Pilpres Singapura

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
31/8/2017 05:31
Pilpres Singapura
(AP/Heiko Junge)

HARI ini, 31 Agustus 2017, berakhirlah masa jabatan Presiden Singapura Tony Tan Keng Yam. Sebelum presiden baru terpilih, akan ada pelaksana tugas presiden yang menurut konstitusi Singapura otomatis diisi ketua dewan penasihat presiden yang saat ini dijabat Joseph Yuvaraj Pillay. Paling lama dalam tiga pekan ini Singapura membuat sejarah baru dalam jabatan presiden.

Berdasarkan konstitusi yang baru, untuk pertama kali hak kaum minoritas dijamin pasti menjadi presiden. Kali ini kepastian itu untuk orang Melayu. Kata Perdana Menteri Lee Hsien Loong, "Kita adalah negara multirasial dan setiap warga negara harus tahu bahwa seseorang dari komunitasnya menjadi presiden, dan itu terjadi dari waktu ke waktu mewakili semua orang Singapura."

Bila capres lebih dari satu, pemilihan presiden yang semua capresnya orang Melayu itu berlangsung pada 23 September 2017. Sebanyak 2,5 juta lebih rakyat yang punya hak pilih, yang asal usulnya beraneka ragam itu (Tiongkok, India, Melayu, dan minoritas lainnya), semuanya memilih capres berasal dari satu puak saja, yaitu Melayu.

Akan tetapi, bila hanya satu orang Melayu yang lolos persyaratan menjadi capres, pada hari kerja setelah pendaftaran capres, ia langsung ditetapkan menjadi presiden Singapura. Pendaftaran capres dilakukan pada 13 September 2017. Itu berarti lebih cepat lagi, dalam dua pekan ini, tepatnya bila 14 September hari kerja, hari itu juga Singapura punya presiden baru hasil konstitusi baru.

Pertanyaannya, apakah ada kemungkinan capres tunggal alias hanya ada seorang Melayu yang memenuhi syarat? Sejauh ini ada tiga tokoh yang telah mendeklarasikan diri. Mereka ialah dua orang swasta, yaitu pengusaha Mohamed Salleh Marican dan pemimpin Bourbon Offshore Asia Pacific Farid Khan, serta Halimah Yacob yang telah malang melintang selaku anggota parlemen. Singapura dikenal sebagai negara yang teguh menganut prinsip meritokrasi.

Hal itu pun tecermin dalam salah satu syarat menjadi capres bahwa seorang swasta disyaratkan pernah tiga tahun memimpin perusahaan swasta dengan modal disetor $S500 juta atau senilai hampir Rp5 triliun. Perusahaan publik yang bergerak di bidang properti yang dipimpin Mohamed Salleh Marican, 67, dan perusahaan jasa di bidang kelautan yang dinakhodai Farid Khan, 61, diperkirakan tidak memenuhi persyaratan tersebut. Akibatnya hanya Halimah Yacob, 63, yang otomatis lolos.

Kenapa? Pemimpin kaum buruh itu berjam terbang sangat tinggi sebagai penyelenggara negara. Ia pernah menjadi menteri pembangunan masyarakat, pemuda, dan olahraga, serta selama 16 tahun sejak 2001 menjadi anggota parlemen dari dua daerah pemilihan.
Pada 7 Agustus lalu, ia mengundurkan diri selaku wakil rakyat untuk menjadi calon presiden. Sampai hari pendaftaran capres ditutup, pendukung Halimah kiranya belum boleh bergirang hati.

Tiga kandidat yang telah disebut itu ialah mereka yang telah menyatakan mencalonkan diri kepada publik. Patut ditengarai ada yang 'diam-diam' bergerak mempersiapkan diri. Bukankah masih ada waktu dan terbuka kemungkinan bagi tokoh Melayu lainnya sehingga tidak terjadi calon tunggal? Halimah meraih gelar LLM dari National University of Singapore (2001) dan pada 7 Juli 2016 ia mendapat doktor honoris causa di bidang hukum dari universitas yang sama.

Bila ia terpilih menjadi presiden, setelah 46 tahun Singapura kembali punya presiden orang Melayu. Sejarah baru lainnya pun terukir, seorang perempuan Melayu pertama kali menjadi presiden Singapura. Semua itu buah cemerlang perubahan konstitusi yang digagas PM Lee.

Isinya menjamin kepastian warga negara dari komunitas minoritas menjadi kepala negara, yaitu bila setelah lima kali pilpres ternyata tidak ada dari komunitas minoritas itu terpilih menjadi presiden. Kini dipastikan giliran orang Melayu, setelah Presiden Yusof bin Ishak meninggal pada 23 November 1970 karena serangan jantung.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima