjungan Presiden Joko Widodo di Afghanistan akhir Januari lalu yang juga bertujuan mendorong perdamaian.
Inilah kunjungan Presiden Indonesia yang kedua setelah Presiden Soekarno pada 1961.
Beberapa hari sebelum kunjungan Joko Widodo, Kabul juga diguncang rentetan bom yang mematikan banyak nyawa manusia.
Jusuf Kalla juga sama, ia datang dalam situasi keamanan Afghanistan yang rentan.
Namun, keduanya tak gentar.
Atas keteguhan dan keberanian itu, Joko Widodo diberi penghargaan Medal of Ghazi Amanullah 29 Januari silam.
Itu penghargaan tertinggi bagi mereka yang berjasa besar bagi Afghanistan.
"Perdamaian itu bukan situasi yang datang dari langit. Perdamaian harus diupayakan," kata Joko Widodo.
Kedua pemimpin tertinggi kita telah 'berjudi' dengan keselamatan mereka.
Itu artinya betapa serius Indonesia mengemban tanggung jawab untuk terlibat dalam perdamaian Afghanistan.
Konstitusi kita memang mengamanatkan soal itu.
Karena itu, jika tugas mulia sebagai juru damai kita berhasil, bangsa ini pula yang mestinya merasakan kehormatan itu.
Kini, sebagian kita yang hobi membangun kebencian dan adu domba mestinya menyadari bahwa negeri kita tengah melaksanakan tugas mulia.
Tak semua negara mendapat kepercayaan itu.
Alangkah pandirnya sebagian kita yang kini punya hobi saling membenci dan memisahkan.
Mestinya justru kita kian mendapatkan elan vital persatuan justru ketika tengah mendapat tugas mulia merajut perdamaian Afghanistan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved