Presiden Grusa-grusu

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
22/1/2018 05:05
Presiden Grusa-grusu
(AFP)

MENJELANG akhir tahun lalu, dalam perjalanan dari Bandara Las Vegas ke hotel, setelah tahu kami bertiga berasal dari Indonesia, sopir taksi yang membawa kami tiba-tiba nyerocos tentang Donald Trump, presidennya.

Di antaranya perihal Trump menjadikan Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Sopir taksi itu mengecilkan suara radio berbahasa Spanyol yang berkumandang dan meluncurlah permintaan maaf dari mulutnya.

"Forgive me, forgive us," katanya.

"Trump's idiot."

Kami bertiga tertawa.

Dia pun tertawa, menertawakan presidennya sendiri.

Saya pikir inilah tertawa bersifat global karena Trump dinilai idiot kiranya merupakan penilaian global.

Sebutan idiot bukan satu-satunya predikat buruk untuk Presiden Trump.

Ia juga dinilai rasialis.

Rasialisme yang diekspresikannya berupa kebijakan antiimigran itulah yang kini membawa petaka.

Senat AS menolak anggaran negara yang diajukan pemerintahan Trump.

Pokok persoalan ialah Trump menghapus anggaran untuk 700 ribu orang yang disebut sebagai Dreamers, yaitu imigran belia yang tinggal di AS tanpa dokumen.

Di masa Presiden Barack Obama, negara menyantuni mereka di bawah payung program DACA (Deferred Action for Childhood Arrivals).

Trump membabatnya, mengakibatkan masa tinggal mereka berakhir 5 Maret 2018.

Partai Demokrat menjawab ulah Republik itu dengan menggergaji semua anggaran federal yang tidak berhubungan dengan program penyantunan imigran.

Terjadilah shutdown, pemerintah federal harus menghentikan sebagian pelayanan publik mereka karena setelah melalui voting, Senat tidak menyetujui anggaran mereka.

Sebanyak 800 ribu pegawai federal bakal dirumahkan karena gaji mereka tidak ada di dalam anggaran negara.

Semula Trump ditengarai bakal berkompromi. Ternyata tidak.

Dia malah berkata sangat kasar menyebut Haiti, El Salvador, dan sejumlah negara di Afrika sebagai 'shithole countries'.

Kata-kata kasar itu diucapkan di Oval Office dalam pertemuan informal dengan sejumlah anggota Senat.

Shithole merupakan slang yang vulgar yang artinya 'luar biasa kotor'.

Meledaklah protes dari negara-negara yang dihina itu.

Pada 20 Januari lalu Trump mestinya merayakan setahun dirinya menjadi Presiden AS dengan gala dinner di Mar-a-Lago, resor mewah miliknya di Miami, Florida.

Tiket acara itu dijual mulai US$100 ribu untuk dua orang, yaitu untuk bersantap dan berfoto dengan presiden.

Anda dan pasangan/pendamping ingin bersantap malam semeja dengan Trump? Tiketnya US$250 ribu.

Pesta anniversary itu diberitakan batal.

Namun, hemat saya, hal itu hanya pesta yang tertunda.

Kenapa?

Saya yakin Trump tidak melihat shutdown itu sebagai bukti kegagalannya memimpin pemerintahan.

Sampai saat ini dia merasa dirinya sebagai presiden AS yang paling sukses.

Dia malah menuduh Demokrat lebih proimigran daripada negaranya sendiri.

Sebagai seorang idiot, setidaknya menurut penilaian psikologis seorang sopir taksi,

Presiden Trump tidak punya sejumlah kualitas utama seorang pemimpin.

Dalam usia 71, ia kiranya belum mencapai tahap integritas kehidupan yang mestinya telah dicapai pada usia 55.

Presiden ke-45 AS itu dari sisi spiritual juga dinilai tidak punya dimensi sensitif dan human seorang pemimpin.

Pembantaiannya terhadap Obamacare merupakan bukti yang kuat.

Dia sesungguhnya tidak peduli amat dengan berbagai isu utama yang dihadapi negerinya.

Trump mengambil keputusan kapan saja dia mau.

Contohnya, kala dia memecat Direktur FBI James B Comey.

Pada 9 Mei 2017 sore, Sean Spicer, sekretaris pers presiden, memasuki ruang media yang nyaris kosong.

Padahal, dia membawa berita besar itu, yang tiada tanda-tandanya bakal terjadi sore itu.

New York Times punya breaking news, karena korespondennya, Michael D Shear, saat itu masih nangkring di Gedung Putih.

Episode keputusan pemecatan Direktur FBI itu semata mau menunjukkan Presiden Trump 'tidak dapat diprediksi' karena sering terburu-buru bertindak.

Terutama terburu-buru dengan mulutnya (kasus shithole, contohnya) dan memindahkan otaknya ke jemari tangannya yang sangat gemar ber-Twitter (sepanjang tahun lalu ia mengirim 2.608 cicitan).

Tidak berlebihan menyimpulkan Trump pemimpin negara yang tidak punya masa inkubasi, yaitu waktu yang tenang untuk memikirkan persoalan.

Dia presiden idiot yang grusa-grusu yang kini menyusahkan rakyatnya dan pemerintahannya sendiri.

Karena itu, masuk akal kalau ada yang berniat menjatuhkan kekuasaannya di tengah jalan.

Yang jelas, AS, negara yang besar itu, ternyata juga punya kebodohan dalam memilih presiden.

Hal yang tidak boleh terjadi di negeri ini.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima