Pidato Anies Baswedan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
19/10/2017 05:31
Pidato Anies Baswedan
(MI/Susanto)

KEHEBOHAN di ruang publik gara-gara penyebutan pribumi menggelitik saya untuk membaca teks pidato pertama Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kiranya di situ dapat disimak apa maunya Anies. Membaca teks pidato sedikit atau banyak berbeda dengan menonton (melihat dan mendengar) pidato.

Untuk pidato seorang Anies, saya lebih memilih membaca teksnya daripada menontonnya karena dia tergolong orang yang menata gaya dalam berekspresi. Gaya hasil penataan diri itu dapat menyembunyikan ataupun melebih-lebihkan hal ihwal. Anies bukan orang yang gagap dalam menulis.

Pidatonya sebagai gubernur baru itu tentu ditulis sendiri. Bukan karya ghostwriter. Seandainya pun menggunakan ghostwriter, tentulah isinya, kalimat demi kalimat, akur dengan keinginan Anies. Pidato itu dihiasi kutipan peribahasa daerah. Jakarta memang melting pot. Di permukaan dan selintas, kutipan itu kiranya punya relevansi. Dari awal pidato hingga penutup, Anies mengutip peribahasa Batak, Madura, Aceh, Minang, Banjar, dan terakhir Minahasa.

Tidak semua pepatah daerah itu konsisten dikutip, dalam bahasa aslinya. Pepatah Aceh, contohnya. Dalam pidato Anies mengambil maknanya saja, yaitu 'Cilaka rumah tanpa atap, cilaka rumah tanpa guyub', yang mungkin lebih mirip terjemahannya ketimbang maknanya. Sebab yang menjadi makna ialah pentingnya persatuan yang dalam pidato itu dimaksudkan sebagai elaborasi sila kedua Pancasila.

Yang amat mengherankan ialah Anies sama sekali tidak menyentuh Betawi. Sepatah kata pun Betawi tidak ada dalam pidato, apalagi mengutip pepatah Betawi atau maknanya. Dalam pidato itu disebut era Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga kini Jakarta, tapi di mana Betawi?

Maaf, terlalu lancangkah saya mengatakan gubernur baru ini sebetulnya belum paham benar perihal Jakarta, termasuk asal usul dan akar-akarnya? Yang jelas ia terlalu sombong untuk eksplisit mengakui legasi Ali Sadikin dan Ahok, sebagai benchmark. Ia menyamaratakan legasi dengan cara menggeneralisasikan legasi semua gubernur Jakarta.

Hal itu menimbulkan kekhawatiran bahwa Gubernur Anies Baswedan kelak hanya akan meninggalkan legasi yang umum atau 'rata-rata' saja. Simaklah pernyataan general dalam pidatonya, berikut ini. "Dalam sejarah panjang Jakarta, banyak kemajuan diraih dan pemimpin pun datang silih berganti.

Masing-masing meletakkan legasinya, membuat kebaikan dan perubahan demi kota dan warganya. Untuk itu kami sampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada gubernur dan wakil gubernur sebelumnya, yang turut membentuk dan mewarnai wujud kota hingga saat ini." Sungguh sebuah pernyataan datar dan basa-basi, tidak berani menyebut 'ukuran sejarah' era seorang pemimpin.

Terus terang, saya berulang membaca teks pidato pertama Anies itu dan tidak terhindarkan kesan, pidato itu hampa makna kepublikan dan hampa konsistensi. Hampa makna kepublikan karena sila-sila Pancasila dalam pidato itu kembali dibahasakan 'sebagaimana seharusnya'.

Hampa konsistensi karena pengutipan pepatah daerah dalam pidato itu lebih tempelan belaka. Hanya gaya dalam penuturan, yang sengaja diekspresikan dalam pidato pertama yang bersejarah. Pidato itu malah menuai kecaman karena menyebut pribumi. "Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme.

Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri." Apa relevansinya 'kini' di bulan Oktober, sekarang ini, bukan di bulan Agustus, bulan proklamasi? Dalam satu nada, semua itu dikaitkan Anies dengan pernyataan, jangan sampai terjadi di Jakarta ini, itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain.

Maaf, tahukah Anies mengeram itu sebuah kerja keras, perlu 28 hari? Bahwa menetaskan telur itik lebih lama daripada menetaskan telur ayam? Setidaknya Anies lupa perspektif industri peternakan, pakai mesin penetas. Sebuah bukti pengutipan pepatah Madura itu lebih sebagai gaya, tanpa pemahaman perihal pengeraman dan penetasan serta penyesuaiannya dengan zaman.

Anies bahkan mendulang air, dengan mengangkat perihal pribumi. Orang lalu didorong untuk membuka asal usul keturunan, yang memercik mukanya sendiri. Dalam konteks pemikiran, ia bahkan 'menista dirinya sendiri'. Bukankah ia gembar-gembor merawat tenun kebangsaan?

Beralasan pribumi itu diucapkan dalam konteks kolonialisme hanyalah pembenaran post factum pidato dan dapat dinilai sebagai penghinaan terhadap kecerdasan publik dalam membaca perkara yang tersirat dalam yang tersurat, dalam konteks kekinian.

Gara-gara menyebut pribumi itu ia dilaporkan ke kepolisian dengan dugaan melanggar peraturan perundang-undangan. Sebuah pelajaran serius untuk sang gubernur agar ia tidak bergaya dalam nada kesantunan, tapi terjerat hukum, karena tidak membaca undang-undang.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima