Gagal Bayar

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Indonesia
30/9/2017 05:31
Gagal Bayar
(ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

SURAT yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan serta Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Mariani Soemarno tentang kondisi keuangan Perusahaan Listrik Negara pantas membuat kita tersentak.

Kondisi arus kas PLN dikhawatirkan menyebabkan BUMN itu tidak mampu membayar kewajiban utang mereka dan kemudian berakibat kepada kredibilitas keuangan negara.

Menkeu sepertinya ingin mengingatkan dampak dari kebijakan tarif dasar listrik yang sudah diputuskan Menteri ESDM untuk tidak dinaikkan sampai akhir tahun ini.

Padahal, selama ini tarif listrik dikaji setiap tiga bulan disesuaikan dengan perkembangan harga energi dunia.

Apabila penerimaan PLN tidak sejalan dengan kewajiban yang harus dibayarkan, PLN tidak akan mampu membayar utang yang mereka pinjam untuk membangun pembangkit-pembangkit listrik yang baru.

Sekarang ini kita melihat kecenderungan harga minyak mentah dunia yang terus naik.

Saat ini harga minyak dunia sudah di atas US$50 per barel.

Penyebab kenaikan harga minyak dunia memang banyak.

Pertama, ketegangan di Timur Tengah yang merupakan produsen minyak terbesar.

Kedua, ketegangan di Semenanjung Korea dengan uji coba nuklir serta ancaman perang yang dilakukan Korea Utara.

Ketiga, badai besar yang berturut-turut menerjang Amerika Serikat serta Amerika Tengah.

Namun, kenaikan harga minyak dunia sebenarnya sudah diperkirakan sejak akhir tahun lalu.

Lembaga konsultan McKinsey sudah memprediksikan, pada semester II 2017, harga minyak dunia akan mencapai US$60 per barel.

Beban kenaikan harga minyak dunia ini sudah dirasakan PT Pertamina.

Keputusan pemerintah untuk juga tidak menaikkan harga bahan bakar minyak membuat Pertamina harus menanggung beban kerugian.

Sampai semester I 2017, subsidi yang harus dikeluarkan Pertamina untuk menjalankan tugas yang dimintakan pemerintah itu sudah memakan keuntungan perusahaan sampai US$1 miliar.

Pengamat ekonomi Faisal Basri sudah mengingatkan Presiden Joko Widodo tentang mahalnya kebijakan populis yang dijalankan pemerintah.

Padahal di awal pemerintahan, Jokowi sudah membuat langkah yang tepat dengan menaikkan harga BBM untuk memindahkan subsidi pemerintah dari yang konsumtif menjadi produktif.

Ternyata menjelang Pemilihan Umum 2019, Jokowi tidak tahan untuk kembali menerapkan kebijakan populis.

Demi kepentingan politik, Jokowi memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik, tanpa memperhatikan pergerakan harga minyak dunia.

Memang, beban subsidi kali ini tidak secara langsung ditanggung anggaran pendapatan dan belanja negara.

Akan tetapi, dengan memerintahkan BUMN menanggung beban biaya, sebenarnya pemerintah melakukan subsidi secara tidak langsung.

Dua BUMN energi, yaitu PLN dan Pertamina, kini merasakan akibat dari kebijakan populis tersebut.

Mereka harus kehilangan potensi untuk membuat kondisi keuangan yang lebih baik.

Pada satu titik mereka mungkin tidak sanggup lagi untuk menopang beban subsidi tidak langsung itu dan akibatnya mereka bisa merugi.

Ketika kerugian harus dihadapi BUMN tersebut, bukan hanya dividen kepada APBN yang tidak bisa disetorkan, melainkan juga kelangsungan usaha mereka akan terganggu.

Pada satu saat negara juga yang harus menutup kerugiannya dan beban itu akan kembali kepada APBN.

Itulah peringatan yang sebenarnya ingin disampaikan Menkeu.

Memang, belum tentu perusahaan seperti PLN akan merugi dan menghadapi masalah pada arus kas mereka.

Akan tetapi, kalau kewajiban mereka lebih besar daripada potensi penerimaan, potensi gagal bayar akan bisa terjadi.

Karena PLN dan Pertamina merupakan perusahaan yang strategis dan banyak investasi mereka dijamin negara, persoalan yang terjadi pada tingkat korporasi bisa berdampak pada keuangan negara.

Menteri BUMN sudah menjamin PLN melakukan investasi secara berhati-hati.

Dalam proyek 35 gigawatt, pembangkit yang dibiayai sendiri oleh PLN hanya sekitar 9.000 Mw, sisanya dilakukan swasta.

Namun, kita tidak boleh lupa bahwa penjualan listrik kepada masyarakat hanya boleh dilakukan PLN.

Akibatnya, listrik yang dihasilkan swasta semuanya harus diserap PLN untuk dijual kepada masyarakat.

Persoalannya, ketika tarif dasar listrik diputuskan untuk tidak naik, ruang yang dimiliki PLN untuk membuat kondisi keuangan mereka lebih sehat menjadi terbatas.

Padahal, dari banyaknya pembangkit milik PLN, bahan bakar yang dipergunakan sangat berkaitan dengan harga minyak dunia.

Ketika harga minyak dunia naik, beban biaya otomatis ikut naik, sedangkan penerimaan relatif tetap.

Pekerjaan rumah untuk menyelesaikan persoalan ini tentunya ada di tangan pemerintah.

Kita hanya mengingatkan kebijakan populis jangan mengabaikan kondisi ekonomi yang sebenarnya terjadi karena salah-salah persoalan akan balik mengena pada pemerintah sendiri.

Kedua, persoalan ini sebaiknya diselesaikan secara internal di dalam pemerintah.

Para menteri lebih baik duduk bersama membicarakan masalah ini, bukan saling mengirim surat dan disampaikan ke publik.

Kita khawatir kalau pemerintah ini berjalan sendiri-sendiri, kesannya menjadi tidak ada pemimpin yang mengendalikan jalannya pemerintahan.

Ironis!



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.