Martabak dan Satai Kere

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
09/11/2017 05:31
Martabak dan Satai Kere
(ANTARA FOTO/Maulana Surya)

KOTA Surakarta kemarin menjadi tuan rumah kegembiraan ribuan anak bangsa dalam rangka merayakan pernikahan Kahiyang Ayu dan Muhammad Bobby Afif Nasution. Ribuan tamu, entah berapa jumlah persisnya.

Ada yang bilang jumlah undangan sebanyak 8.000 pucuk. Beserta pendamping, maksimum 16.000 orang. Selain itu, ada yang menyebut 12.000 relawan pun hadir di kota itu.

Kiranya tidak perlu benar presisi dalam urusan ini, sebut saja ribuan. Tidak perlu benar presisi itu karena yang mau 'ditangkap' dari magnitude itu ialah suasana kebatinan warga menyayangi Jokowi, yang punya hajatan.

Ribuan undangan antre untuk mengucapkan selamat kiranya ekspresi jujur rasa sayang. Dalam sambutannya semalam, Jenderal (Purn) Moeldoko mewakili keluarga Jokowi, membahasakan undangan datang ke 'istana hati'.

Hemat saya itu pelukisan yang sangat sublimatif dengan beberapa alasan. Pertama, Presiden Jokowi tidak menggunakan istana milik negara untuk perhelatan pribadi. Graha Saba Buana miliknya pribadi.

Gamblang menunjukkan bahwa Presiden Jokowi menegakkan batas mana urusan pribadi, mana urusan negara. Sebagai gambaran, Presiden SBY menyelenggarakan pernikahan kedua anaknya di istana.

Agus Harimurti Yudhoyono dengan Annisa Pohan di Istana Bogor, sedangkan Edhie Baskoro Yudhoyono dengan Siti Ruby Aliya Rajasa di Istana Cipanas.
Kedua, perkawinan Kahiyang dan Bobby merupakan perkawinan pluralisme.

Kemarin dalam adat Jawa, kemudian dalam adat Batak di Medan. Suatu hari, di bulan Oktober lalu, di lounge Garuda di Bandara Adisucipto Yogyakarta, seraya menanti keberangkatan, seorang yang tak saya kenal yang duduk di sebelah saya berkomentar spontan mengenai berita di Metro TV yang menyiarkan rencana pernikahan Kahiyang dan Bobby.

Katanya, "Pak Jokowi nasionalis, menantunya tidak harus orang Jawa." Sesungguhnya dan senyatanya di tingkat warga perkawinan antarsuku banyak terjadi. Namun, orang tidak mengaitkannya dengan pluralisme, dengan nasionalisme.

Orang paling membahasakannya sebagai jodoh, bak asam di gunung dan garam di laut, bertemu di kuali. Perkawinan anak orang biasa dengan anak Presiden jelas mendapat tempat penilaian yang berbeda.

Jokowi sebagai pribadi dan sebagai presiden memang nasionalis sejati, bahkan sejak ia masih kepala daerah. Sebagai Gubernur DKI Jakarta, ia membela dan mempertahankan seorang lurah keturunan Tionghoa yang diprotes agar diganti.

Perhelatan kemarin menunjukkan perhelatan nasional dalam berbagai sudut pandang. Istana hati itu dihadiri tokoh NU Said Agil Siradj dan tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafi'i Maarif.

Pada acara malam hari, Din Syamsuddin, tokoh Muhammadiyah dan pimpinan MUI, kini utusan khusus Presiden untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban yang membaca doa. Sudah tentu berbagai tokoh politik mewarnai perhelatan.

Yang khas ialah hidangan martabak dan satai kere. Martabak dari dapur Gibran, anak sulung Jokowi. Banyak tamu yang kepingin menikmati satai kere, yaitu satai dari tempe gembus yang merupakan tempe paling murah karena terbuat dari ampas tahu.

Rasanya pedas. Dalam tahun politik ini, tentu saja perhelatan akbar Jokowi itu tidak dapat dilepaskan dari penilaian bahwa semua itu berkaitan dengan Pemilu 2019.

Penilaian yang wajar karena memang negeri ini memerlukan Jokowi menjadi presiden untuk periode yang kedua. Karena itu, wajar pula bila dari kalangan oposisi ada yang mengkritik sumbang perhelatan di istana hati itu.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima