Teguran untuk Wali Kota Medan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
16/10/2017 05:03
Teguran untuk Wali Kota Medan
(Ist)

BILA masih ada rasa malu, Kota Medan ialah kota yang memalukan amat sangat.

Sampai-sampai Presiden Jokowi menegur tajam wali kotanya.

Kata presiden, kalau jalan rusak di kota itu tidak segera dibenahi wali kota, tetapi dirinya yang mengerjakan.

Dirinya yang Presiden RI itu, pernah menjadi gubernur dan sebelumnya wali kota yang berhasil.

Sebuah perjalanan kepemimpinan yang memberinya dimensi moral yang lebih dari cukup untuk sangat patut dan perlu menegur wali kota.

Seorang presiden punya kekuasaan untuk menegur kepala daerah, tapi menurut hemat saya, tidak semua presiden punya dimensi moral yang kuat untuk melakukannya karena bersumber dari 'riwayat hidup' yang unik.

Karena itu, teguran Presiden Jokowi kepada Wali Kota Medan Dzulmi Eldin kiranya teguran yang 'sangat istimewa', dalam makna bila ia masih punya rasa malu.

Presiden Jokowi mendapat keluhan banyak sekali mengenai jalan rusak di Medan. Ia bukan jenis pemimpin yang percaya keluhan atau laporan begitu saja.

Ia menjalankan pemerintahan, antara lain dengan memecahkan persoalan-persoalan dengan menggunakan informasi mutakhir hasil verifikasi fakta, terjun ke lapangan.

Sebuah gaya kepemimpinan yang sangat penting di tengah kultur paternalisme dan asal bapak senang.

, pagi itu, Sabtu (14/10), presiden naik mobil jip 'mengunjungi' jalan-jalan yang rusak.

Sebuah laporan jurnalistik melukiskan mobil itu bermanuver mencari jalan yang mulus.

Jalan rusak berat, berlubang, dan becek.

Setelah mengujinya sendiri di alam nyata, barulah presiden bersuara.

"Tugas wali kota untuk menyelesaikan. Kalau enggak segera dikerjakan, duluan saya kerjakan nanti."

Pertanyaan besar apakah Wali Kota Medan Dzulmi Eldin masih punya rasa malu ditegur presiden.

Jangan-jangan dia malah senang didahului presiden memperbaiki semua jalan yang rusak itu.

Dia mengira presiden kurang kerjaan dan merupakan kehormatan baginya, tugasnya yang dasar dikerjakan presiden.

Bukankah itu pertanda bahwa dia lebih hebat daripada presiden?

Ini Wali Kota Medan, Bung!

Medan bukan kota yang melarat, apalagi terlalu melarat sehingga tidak berkemampuan memperbaiki jalan.

Orang Medan bukan pula makhluk yang tidak bisa membedakan mana jalan dan mana kubangan kerbau.

Medan bukan pula kota yang fakir dalam sejarah peradaban, dalam konteks besar.

Sebagai gambaran, pada 18 Maret 1885, di Medan terbit koran pertama Deli Courant, berbahasa Belanda.

Di halaman depan dimuat berita pemasaran tembakau, bukan hanya yang diekspor, melainkan juga jumlah tembakau yang diimpor Amerika pada 1884.

Koran itu menunjukkan Medan tergolong kota terdepan, yang terhubungkan dengan 'dunia'.

Bukan kota 'terbelakang', seperti sekarang di zaman global dan digital, yang ditunjukkan oleh jalan-jalan yang rusak berat.

Setahun setelah Deli Courant terbit, dibuka jalan kereta api Medan-Labuhan.

Menurut hasil riset H Mohamad Said, mengenai sejarah pers di Sumatra Utara dengan masyarakat yang dicerminkannya, menjadi bahan lelucon ketika kereta api pertama dijalankan terpaksa berhenti, karena buaya yang berjemur di atas rel tergiling.

Sekarang mobil rakyat bisa terguling di jalan yang buaya pun enggan lewat.

Bagaimana perkara jalan rusak berat itu dapat dijelaskan? Di situ ada tragedi peradaban.

Sementara itu, warga telah berlalu-lalang di dunia maya melalui internet, di alam nyata warga masih harus melewati jalan rusak, berlubang, dan becek.

Buruknya sektor kepublikan kota itu menunjukkan gagalnya pemimpin kota.

Namun, itu kecaman, bukan jawaban yang menjelaskan.

Saya kira wali kota tidak sendirian. Pemerintahan Kota Medan secara kolektif hampa kultur pelayanan publik.

Mereka tidak memandang, apalagi memperlakukan hal ihwal kepublikan sebagai core business pemerintahan.

Mereka juga tidak pernah becermin bahwa gaji dan fasilitas yang mereka nikmati dibiayai pajak.

Pemerintahan kota terus tergradasi di dalam moto 'sumut', yaitu 'semua urusan memerlukan uang tunai'.

Sesungguhnya dan senyatanya dinamika orang Medan tidak terekspresikan dalam dinamika pemerintahan kota.

Mestinya watak warga yang kritis dan gemar bernarasi perihal berbagai perkara kepublikan menjadi modal sosial yang dahsyat untuk menggelorakan dinamika pemerintahan.

Dalam perspektif itu membuat jalan yang bagus dan terpelihara di kota itu kiranya urusan kicik (kecil).

Sebuah kontras dengan kota lain perlu ditunjukkan. Pemerintahan sejumlah kota bukan hanya 'melihat ke depan', melainkan juga 'melihat ke belakang', menghidupkan kembali keaslian kota tua sebagai sumber daya ekonomi.

Trotoar kembali beradab seperti 'dulu'.

Sementara itu, Medan bahkan tidak bisa 'melihat hari ini', sampai-sampai presiden perlu 'menunjukkannya'.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima