Elpiji 12 Kilogram Langka, Harga Tembus Rp380 Ribu

Palce Amalo
11/4/2026 09:05
Elpiji 12 Kilogram Langka, Harga Tembus Rp380 Ribu
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma melakukan sidak harga bahan kebutuhan pokok di Kupang, Jumat (10/4)(MI/PALCE AMALO)

WAKIL Gubernur Nusa Tenggara Timur, (NTT) Johni Asadoma, melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga kebutuhan pokok di Hypermart, Bundaran PU, dan MTM Mart Jalan Frans Lebu Raya, Jumat (10/4).

Sidak ini dilakukan untuk memastikan dampak gejolak ekonomi global terhadap ketersediaan dan harga pangan di daerah.

Kepada wartawan, Wagub Johni menyebutkan secara umum harga sembako di NTT masih relatif stabil, meski terdapat kenaikan pada sejumlah komoditas. “Kita cek langsung di beberapa supermarket untuk melihat kenaikan harga sembako akibat dampak ekonomi global. Sementara ini masih stabil, meskipun ada kenaikan sedikit,” ujarnya.

Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan adalah minyak goreng, dengan lonjakan harga sekitar Rp4.000 per liter. Sementara itu, beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih kosong karena belum ada pasokan baru dari luar daerah, khususnya dari Pulau Jawa.

“Minyak goreng ada kenaikan sekitar Rp4.000 per liter. Kemudian beras SPHP masih kosong, belum ada dropping dari Jawa,” jelasnya.

Sedap harga ayam potong terpantau masih stabil dan berada pada kisaran normal. Secara keseluruhan, kenaikan harga dinilai belum signifikan dan diharapkan dapat kembali turun seiring membaiknya pasokan. “Kenaikan ini karena kelangkaan. Kalau suplai dari produsen sudah kembali normal, harga pasti akan turun,” tambahnya.

Elpiji 12 Kg Kosong, Harga Melonjak

Temuan mencolok justru terjadi di MTM Mart, di mana stok gas elpiji 12 kg dilaporkan habis dan belum tersedia kembali.

Dari keterangan petugas toko, dalam kurun waktu sekitar dua minggu terakhir terjadi kenaikan harga elpiji 12 kg di pasaran, yakni berkisar antara Rp350.000 hingga Rp380.000 per tabung.

Meski demikian, MTM Mart tetap mempertahankan harga jual Rp285.000 per tabung sebagai bentuk komitmen menjaga stabilitas harga bagi masyarakat.

Kelangkaan dan kenaikan harga elpiji diduga dipicu meningkatnya permintaan untuk kebutuhan operasional program Makanan Bergizi Gratis (MBG), yang berdampak pada berkurangnya pasokan bagi konsumen rumah tangga.

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Gubernur Johni Asadoma mengimbau agar operasional MBG menggunakan elpiji ukuran 50 kg untuk memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar. Langkah ini diharapkan dapat menjaga ketersediaan elpiji 12 kg bagi masyarakat, khususnya rumah tangga.

Ketergantungan Pasokan Luar Masih Tinggi

Di sisi lain, Wagub Johni juga menyoroti tingginya ketergantungan NTT terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Saat ini sekitar 80 persen kebutuhan pangan masih didatangkan dari luar, sementara produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 20 persen.

“Daging, telur, sayur-mayur, hingga beras masih banyak didatangkan dari luar. Ini yang membuat kita rentan terhadap kenaikan harga,” ungkapnya.

Ia menegaskan pentingnya penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah guna mengurangi ketergantungan tersebut.
“Kalau kita punya produksi sendiri yang kuat, kita tidak tergantung pada pasokan luar. Produk lokal pasti lebih murah karena tidak ada biaya transportasi dan selalu tersedia,” tegasnya.

Menurutnya, dinamika global seperti perang Rusia-Ukraina hingga ketegangan di Timur Tengah turut memengaruhi distribusi dan harga pangan. Karena itu, kemandirian pangan menjadi kunci agar daerah tidak terdampak signifikan oleh situasi eksternal.

“Kalau kita bisa menekan ketergantungan dari 80 persen menjadi 20 persen, maka kondisi ekonomi kita akan jauh lebih kuat,” ujarnya. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya