Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANGSA Iran baru saja memperingati 40 hari gugurnya Pemimpin Tertinggi, Ayatullah Khamenei. Di jalan dan bundaran kota, warga berkumpul dengan lilin, doa, dan bendera, dengan slogan perlawanan dan seruan untuk bangkit. Suasana emosional dan patriotik menggema di sudut-sudut kota.
Kehilangan orang nomor satu, gugurnya deretan pejabat tinggi militer, politik, ilmuwan, hingga warga sipil dalam perang melawan Israel dan Amerika Serikat, tidak membuat negara ini runtuh. Dalam kebersamaan inilah, justru sosok Ayatullah Khamenei terasa semakin hidup.
SHAHNAMEH: BUKU YANG TAK PERNAH TERTUTUP
Untuk memahami apa yang terjadi, kita perlu menggali perjalanan sejarah bangsa Persia. Ketahanan yang terlihat di jalan-jalan Teheran hari ini bukan sesuatu yang lahir hanya dari kebijakan tahunan atau ingar-bingar slogan belaka. Tetapi berakar pada sesuatu yang jauh lebih dalam: sebuah peradaban yang sebagian besar dibentuk oleh sastra. Banyak penyair dan penulis lahir dari tanah Persia, dari Ferdowsi, Hafez, Khayam, Saadi, hingga Rumi. Tradisi puisi ini terus diwariskan dengan berbagai genre dari sastra sufistik, romantis, hingga sastra kepahlawanan seperti Shahnameh
.Shahnameh karya Abu al-Qasim Ferdowsi merupakan salah satu karya heroik monumental abad ke-10 yang menempati posisi istimewa. Hampir semua penulis dan satrawan dunia memujinya, dari Goethe, Arnold, hingga Emerson. Jorge Luis Borges, penyair dan salah seorang tokoh paling berpengaruh dalam sastra modern, bahkan menganggap Shahnameh sebagai ‘memori kolektif’ yang membangun identitas budaya melalui motivasi dan narasi.
Karya epik klasik Persia ini tetap hidup dan diajarkan di sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Orang-orang Iran terus menjaganya melalui tradisi naghali khani, pembacaan cerita heroik di ruang publik, di kafe tradisional, di panggung teater, maupun dalam obrolan keluarga. Tentu ini bukan sekadar romantisme sejarah. Tetapi semacam warisan jiwa, reproduksi identitas yang terus berlanjut tanpa henti lintas generasi.
Shahnameh menyuguhkan nilai kolektif Persia di antaranya etika kesatria, javanmardi. Keberanian yang bukan sekadar tentang kekuatan fisik, tetapi kehormatan, kesetiaan, dan pengorbanan demi sesuatu yang lebih besar dari kepentingan pribadi. Karakter yang dibangun dalam kisah-kisah Shahnameh bukan pahlawan yang selalu menang, melainkan pengorbanan individu demi tanggung jawab kepada bangsa dan tanah airnya.
KISAH ARASH DAN KEBERANIAN MELAMPAUI DIRI
Kumpulan puisi dalam Shahnameh menampilkan banyak sosok heroik dari Rustam, Sohrab, Esfandiar, hingga Arash. Cerita-cerita yang mungkin tidak berakhir bahagia, tetapi menyentuh sudut terdalam kemanusiaan. Misalnya, kisah Arash sang pemanah, ketika Persia terlibat dalam konflik panjang dengan Turan. Arash bukan raja maupun komandan besar, tapi hanya seorang pemanah yang dikenal ketepatan dan keberaniannya. Arash dikenang karena satu pilihan sadar, mengorbankan hidup demi bangsa dan tanah airnya. Kini, patung Arash yang berdiri tegar di bundaran Vanak, di pusat Kota Teheran, seolah ingin menghidupkan kembali jiwa kesatrianya.
MEMBACA AKAR KETAHANAN DENGAN CLA: DARI LITANI KE MITOS
Berbagai analisis mengenai perang Amerika dan Israel melawan Iran sebagian besar tidak mengungkap lapisan akar budaya ketahanan Iran. Dengan meminjam kerangka studi masa depan causal layered analysis (CLA), tulisan ini menawarkan cara untuk memahami lapisan-lapisan makna dalam menggali akar budaya ketahanan Iran.
Pada lapisan permukaan atau litani, kita melihat apa yang tampak seperti serangan bom, korban berjatuhan, kematian pemimpin, dan masyarakat yang berkumpul di jalan-jalan. Tetapi ketika kita bergerak ke lapisan kedua pada pola sistemik, ada tatanan yang membuat orang-orang berkumpul di jalanan setiap malam, terlibat dalam ritual publik yang terorganisasi, serta saling menguatkan dalam kesedihan. Ini penanda bahwa tatanan jaringan sosial tetap terjalin dengan baik dan terus berjalan. Rasa solidaritas yang tidak mudah hancur oleh tekanan dari luar terlihat begitu kuat.
Pada lapisan ketiga, pandangan dunia mencerminkan bahwa penderitaan dan pengorbanan merupakan bagian dari proses yang bermakna secara historis. Kematian seorang pemimpin bukan akhir perjuangan, bahkan menjadi amunisi perpanjangan dari cerita perjuangan. Krisis bukanlah kehancuran dan kekalahan, melainkan bisa menjadi momen pembuktian.
Pada lapisan keempat yang terdalam, yakni mitologi, menunjukkan peran sentral ide kolektif dari sastra kepahlawanan Persia sebagai akar ketahanan. Kisah-kisah Shahnameh bukan hanya warisan masa lalu yang dilestarikan, melainkan bangunan imajinasi kolektif yang lebih besar tentang identitas bangsa. Arash bukan hanya legenda, melainkan lentera jiwa bangsa yang terus dihidupkan dari generasi ke generasi.
Melalui lensa CLA, kita melihat mengapa ketiadaan seorang pemimpin tidak menyurutkan semangat perjuangan. Sebab, yang menopang masyarakat bukanlah individu, melainkan memori kolektif yang lahir dari mitos umum yang ditanamkan jauh sebelum ia lahir. Mitos tersebut terus direproduksi mengambil interpretasi baru dalam setiap krisis.
Apa yang dimiliki Persia melalui Shahnameh, kita juga memiliki kisah-kisah itu seperti Gajah Mada, tetapi tidak melestarikan nilai aktualnya. Kisah-kisah kepahlawanan nasional perlu dihidupkan dalam imajinasi kolektif sehari-hari, menjadi bagian dari sinema, karya seni, dan lainnya. Inilah tantangan sejati bagi bangsa-bangsa yang ingin mengembangkan ketahanan nasional sebagai tulang punggung kolektif yang tidak mungkin dipatahkan oleh badai apa pun.
Membaca Iran hari ini di tengah jeda perang dan eskalasi ketegangan, sebenarnya adalah membaca kekuatan makna kata yang telah diwariskan dari generasi ke generasi selama lebih dari seribu tahun.
Sebuah negara yang dibesarkan oleh imajinasi kolektif bangsanya tidak mudah kehilangan jati diri, bahkan ketika segalanya tampak porak-poranda. Karena, selama kisah-kisah masih diceritakan, sejarah bangsa tersebut belum selesai.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved