Singa Vs Singa

Saur Hutabarat | Dewan Redaksi Media Group
23/2/2015 00:00
Singa Vs Singa
(ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)
KONFLIK singa (Polri) vs singa (KPK) berakhir mulus di permukaan berkat keputusan Presiden Jokowi yang membuat adem hati publik. Namun, persoalan mendasar dua singa tak selesai dengan sendirinya.

Singa pertama (Polri) tetap harus dibersihkan dari korupsi. Dalam persepsi publik, rekening gendut jenderal polisi tetaplah persoalan besar sekalipun status tersangka Komjen Budi Gunawan dipatahkan hakim Sarpin Rizaldi dalam sidang praperadilan di PN Jakarta Selatan.

Putusan itu bahkan menuai kontroversi. Persepsi terburuk ialah mencari jenderal polisi berekening jujur dan bersih sesulit mencari jarum di timbunan jerami. Sampai kapan?

Negara harus serius membereskan remunerasi dan dana operasional Polri. Seiring dengan itu, negara membersihkan Polri dari korupsi tanpa kompromi. Saatnya pula mengembalikan hak prerogatif presiden mengangkat Kapolri tanpa persetujuan DPR. Kapolri bawahan langsung presiden. Kapolri bukan jabatan political appointee, melainkan jenjang karier.

Singa kedua (KPK) dipercaya publik, dibela militan. Abraham Samad dan Bambang Widjojanto menjadi tersangka bukan karena penyalahgunaan wewenang selaku komisioner KPK, melainkan karena urusan personal Abraham (pemalsuan dokumen) dan urusan Bambang selaku advokat (kesaksian palsu).

Bila itu kelak terbukti di pengadilan, publik wajib melimpahkan sebagian dosa masa lalu itu kepada DPR yang berwenang melakukan fit & proper test terhadap calon pimpinan KPK, sebagian lagi publik sendiri wajib memikulnya karena membiarkan DPR kecolongan. Publik tidak ikut membuka rekam jejak sang calon.

Singa kedua harus juga diwanti-wanti ada cela KPK sewenang-wenang karena tak ada batas waktu seseorang menjadi tersangka. Dalam hal itu bisa terjadi penggerusan hak sipil seseorang.

Contoh, Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin dijadikan tersangka oleh KPK pada 7 Mei 2014, dicegah ke luar negeri sejak 9 Mei 2014. Sudah sembilan bulan lebih, tepatnya 293 hari, ia tak kunjung diadili. Sampai kapan?

Contoh lain, pada 22 Mei 2014 KPK menetapkan Menteri Agama Suryadharma Ali sebagai tersangka. Hingga hari ini pun belum dimejahijaukan. Sampai kapan?

Menumpuk tersangka, lelet mengadilinya, apakah baik bagi penegakan hukum? Tidakkah terjadi penyanderaan oleh KPK? Pertanyaan itu didasari undang-undang, yaitu di satu pihak KPK memiliki kewenangan menyadap untuk mendapatkan bukti, di lain pihak KPK tidak memiliki kewenangan untuk menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3).

Itu artinya KPK menjadikan tersangka karena memang telah punya bukti kuat. Agar tidak terjadi human error, KPK mestinya telah pula gelar perkara dan menetapkan tersangka berdasarkan keputusan pimpinan kolektif kolegial. Jadi, membawa tersangka ke pengadilan hanya urusan simpel. Kata tukang bangunan, tinggal finishing.

Yang terjadi finishing tak kunjung finish. Tersangka berkepanjangan. Padahal, kewenangan penuntutan melekat di KPK. Menggantung-gantung orang dalam status tersangka tanpa batas waktu potensial merusak kredibilitas KPK.

Padahal, negara perlu dua singa, bahkan tiga singa (Polri, KPK, jaksa) bersih luar-dalam, tepercaya. Bapak Presiden, masih panjang jalan ke sana. Karena itu, jangan berlama-lama buang waktu memandangi rusa cantik asal Nepal di Istana Bogor.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.