Revolusi Kakus

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
30/11/2017 05:31
Revolusi Kakus
(thinkstock)

MUDAH-MUDAHAN Anda masih ingat kata 'kakus', tempat buang air, alias jamban. Saya perlu katakan itu karena penggunaan kata kakus sudah lama digantikan WC, water closet (Belanda), yaitu kakus dengan penyemburan air. Sejalan dengan lenyapnya serapan kata asal Belanda digantikan asal Inggris, 'WC' pun digeser 'toilet'.

Anehnya perubahan itu tidak selalu disertai kata 'umum'. 'WC umum' tidak selalu berubah menjadi 'toilet umum', tetapi cukup tertera 'toilet'. Tidak percaya? Tidak usah repot-repot untuk membuktikannya. Untuk apa ada dusta di antara kita perihal WC umum? Selera yang lebih beradab pun sepertinya tidak pas dengan sebutan kakus.

Seorang kawan yang cantik parasnya dan halus budi bahasanya tidak pernah bilang mau ke WC atau ke toilet, apalagi ke kakus, tetapi membahasakannya, 'saya mau ke ladies'. Sebaliknya, saya belum pernah mendengar seorang gentleman mengatakan 'saya mau ke gentle...'. Apalagi bilang, maaf, 'saya mau ke ladies'.

Saya sendiri lebih suka menyebut kakus. Apa pun namanya, entah toilet, jamban, ataupun WC, kakus cermin keadaban suatu masyarakat atau bangsa, sebagai warga dunia. Sekali lagi sebagai warga dunia, bukan cuma warga suatu kota atau desa. Sedemikian penting kakus untuk warga dunia sampai-sampai PBB menjadikan 19 November sebagai Hari Kakus Dunia (World Toilet Day).

Apakah Anda merayakannya 10 hari lalu? Saya baru merayakannya sekarang ini dengan cara mengekspresikannya di 'Podium' ini. PBB beralasan kakus menyelamatkan manusia. Kotoran manusia yang tidak dibuang pada tempatnya yang berkeadaban menjadi penyebar penyakit yang dapat membunuh manusia.

Hari Kakus Dunia diproklamasikan untuk menginspirasi tindakan nyata mengatasi krisis sanitasi. Berkat kakus, pada 2030 diharapkan siapa pun warga dunia di kolong langit ini terbebas dari krisis sanitasi. Pemimpin besar Tiongkok Xi Jinping malah pada 2015 mencanangkan revolusi kakus, yaitu revolusi meningkatkan mutu kakus ke seluruh Tiongkok dalam rangka membangun suatu masyarakat lebih beradab dan memperbaiki higienitas massal.

"Kakus bukan urusan kecil," kata Xi Jinping di halaman depan koran Partai Komunis. Saban kali ke perdesaan, pemimpin besar itu selalu mengecek apakah rumah di desa itu menggunakan kakus yang higienis, sesuai standar. Di negara berpenduduk paling banyak di dunia itu pengecekan mutu kakus juga menjadi urusan sangat penting bagi pengembangan pariwisata.

Dalam tiga tahun, 2015-2017, pemerintah Tiongkok telah meningkatkan mutu 68 ribu kakus. Badan Pariwisata Nasional Tiongkok pekan lalu mengumumkan mulai 2018 sampai 2020 bakal membangun dan meningkatkan 64 ribu kakus. Bila PBB membahasakan 19 November hanya sebagai Hari Kakus Dunia, Tiongkok membuatnya lebih panjang sesuai selera komunis, yaitu 'Hari Kakus Dunia dan Hari Kesadaran Revolusi Kakus Tiongkok'.

Kiranya kita juga perlu semacam revolusi kakus versi Nusantara. Masih ada sebanyak 24% penduduk kota buang hajat sembarangan. Di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu) saja ada sekitar 151 ribu keluarga yang setiap hari buang air besar sembarangan.

Kita tidak tahu berapa juta penduduk desa persisnya yang masih membutuhkan kakus sehat sehingga tidak membuang air besar di semak-semak. Kota Yogya kiranya boleh dijadikan gambaran. Di kota itu tidak ada lagi perilaku warga buang air besar sembarangan. Akan tetapi, kakusnya tidak layak. Saluran kakusnya langsung nyemplung ke bawah.

Yang dramatis ialah apa yang terjadi Senin (27/11) lalu. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meninjau kakus bertaraf internasional yang dibangun di bawah tanah di Jalan Panembahan Senopati dengan anggaran Rp5,7 miliar. "Kok ambune wes pesing (kok baunya sudah pesing)," kata Gubernur seraya menutup hidung.

Padahal kakus itu baru akan dibuka untuk umum Desember ini. Saya tidak paham apakah daya endus hidung rakyat berbeda dengan daya endus hidung seorang sultan yang berdarah biru. Fakta bahwa gubernur bilang 'ambune wis pesing' sambil tutup hidung kiranya menunjukkan dalam hal kakus itu hidung gubernur lebih peka ketimbang hidung aparatur pemerintahan yang bertanggung jawab atas pembangunan kakus internasional itu.

Ternyata revolusi mental juga diperlukan dalam menggelorakan revolusi kakus agar uang negara miliaran rupiah tidak dipakai untuk membangun kakus internasional yang bau pesing. Apa dikira turis yang datang ke Yogya hidungnya mampet?



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima